Surat Al-Insyirah, yang juga dikenal sebagai Asy-Syarh (kelapangan), adalah salah satu surat pendek di Juz Amma yang membawa pesan penghiburan dan optimisme luar biasa dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, khususnya dalam menghadapi kesulitan dakwah. Meskipun surat ini terdiri dari delapan ayat, fokus pada **Surat Al-Insyirah ayat 23 dan 24** (perlu diklarifikasi, karena Surat Al-Insyirah hanya terdiri dari 8 ayat, namun kita akan mengasumsikan maksudnya adalah **dua ayat terakhir**, yaitu ayat 7 dan 8, karena secara konteks inilah bagian penutup yang paling relevan) memberikan penutup yang kuat tentang janji Allah.
Konteks Ayat Penutup (Ayat 7 dan 8)
Jika yang dimaksud adalah dua ayat penutup dari Surat Al-Insyirah (yang kebetulan merupakan ayat 7 dan 8), maka maknanya menjadi sangat fundamental dalam kehidupan seorang Muslim yang sedang berjuang. Ayat-ayat tersebut berbunyi:
Ayat 8: "Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan."
Pengulangan janji ini bukanlah pengulangan tanpa makna. Dalam Retorika Arab klasik, pengulangan (ta'kid) berfungsi untuk memberikan penekanan yang sangat kuat. Allah mengulang janji ini dua kali, menegaskan bahwa kemudahan itu pasti akan datang menyertai kesulitan yang sedang dialami.
Mengapa Pengulangan Begitu Penting?
Ketika seseorang berada di puncak tekanan, baik itu tekanan emosional, finansial, atau dakwah, pikiran seringkali didominasi oleh kegelapan masalah yang ada. Dalam kondisi terdesak, satu janji mungkin terasa hampa. Oleh karena itu, Allah SWT memperkuat pesan ini dengan pengulangan dua kali lipat.
Ayat ini mengajarkan prinsip fundamental dalam Islam: Tawhidul Af'al, yaitu keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak dan pengaturan Allah. Kesulitan bukanlah hukuman permanen, melainkan bagian dari proses penyucian diri dan peningkatan derajat.
Bayangkan seorang Nabi yang dihina dan diuji dengan penolakan kaumnya, seperti yang dialami Rasulullah SAW. Pada saat-saat seperti itu, bisikan syaitan tentang keputusasaan sangatlah kuat. Pengulangan ayat ini berfungsi sebagai benteng spiritual, mengingatkan bahwa di balik setiap pintu kesusahan, telah disiapkan kunci kemudahan oleh Sang Maha Pencipta.
Hubungan Kesulitan dan Kemudahan
Kata kunci dalam ayat ini adalah huruf 'Ma' (bersama) yang diterjemahkan menjadi 'sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan'. Bahasa Arab menggunakan preposisi 'ma' yang menyiratkan kedekatan dan kebersamaan—bukan 'setelah' kesulitan, tetapi 'bersamaan' dengannya. Ini berarti kemudahan itu bukan hanya janji di masa depan, melainkan sudah ada, melekat erat pada kesulitan itu sendiri.
Kita tidak perlu menunggu kesulitan berakhir total untuk merasakan kelegaan. Sedikit demi sedikit, langkah demi langkah, bantuan dan jalan keluar mulai terkuak saat kita tetap teguh berusaha dan bersabar. Ini adalah perspektif optimisme yang ditanamkan Al-Qur'an dalam jiwa umatnya.
Jika seseorang menghadapi kegagalan bisnis, janji ini memberitahu bahwa di dalam kegagalan itu ada pelajaran (kemudahan belajar) yang tidak akan pernah ia dapatkan jika ia sukses terus-menerus. Jika ia menghadapi penyakit parah, di dalamnya ada kesempatan untuk bertaubat dan mendekatkan diri pada Allah (kemudahan spiritual).
Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari
Mengingat dan merenungkan **Surat Al-Insyirah ayat 7 dan 8** (sebagai ayat penutup yang dimaksud) memberikan beberapa manfaat praktis:
- Mengurangi Stres: Mengetahui bahwa masalah bersifat sementara dan selalu ditemani solusi mengurangi beban psikologis.
- Meningkatkan Ketahanan (Resilience): Ayat ini menjadi bahan bakar untuk terus maju tanpa patah semangat, karena akhir yang baik sudah dijamin oleh Allah.
- Mendorong Tawakkal: Setelah berusaha sekuat tenaga, kita kembali berserah diri, yakin bahwa Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya sia-sia.
Inti dari ajaran Al-Insyirah, khususnya pada penutupnya, adalah pesan abadi bahwa Allah tidak akan pernah membebani seseorang melampaui batas kemampuannya, dan setelah setiap ujian berat, kelapangan hati dan jalan keluar pasti akan terbentang luas.