Mengkaji Surat Al Hijr Ayat 66

Surat Al Hijr, surat ke-15 dalam urutan mushaf, adalah salah satu surat Makkiyah yang kaya akan pelajaran penting mengenai keesaan Allah SWT, kisah para nabi terdahulu, dan peringatan bagi mereka yang mendustakan ayat-ayat-Nya. Salah satu ayat yang menyoroti konsekuensi dari perbuatan buruk adalah ayat ke-66.

Ilustrasi Konsekuensi dan Pintu Sebuah visual abstrak yang menggambarkan pintu yang tertutup atau sebuah penghalang, melambangkan konsekuensi dari tindakan yang dilarang. Tutupnya Peluang

Teks dan Terjemahan Surat Al Hijr Ayat 66

Ayat ini merupakan bagian dari rangkaian kisah Nabi Luth (Lot) AS ketika kaumnya menolak peringatan dan tetap meneruskan perbuatan keji mereka.

وَعَدْنَاهُمْ أَنَّهُمْ مُصْبِحُونَ
Artinya: "Dan Kami telah janjikan kepada mereka (hukuman) bahwa mereka akan dibinasakan pada pagi hari."

Konteks Historis dan Peringatan

Ayat 66 Al Hijr harus dipahami dalam konteks ayat-ayat sebelumnya (Ayat 65) yang menjelaskan bahwa Nabi Luth AS telah memperingatkan keluarganya dan orang-orang yang beriman untuk segera meninggalkan kaumnya yang durhaka, kecuali istrinya. Janji yang disebutkan dalam ayat 66 ini adalah janji azab ilahi yang akan segera datang kepada kaum yang ingkar tersebut.

Dalam ayat sebelumnya (Al Hijr: 65), Allah berfirman, "Kecuali istrimu, sesungguhnya Kami telah menetapkan (adzab) baginya termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama kaumnya)." Kemudian, kelanjutan dari ancaman tersebut ditegaskan dalam ayat 66, "Dan Kami telah janjikan kepada mereka (hukuman) bahwa mereka akan dibinasakan pada pagi hari."

Ketepatan Waktu Azab

Penegasan waktu azab ("pagi hari") menunjukkan kepastian dan kedekatan hukuman Allah. Bagi kaum Nabi Luth, fajar yang seharusnya membawa harapan dan kehidupan baru, justru membawa kehancuran total. Pagi hari menjadi penanda berakhirnya masa tenggang yang diberikan Allah SWT kepada mereka. Ini adalah sebuah pelajaran universal bahwa ketika batas kesabaran dan peringatan telah terlampaui, azab akan datang dengan ketepatan waktu yang telah ditentukan oleh Sang Pencipta.

Pelajaran Penting dari Ayat 66

  1. Konsekuensi Keingkaran: Ayat ini secara tegas menunjukkan bahwa setiap tindakan mendustakan kebenaran dan melanggar batas-batas syariat pasti memiliki konsekuensi. Bagi kaum Nabi Luth, konsekuensinya adalah pembinasaan.
  2. Kesesuaian Azab dan Dosa: Azab yang menimpa kaum Nabi Luth terkait erat dengan dosa terbesar mereka, yaitu perbuatan keji (liwat). Allah menghukum sesuai dengan jenis pelanggaran yang dilakukan.
  3. Keimanan dan Keselamatan: Meskipun ancaman hukuman sangat mengerikan, ayat-ayat sebelum dan sesudahnya menekankan bahwa keselamatan hanya bagi mereka yang beriman dan taat mengikuti ajaran para Nabi. Keberpihakan kepada wahyu adalah jaminan keselamatan dari murka Allah.
  4. Ketentuan Ilahi yang Pasti: Kata "Kami telah janjikan" (Wa'adnāhum) menunjukkan bahwa janji Allah, baik berupa pahala maupun hukuman, adalah sesuatu yang pasti terjadi. Tidak ada keraguan sedikit pun dalam ketetapan-Nya.

Dampak pada Masyarakat yang Durhaka

Kisah kaum Nabi Luth adalah cerminan abadi tentang bagaimana sebuah masyarakat bisa runtuh ketika norma moral dan spiritual sepenuhnya diabaikan. Mereka menolak seruan untuk kembali kepada fitrah kemanusiaan yang lurus. Janji pembinasaan di pagi hari bukanlah sekadar ancaman retoris, melainkan sebuah intervensi ilahi untuk membersihkan bumi dari kerusakan moral yang masif.

Dalam konteks yang lebih luas, Al Hijr ayat 66 mengajarkan kepada umat Islam untuk tidak menunda-nunda pertobatan. Jika peringatan keras telah datang, itu adalah sinyal bahwa masa toleransi sudah hampir habis. Memahami ayat ini berarti memahami bahwa keadilan Allah berlaku mutlak, baik di dunia maupun di akhirat.

Ayat ini menjadi pengingat bagi setiap generasi bahwa meskipun Allah Maha Pengampun, Dia juga Maha Tegas dalam memberikan hukuman kepada mereka yang dengan sengaja menantang hukum-Nya setelah menerima penjelasan yang terang benderang. Pagi hari bagi kaum Luth adalah akhir, sementara bagi orang beriman, pagi hari adalah awal dari hari baru yang penuh berkah, asalkan mereka tetap teguh dalam ketaatan.

🏠 Homepage