Al-Qur'an adalah petunjuk hidup yang komprehensif, dan di dalamnya terdapat ayat-ayat yang memberikan landasan kuat bagi tata cara ibadah umat Islam. Salah satu kewajiban fundamental adalah melaksanakan salat lima waktu. Surat Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, mengandung ayat krusial yang menekankan pentingnya menjaga konsistensi dalam melaksanakan ibadah ini, yaitu ayat ke-78.
Ayat ini seringkali dijadikan landasan utama dalam menentukan rentang waktu pelaksanaan salat wajib dalam sehari. Secara harfiah, ayat ini membagi waktu salat menjadi tiga bagian utama yang sangat jelas dan terstruktur, menandakan sebuah disiplin spiritual yang harus dijaga oleh setiap Muslim.
Frasa "sejak matahari tergelincir" (duluuk asy-syams) ditafsirkan oleh para ulama sebagai saat matahari mulai condong ke barat, yakni awal waktu salat Dzuhur. Batas akhirnya adalah "hingga gelap malam" (ghasaq al-lail). Kegelapan malam ini secara umum merujuk pada masuknya waktu Isya, meskipun sebagian ulama menafsirkannya sebagai waktu terbenamnya matahari (Maghrib). Secara praktis, rentang ini mencakup waktu salat Dzuhur, Ashar, dan Maghrib. Ayat ini menunjukkan bahwa rentang waktu tersebut adalah batas maksimal (bukan minimal) untuk melaksanakan ketiga salat tersebut dalam bingkai waktu yang dianjurkan.
Bagian kedua dari ayat ini secara spesifik menekankan Salat Subuh: "dan (dirikanlah pula) Salat Subuh." Meskipun Subuh sudah termasuk dalam rentang malam, Allah SWT secara khusus menyebutkannya kembali untuk memberikan penekanan yang lebih besar. Hal ini diperkuat dengan pernyataan, "Sesungguhnya salat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat)."
Kesaksian malaikat ini adalah poin penting. Dikatakan bahwa pada waktu Subuh, malaikat yang bertugas siang dan malaikat yang bertugas malam berkumpul bersama. Kesaksian ini menjadi kehormatan besar bagi orang-orang yang melaksanakan salat Subuh tepat pada waktunya. Keutamaan ini mendorong umat Islam untuk berjuang melawan rasa kantuk dan kemalasan demi memenuhi janji kepada Allah di waktu fajar.
Surat Al-Isra ayat 78 bukan sekadar panduan teknis waktu salat, melainkan merupakan cetak biru bagi pembentukan karakter disiplin. Kepatuhan terhadap waktu salat menunjukkan komitmen total seorang hamba terhadap Rabb-nya, di mana urusan duniawi (kesibukan, pekerjaan, tidur) harus tunduk pada panggilan Ilahi.
Menjaga waktu salat lima kali sehari berarti seorang Muslim secara teratur "me-reset" niatnya dan mengarahkan fokusnya kembali kepada ketuhanan. Ini mencegah keterlarutan dalam duniawi dan menjaga hati tetap bersih dari karat dosa sepanjang hari. Konsistensi dalam salat, sebagaimana ditegaskan dalam ayat ini, adalah indikator utama dari keimanan yang kokoh dan teruji. Ayat ini memberikan jaminan spiritual—bahwa amal ibadah mereka di waktu fajar disaksikan oleh makhluk agung, sebuah pengakuan yang jauh lebih berharga daripada pengakuan manusia manapun. Oleh karena itu, memahami dan mengamalkan Al-Isra ayat 78 adalah kunci untuk meraih ketenangan batin dan keberkahan dalam kehidupan sehari-hari.