(Ilustrasi representatif tentang peristiwa kaum Nabi Luth)
Teks dan Terjemahan Surat Al-Hijr Ayat 61
إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِّنَ الْعَالَمِينَ
"Ingatlah ketika ia (Luth) berkata kepada kaumnya, 'Sesungguhnya kamu mendatangi perbuatan keji, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun dari umat manusia sebelummu.'"
Konteks Ayat: Seruan Nabi Luth
Surat Al-Hijr, ayat ke-61, merupakan bagian penting dari kisah Nabi Luth AS dan kaumnya yang terkenal dengan penyimpangan moral yang luar biasa. Ayat ini secara spesifik menyoroti momen ketika Nabi Luth, dengan keberanian dan keimanan yang teguh, menegur kaumnya atas perbuatan keji yang mereka lakukan. Perbuatan yang dimaksud adalah praktik homoseksualitas secara terang-terangan, sebuah penyimpangan yang pada masa itu belum pernah terjadi di antara umat-umat sebelumnya yang telah dimusnahkan Allah SWT.
Nabi Luth diutus oleh Allah untuk membimbing kaum Sadum (Sodom) dan Amurah (Gomorrah) yang hidup di lembah Yordan. Kaumnya telah jatuh ke dalam perbuatan maksiat yang sangat melanggar batas fitrah manusia dan ajaran ilahi. Teguran Nabi Luth bukan sekadar nasihat biasa, melainkan sebuah peringatan keras yang didasari oleh wahyu. Beliau menekankan bahwa apa yang mereka lakukan adalah fāḥisyah (perbuatan keji/dosa besar), dan keunikan dosa mereka terletak pada belum pernah adanya umat terdahulu yang melakukan hal serupa. Hal ini menunjukkan betapa ekstrem dan di luar batasnya penyimpangan moral kaum tersebut.
Makna "Belum Pernah Ada Umat Manusia Sebelumnya"
Penegasan bahwa perbuatan tersebut belum pernah dilakukan umat sebelumnya memiliki implikasi yang mendalam. Pertama, hal ini menunjukkan betapa jahatnya dosa tersebut, hingga tidak ada contohnya dalam catatan sejarah kenabian sebelumnya. Ketika Allah mengirimkan rasul, biasanya ada indikasi bahwa perbuatan kaum tersebut sudah mendekati puncak kebobrokan. Kaum Nabi Luth melampaui batas tersebut.
Kedua, ayat ini menjadi landasan bagi prinsip bahwa penyimpangan seksual yang bertentangan dengan fitrah dan ajaran agama adalah dosa yang sangat serius. Kaum Nabi Luth tidak hanya melakukan maksiat, tetapi mereka melakukannya secara terbuka dan tanpa rasa malu. Nabi Luth berusaha keras mengingatkan mereka bahwa cara hidup mereka sangat menyimpang dari jalur lurus yang telah ditetapkan oleh Allah bagi seluruh umat manusia sejak Nabi Adam diciptakan.
Pelajaran Moral dari Kisah Kaum Luth
Kisah kaum Nabi Luth, yang diabadikan dalam Al-Qur'an termasuk dalam Surat Al-Hijr ayat 61, memberikan pelajaran moral yang sangat relevan hingga kini. Penolakan Nabi Luth terhadap kemungkaran yang dilakukan kaumnya adalah cerminan dari kewajiban seorang mukmin untuk melakukan amar ma'ruf nahi munkar (menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran). Meskipun menghadapi penolakan keras dan ancaman, Nabi Luth tetap teguh menyampaikan risalah.
Ayat ini juga mengingatkan kita bahwa penyimpangan moral yang sistematis dan masif dapat mengundang azab ilahi yang pedih. Kehancuran kaum Luth yang digambarkan dalam ayat-ayat lain (di mana kota mereka dibalik) adalah konsekuensi logis dari penolakan mereka terhadap kebenaran dan kerasnya pendirian mereka dalam melakukan dosa yang belum pernah ada sebelumnya.
Oleh karena itu, Surat Al-Hijr ayat 61 berfungsi sebagai pengingat abadi akan pentingnya menjaga kesucian fitrah manusia, menolak segala bentuk kemaksiatan yang melampaui batas, dan mengikuti petunjuk yang dibawa oleh para nabi sebagai utusan Allah. Ketegasan Nabi Luth dalam menegur kaumnya adalah teladan bagi setiap dai dan muslim dalam menghadapi penyimpangan sosial yang merusak tatanan kemanusiaan.