Dalam lembaran-lembaran suci Al-Qur'an, terkandung petunjuk-petunjuk abadi bagi umat manusia. Salah satu ayat yang sering direnungkan oleh para ahli tafsir karena mengandung makna kerendahan hati dan dampak transformatifnya adalah Surat Al-Isra ayat 109. Ayat ini, yang sering dibaca sebagai penutup sebuah sesi tilawah panjang, memberikan klimaks spiritual yang mendalam.
Ayat ini secara langsung berbicara mengenai reaksi orang-orang yang mendengarkan firman Allah, menekankan pada sikap takzim dan rasa takut yang membangkitkan kesadaran spiritual mereka.
Ayat ini merupakan kesimpulan dari serangkaian ayat sebelumnya yang menjelaskan keagungan Al-Qur'an dan kebenaran risalah Nabi Muhammad ﷺ. Kata kunci dalam ayat ini adalah "yakhirrūna lil-adzqān" (menyungkurkan diri dengan wajah/dahi) dan "khushū’an" (kekhusyukan).
Tindakan "menyungkurkan diri" (sujud) adalah ekspresi fisik tertinggi dari penyerahan diri total kepada Sang Pencipta. Dalam konteks ayat ini, sujud tersebut disertai dengan air mata ("yabkūna"). Tangisan ini bukanlah tangisan kesedihan duniawi, melainkan tangisan kesadaran spiritual—tangisan karena menyadari kebenaran mutlak yang disaksikan oleh ayat-ayat Allah, tangisan penyesalan atas kelalaian, dan tangisan syukur atas petunjuk yang diterima.
Fenomena ini menunjukkan bahwa ketika hati telah terketuk oleh kebenaran yang murni, reaksi pertama adalah pelepasan emosi yang jujur. Al-Qur'an bukan sekadar teks yang dibaca, melainkan sebuah Firman yang memiliki kekuatan untuk mengubah kondisi batin pembacanya. Surat Al-Isra ayat 109 menegaskan bahwa kedalaman Al-Qur'an mampu menembus lapisan logika dan langsung menyentuh qalb (hati).
Bagian terakhir ayat, "wa yazīdūhum khushū’an" (dan bertambah pula kekhusyu’an mereka), sangat signifikan. Ini mengindikasikan bahwa interaksi dengan Al-Qur'an bukanlah proses sekali jadi. Setiap kali seseorang kembali merenungkan dan mendengarkan ayat-ayat Allah, tingkat kekhusyukan dan ketundukannya seharusnya semakin meningkat. Ini adalah siklus positif: semakin dalam seseorang mendalami firman, semakin besar pula rasa takut dan cinta yang ditimbulkannya, yang kemudian mewujud dalam ibadah yang lebih baik.
Kekhusyukan yang dimaksud di sini mencakup tiga dimensi: mata yang menunduk, hati yang merendah, dan lisan yang diam dalam kekaguman. Ayat ini kontras dengan orang-orang yang bersikap angkuh atau menganggap remeh Al-Qur'an, sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat sebelum ayat 109. Bagi mereka yang beriman, Al-Qur'an adalah sumber inspirasi yang tak pernah habis untuk meningkatkan kualitas spiritual.
Mengapa ayat ini sering dijadikan penutup? Salah satu pandangan adalah karena ayat ini memberikan standar kualitas ibadah kita. Apakah kita termasuk golongan yang mendengar ayat lalu hati kita menjadi keras, ataukah kita termasuk golongan yang mendengar lalu air mata kita menetes, dan kekhusyukan kita bertambah?
Memahami Surat Al-Isra ayat 109 menuntut kita untuk tidak hanya membaca terjemahannya secara literal, tetapi juga merasakan getaran maknanya. Dalam kesibukan dunia modern, di mana distraksi begitu masif, ayat ini menjadi pengingat tegas akan kebutuhan mendesak untuk kembali merunduk sejenak, membiarkan air mata penghormatan jatuh, dan membiarkan Al-Qur'an terus membentuk ulang kekhusyukan kita hari demi hari. Ini adalah undangan untuk menjadikan setiap sesi tilawah sebagai sesi penyempurnaan diri, menuju tingkat kerendahan hati yang lebih tinggi di hadapan keagungan Ilahi.
Perjalanan spiritual adalah tentang peningkatan berkelanjutan, dan ayat 109 dari Al-Isra menjadi mercusuar yang menunjukkan bagaimana seharusnya hasil akhir dari perjumpaan jiwa dengan firman-Nya.