Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, merupakan salah satu surat penting dalam Al-Qur'an yang sarat dengan pelajaran moral, sejarah, dan peringatan. Di antara ayat-ayatnya yang mendalam, ayat ke-80 dan ayat ke-82 seringkali menjadi fokus perhatian karena keduanya memberikan landasan kuat mengenai peran Nabi Muhammad SAW dan sifat Al-Qur'an sebagai penyembuh. Kedua ayat ini, meskipun terpisah, saling melengkapi dalam konteks pembinaan spiritual dan penegasan kenabian.
"Wa qul Rabbi adkhilnī mudkhal ṣidqin wa akhrijnī mukhraj ṣidqin wajʿal lī min ladunka sulṭānan naṣīrā." (QS. Al-Isra: 80)
"Dan katakanlah, 'Ya Tuhanku, masukkanlah aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkanlah aku ke tempat keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau pertolongan yang menolong (benar).'"
Ayat 80 ini adalah doa yang diajarkan kepada Rasulullah SAW, seringkali dikaitkan dengan konteks hijrah beliau dari Mekkah ke Madinah. Namun, cakupan maknanya jauh melampaui peristiwa spesifik itu. Ayat ini mengajarkan umat Islam untuk selalu memulai setiap tindakan—baik itu masuk ke dalam situasi baru, memulai karier, atau menghadapi tantangan—dengan memohon keridhaan dan kebenaran dari Allah SWT.
Frasa "mudkhal ṣidqin" (tempat masuk yang benar) dan "mukhraj ṣidqin" (tempat keluar yang benar) menekankan pentingnya integritas dalam setiap fase kehidupan. Ini bukan sekadar meminta keberhasilan fisik, tetapi memastikan bahwa cara kita masuk dan cara kita keluar dari suatu keadaan selalu berdasarkan kejujuran dan kebenaran Ilahi. Pertolongan yang diminta, "sulṭānan naṣīrā," adalah otoritas atau dukungan yang benar-benar membela kebenaran, bukan sekadar kekuasaan duniawi semu. Doa ini menjadi fondasi spiritual bagi setiap muslim yang ingin menjalani hidupnya dengan lurus di tengah pusaran godaan dunia.
"Wa nuzawwilu min al-Qur’āni mā huwa syifā’un wa raḥmatun lil-mu’minīna wa lā yazīdu aẓ-ẓālimīna illā khasārā." (QS. Al-Isra: 82)
"Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an sesuatu yang menjadi penawar (penyembuh) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur'an itu tidak akan menambah bagi orang-orang yang zalim selain kerugian."
Jika ayat 80 berbicara tentang permohonan bantuan dalam bertindak, ayat 82 ini menjelaskan sumber utama bantuan dan keberkatan itu: Al-Qur'an. Ayat ini secara eksplisit menyatakan bahwa Al-Qur'an adalah "syifā’un" (penyembuh) dan "raḥmat" (rahmat).
Makna "syifā’un" di sini tidak terbatas hanya pada penyembuhan fisik dari penyakit jasmani. Para ulama menafsirkannya mencakup penyembuhan penyakit spiritual, keraguan (syubhat), kebingungan moral, dan kegelisahan jiwa. Ketika seseorang membaca, merenungkan, dan mengamalkan isi Al-Qur'an, hatinya akan menemukan ketenangan dan jiwanya akan disucikan dari kegelapan kebodohan dan kezaliman.
Namun, ayat ini juga mengandung peringatan keras. Bagi orang-orang yang zalim—yaitu mereka yang menolak, mendustakan, atau menggunakan Al-Qur'an untuk kepentingan duniawi yang merusak—Al-Qur'an hanya akan menambah kerugian. Keengganan untuk menerima petunjuk Ilahi justru akan memperjelas jalan kesesatan mereka, membuat mereka semakin jauh dari kebenaran yang sejatinya membawa keselamatan.
Ayat 80 dan 82 memberikan kerangka kerja hidup seorang mukmin. Pertama, kita harus selalu memulai dan mengakhiri urusan kita dengan memohon bimbingan Allah agar terhindar dari segala bentuk penyimpangan (Ayat 80). Kedua, sumber daya utama untuk mencapai kebenaran dan ketenangan dalam perjalanan tersebut adalah dengan menjadikan Al-Qur'an sebagai penawar bagi luka batin dan sumber cahaya dalam kegelapan (Ayat 82).
Di tengah tantangan modern yang penuh kecemasan dan ketidakpastian, kembali kepada pesan Al-Isra 80 dan 82 menjadi relevan. Kita diajak untuk proaktif meminta petunjuk jalan yang lurus (Ayat 80), sambil memastikan bahwa perangkat utama kita untuk navigasi adalah Kalamullah, yang merupakan rahmat dan penyembuh sejati (Ayat 82). Keseimbangan antara usaha (doa) dan sumber daya (wahyu) inilah yang membentuk ketahanan spiritual seorang hamba. Tanpa bimbingan Al-Qur'an, meskipun kita memohon jalan yang benar, kita mungkin tidak mengenali kebenaran itu ketika ia datang. Sebaliknya, tanpa doa yang tulus, Al-Qur'an hanya akan menjadi bacaan tanpa dampak transformatif yang mendalam pada jiwa.