Menggali Hikmah Surat Al-Isra Ayat 11

وَيَدْعُ الإِنسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ ۖ وَكَانَ الإِنسَانُ عَجُولاً

"Dan manusia memohon keburukan sebagaimana ia memohon kebaikan. Dan adalah manusia itu tergesa-gesa." (QS. Al-Isra: 11)

Membedah Sifat Manusia yang Tergesa-gesa

Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah salah satu surat Makkiyah yang kaya akan hikmah dan pengingat fundamental tentang bagaimana seharusnya manusia menjalani kehidupannya. Ayat ke-11 secara khusus menyoroti sebuah sifat bawaan manusia yang sering kali menjadi sumber masalah: ketergesa-gesaan (العَجُولاً - al-'ajoolan). Ayat ini mengajarkan bahwa insting dasar manusia cenderung mendorongnya untuk meminta hasil segera, tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang dari permintaannya tersebut.

Ketika seseorang berdoa memohon kebaikan—seperti rezeki, kesuksesan, atau kesembuhan—ia melakukannya dengan penuh harap. Namun, Al-Isra ayat 11 mengungkapkan sisi ironisnya: manusia dapat secara spontan dan tanpa perhitungan memohon keburukan. Dalam kondisi marah, frustrasi, atau panik, manusia sering kali melontarkan sumpah serapah, kutukan, atau doa yang bersifat destruktif terhadap dirinya sendiri atau orang lain. Ia memohon hal buruk secepat dan seinsting ia memohon hal baik, tanpa menyadari bahwa doa tersebut—jika dikabulkan—akan menghancurkan ketenangan yang selama ini ia cari.

Bahaya Permohonan yang Tidak Disadari

Ayat ini berfungsi sebagai teguran ilahiah agar manusia lebih berhati-hati dalam ucapan dan harapannya. Konteks historis ayat ini sering dikaitkan dengan perilaku orang-orang Quraisy yang ketika mendapatkan kemudahan duniawi bersyukur, namun ketika diuji dengan kesulitan, mereka segera berseru meminta pertolongan atau justru menolak kenikmatan yang datang dari Allah. Ini menunjukkan mentalitas yang tidak sabar dan mudah berubah arah.

Dalam kehidupan modern, sifat tergesa-gesa ini termanifestasi dalam banyak cara: keinginan instan (instant gratification), ketidakmampuan menunggu hasil proses pendidikan atau bisnis, dan reaksi emosional yang cepat terhadap berita negatif. Kita sering kali ingin melihat hasil dari setiap usaha saat itu juga. Jika hasilnya tidak sesuai harapan, timbullah kekecewaan mendalam, dan di momen itulah bibit permohonan keburukan, baik melalui pikiran maupun ucapan, mulai tumbuh subur.

Pelajaran Sabar dan Tawakkal

Menyadari bahwa manusia diciptakan tergesa-gesa adalah langkah pertama menuju kesempurnaan spiritual. Tujuan ayat ini bukan untuk menghakimi, melainkan untuk mendidik kesadaran. Allah SWT, melalui ayat ini, mengingatkan kita bahwa Rabb yang Maha Mengetahui segala sesuatu, memiliki jadwal dan kebijaksanaan yang jauh melampaui pemahaman kita yang terburu-buru.

Oleh karena itu, respons yang benar terhadap sifat alami ini adalah dengan menanamkan kesabaran (sabr) dan penyerahan diri (tawakkul). Ketika kita merasa ingin meminta sesuatu secara impulsif, baik itu kemudahan cepat atau bahkan melampiaskan kekesalan, kita harus menahan diri dan mengingat firman ini. Kebaikan sejati seringkali memerlukan waktu untuk matang, sama seperti buah yang membutuhkan musim untuk dipanen. Sementara itu, keburukan yang diminta tergesa-gesa dapat datang secepat kilat dan meninggalkan jejak kerusakan yang sulit diperbaiki.

Memahami Surat Al-Isra ayat 11 memberikan kita kontrol diri yang lebih baik. Kita didorong untuk mengubah ketergesaan menjadi ketelitian, mengubah reaksi emosional menjadi respons yang terukur, dan selalu memohon yang baik dengan keyakinan penuh, sembari bersabar menanti waktu terbaik dari Sang Pencipta. Ini adalah pelajaran mendalam tentang manajemen ekspektasi manusia di hadapan kekuasaan dan kebijaksanaan Ilahi.

🏠 Homepage