سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
(1) Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidilharam ke MasjidilAqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
وَآتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِّبَنِي إِسْرَائِيلَ أَلَّا تَتَّخِذُوا مِن دُونِي وَكِيلًا
(2) Dan Kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan Kami jadikan Kitab itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): "Janganlah kamu mengambil pelindung selain Aku."
ذُرِّيَّةَ مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ ۚ إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا
(3) (Dialah) keturunan dari orang-orang yang Kami bawa bersama menaiki (bahtera) bersama Nuh. Sesungguhnya dia (Nuh) adalah seorang hamba yang sangat bersyukur.
وَقَضَيْنَا إِلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ فِي الْكِتَابِ لَتُفْسِدُنَّ فِي الْأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرًا
(4) Dan telah Kami tetapkan kepada Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya kamu pasti akan membuat kerusakan di bumi ini sebanyak dua kali dan pasti kamu akan melampaui batas dengan kesombongan yang besar."
فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ أُولَاهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَّنَا أُولِي بَأْسٍ شَدِيدٍ فَجَاسُوا خِلَالَ الدِّيَارِ ۚ وَكَانَ وَعْدًا مَّفْعُولًا
(5) Maka apabila datang saatnya hukuman bagi yang pertama dari kedua (masa kerusakan itu), Kami datangkan kepada kamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung; dan itulah janji yang pasti terlaksana.
Surat Al-Isra', yang juga dikenal sebagai Bani Israil, dibuka dengan salah satu mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW: perjalanan malam (Isra') dari Masjidilharam di Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem.
Ayat pertama ini adalah inti dari peristiwa Isra. Kata "Subhanallah" (Mahasuci Allah) menunjukkan betapa luar biasanya kejadian ini, yang melampaui logika alam biasa. Perjalanan ini dilakukan pada malam hari, menunjukkan keistimewaan dan rahasia Ilahi. Tujuan utama perjalanan ini, selain menegaskan status kenabian Muhammad, adalah agar beliau diperlihatkan sebagian dari "ayat-ayat" (tanda-tanda kebesaran) Allah, sebelum kemudian dilanjutkan dengan Mi'raj ke langit.
Setelah menyinggung mukjizat Rasulullah, Allah mengingatkan Bani Israil tentang karunia besar yang telah diberikan kepada leluhur mereka, yaitu Nabi Musa AS, berupa Kitab Taurat. Ayat 2 secara tegas mengingatkan mereka untuk tidak mencari pelindung selain Allah. Ayat 3 kemudian mengaitkan mereka dengan Nabi Nuh AS, menyebut mereka sebagai keturunan orang-orang yang diselamatkan bersama Nuh, sekaligus memuji Nuh sebagai hamba yang sangat bersyukur, sebuah teladan yang seharusnya mereka ikuti.
Ayat 4 mengandung peringatan keras yang diturunkan melalui Kitab (Taurat) kepada Bani Israil. Allah memberitahukan bahwa mereka akan melakukan dua kali kerusakan besar di muka bumi dan akan jatuh dalam kesombongan (keangkuhan) yang luar biasa. Peringatan ini adalah ramalan kenabian yang kemudian terbukti secara historis melalui dua kali kehancuran besar (penghancuran Baitul Maqdis dan penjarahan oleh bangsa lain).
Ayat 5 menjelaskan konsekuensi dari peringatan tersebut. Ketika kerusakan pertama terjadi, Allah akan mengirimkan pasukan yang sangat kuat ("hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan besar") untuk menghukum mereka. Pasukan ini akan "merajalela di kampung-kampung," menyebarkan ketakutan dan kehancuran, menegaskan bahwa janji Allah pasti akan terlaksana, baik dalam bentuk rahmat maupun hukuman.
Secara keseluruhan, lima ayat pembuka Surat Al-Isra ini berfungsi sebagai landasan teologis yang mengagungkan kekuasaan Allah melalui mukjizat Isra, mengingatkan tanggung jawab pewaris kitab suci, dan memberikan peringatan tegas mengenai dampak dari pembangkangan dan kesombongan.