Surat Al-Hijr adalah surat ke-15 dalam urutan mushaf Al-Qur'an. Surat ini terdiri dari 99 ayat dan termasuk dalam golongan Makkiyah, yang berarti diturunkan sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah. Nama "Al-Hijr" diambil dari ayat 80 yang menceritakan tentang kaum Tsamud yang mendustakan nabi mereka dan dihukum dengan dihancurkannya rumah-rumah mereka yang dipahat pada batu karang.
Secara umum, Surat Al-Hijr sarat dengan pesan-pesan keesaan Allah, kebesaran ciptaan-Nya, peringatan bagi pendusta ayat-ayat Allah, serta kisah-kisah para nabi terdahulu seperti Nabi Ibrahim, Nabi Luth, dan kaum Tsamud. Surat ini juga mengandung janji bagi orang-orang yang bertakwa.
Surat Al-Hijr menekankan beberapa prinsip fundamental dalam Islam. Salah satu pesan utamanya adalah pentingnya tawakal dan kesabaran, sebagaimana disinggung dalam ayat 98. Ketika menghadapi tantangan atau penolakan dari kaum yang ingkar, Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk bersabar karena janji Allah pasti akan ditepati, baik melalui balasan di dunia maupun perhitungan di akhirat.
Selain itu, surat ini juga menyoroti keagungan penciptaan. Allah menciptakan manusia dari bahan yang paling sederhana (tanah liat kering), namun kemudian meniupkan ruh ke dalamnya, menjadikannya makhluk yang mulia dan berakal. Hal ini berfungsi sebagai pengingat bahwa meskipun manusia berasal dari debu, kemuliaannya terletak pada hubungan spiritualnya dengan Sang Pencipta.
Kisah kaum Nabi Shalih (kaum Tsamud) yang diabadikan dalam surat ini (ayat 80-84) menjadi peringatan keras tentang konsekuensi mendustakan ajaran tauhid dan merusak tatanan alam. Mereka diselamatkan karena perjanjian dengan Nabi Ibrahim, namun hukuman menanti mereka karena kesombongan dan penolakan mereka terhadap bukti-bukti kebesaran Allah, termasuk mukjizat unta betina yang mereka sembelih.
Surat ini juga memuat janji perlindungan bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa. Bagi mereka yang teguh memegang ajaran Allah, disediakan balasan yang amat mulia, sebagaimana ditegaskan dalam ayat tentang 'kemenangan yang nyata'. Al-Hijr mengajak setiap muslim untuk memikirkan hari pembalasan dan bagaimana mereka mempersiapkan diri untuk kembali kepada Allah dengan bekal amal saleh.
Sebagai penutup, Surat Al-Hijr memperkuat keyakinan bahwa Al-Qur'an adalah wahyu yang dijaga kemurniannya oleh Allah SWT, meskipun manusia mungkin berbeda pendapat atau meragukannya. Kesempurnaan dan kebenaran janji Allah adalah kepastian yang harus dipegang teguh oleh setiap mukmin.