Pelajaran tentang Kepemimpinan, Kedudukan, dan Janji Ilahi
Simbolisasi Arah Kebenaran dan Kedudukan
Dan katakanlah, “Ya Tuhanku, masukkanlah aku ke tempat masuk yang benar, dan keluarkanlah aku ke tempat keluar yang benar, dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu **sultan (kekuasaan) yang menolong**.”
Ayat 80 ini merupakan doa yang diajarkan oleh Allah kepada Rasulullah Muhammad SAW, khususnya berkaitan dengan peristiwa Hijrah dari Mekkah ke Madinah. Doa ini memiliki cakupan makna yang sangat luas, melampaui sekadar perjalanan fisik. Permintaan untuk "tempat masuk yang benar" (mudkhal sidqin) menyiratkan keridhaan Allah, keamanan, dan keberkahan. Begitu pula, "tempat keluar yang benar" (mukhraj sidqin) bukan hanya sekadar keluar dari ancaman, tetapi juga keluar dalam keadaan sukses, selamat, dan meraih tujuan mulia.
Puncak dari permintaan ini adalah permohonan akan "sultan yang menolong" (sultanan nashira). Dalam konteks kenabian, "sultan" di sini diinterpretasikan sebagai otoritas, bukti yang jelas, kekuatan pembelaan, dan pertolongan langsung dari Allah untuk menegakkan kebenaran. Ini menunjukkan bahwa kepemimpinan yang sejati tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik, tetapi harus didukung oleh legitimasi ilahiah dan pertolongan yang nyata dari Tuhan.
Dan katakanlah, “Kebenaran telah datang, dan kebatilan telah lenyap. Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap.”
Ayat 81 menegaskan hukum kosmis dan historis: kebenaran (al-haqq) selalu menang atas kebatilan (al-batil). Ayat ini sering dihubungkan dengan penaklukan Mekkah, di mana simbol-simbol kesyirikan dihancurkan. Namun, pesan ini berlaku universal. Setiap upaya untuk membangun peradaban atau keyakinan di atas pondasi yang salah akan runtuh. Kebatilan bersifat sementara, ia memang diciptakan untuk lenyap ketika dihadapkan pada manifestasi kebenaran yang hakiki. Ini memberikan ketenangan dan optimisme bagi para pengikut kebenaran, meyakinkan mereka bahwa perjuangan mereka pada akhirnya tidak akan sia-sia.
Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang ia menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman; dan Al-Qur’an tidak menambah kerugian bagi orang-orang yang zalim kecuali bertambahnya kerugian mereka.
Al-Qur'an diperkenalkan sebagai sumber dualitas efek. Bagi orang yang beriman, ia adalah syifa' (penyembuh) dari penyakit hati, keraguan, dan kegelisahan spiritual, serta rahmat (kasih sayang) yang membimbing menuju jalan terbaik. Namun, bagi orang-orang yang zalim dan menolaknya dengan congkak, Al-Qur'an justru berfungsi sebagai alat yang mempercepat kehancuran mereka sendiri, karena semakin jelasnya hujjah (bukti) yang mereka tolak. Ayat ini menekankan bahwa Al-Qur'an netral secara inheren; dampaknya bergantung pada penerimaan dan niat pembacanya.
Dan apabila Kami berikan nikmat kepada manusia, dia berpaling dan menyombongkan diri; dan apabila dia ditimpa bencana, dia berputus asa.
Ayat terakhir dalam rangkaian ini menjelaskan sifat bawaan manusia yang kontradiktif dan lemah. Ketika diberi kelapangan rezeki, kesehatan, atau kekuasaan (nikmat), manusia cenderung lupa diri, berpaling dari bersyukur, dan menjadi angkuh. Sebaliknya, ketika diuji dengan kesulitan atau musibah (syarr), sifat lemahnya muncul, membuatnya mudah jatuh ke dalam keputusasaan (ya'usa) dan melupakan segala kebaikan yang pernah ia miliki sebelumnya. Sifat dualisme inilah yang membuat doa pada ayat 80 menjadi sangat krusial—ia meminta ketetapan hati agar tidak terombang-ambing oleh pasang surut duniawi.