Surat Al-Isra (atau Bani Israil) adalah salah satu surat penting dalam Al-Qur'an yang membahas berbagai aspek kehidupan, mulai dari sejarah, adab sosial, hingga prinsip-prinsip keimanan. Di antara ayat-ayatnya yang padat makna, rentetan ayat 78 hingga 84 menawarkan pedoman fundamental terkait ibadah wajib harian dan pengukuhan kebenaran risalah kenabian.
Ayat-ayat ini menekankan dua pilar utama: menjaga konsistensi dalam pelaksanaan shalat (salat) dan menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah wahyu yang diturunkan secara bertahap sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia. Mari kita bedah inti sari dari bagian krusial ini.
Ayat 78 adalah perintah langsung yang menetapkan kerangka waktu utama untuk pelaksanaan shalat wajib lima waktu. Frasa "lidulukis syamsi" (sejak matahari tergelincir) merujuk pada waktu Dzuhur dan Asar. Sementara "ghasaqil lail" (gelap malam) mencakup Maghrib dan Isya. Yang paling ditekankan adalah "Qur'anal Fajr" (Salat Subuh).
Mengapa Salat Subuh disebut "disaksikan"? Para mufassir menjelaskan bahwa shalat Subuh disaksikan oleh malaikat siang dan malaikat malam yang bergantian bertugas. Konsistensi dalam shalat, terutama yang dilakukan di waktu sepi seperti Subuh, menjadi penanda keteguhan iman seseorang. Ini adalah latihan disiplin spiritual yang melatih jiwa untuk selalu terhubung dengan Pencipta sebelum memulai kesibukan dunia.
Setelah menekankan aspek ritual ibadah, Allah SWT mengarahkan fokus kepada fungsi utama Al-Qur'an sebagai penuntun:
Ayat 79 memberikan dorongan kepada Rasulullah SAW (dan secara implisit kepada umatnya) untuk menambah ibadah di malam hari melalui Tahajjud. Ini bukan sekadar rutinitas, melainkan jalan menuju Maqam Mahmud—kedudukan tertinggi yang dijanjikan Allah. Ritual malam ini memperkuat landasan spiritual yang diperlukan untuk memikul amanah risalah.
Ayat-ayat selanjutnya (80-84) menegaskan kebenaran janji Allah kepada Nabi Muhammad SAW mengenai kepemimpinan dan tujuan kerasulan:
Doa ini, yang sering dikaitkan dengan peristiwa hijrah Nabi, memohon ketulusan niat dalam setiap tindakan. Masuk dan keluar yang benar berarti selalu berada di atas kebenaran, baik saat menghadapi kesulitan maupun saat meraih kemenangan. Dukungan ('sultan nashira') yang diminta adalah kekuatan hakiki yang bersumber dari Allah.
Tujuan utama penurunan Al-Qur'an kemudian dijelaskan:
Ayat 81 adalah deklarasi kemenangan abadi wahyu atas segala bentuk kesesatan. Ini memberikan ketenangan bahwa perjuangan menegakkan kebenaran akan selalu berakhir dengan runtuhnya kebatilan.
Ayat 82 menutup rangkaian ini dengan menegaskan sifat Al-Qur'an:
Al-Qur'an di sini berfungsi ganda: sebagai penyembuh (syifa') penyakit hati dan keraguan spiritual, serta sebagai rahmat (kasih sayang) yang menuntun menuju kebahagiaan sejati. Namun, bagi mereka yang menolaknya (orang zalim), Al-Qur'an justru menjadi penambah penyesalan karena menjadi bukti nyata atas penolakan mereka terhadap kebenaran.
Rangkaian ayat 78 hingga 84 Al-Isra memberikan cetak biru kehidupan seorang Muslim yang beriman. Pertama, ia wajib menjaga konsistensi ritual lima waktu, khususnya Subuh, sebagai pondasi hubungan vertikalnya. Kedua, ia harus senantiasa berusaha mendekatkan diri kepada Allah melalui amalan tambahan seperti Tahajjud untuk meraih posisi mulia. Ketiga, seluruh aktivitasnya (masuk dan keluar) harus didasari oleh kebenaran yang dibawa oleh Al-Qur'an, yang pada hakikatnya adalah wahyu ilahi, pembawa penyembuhan dan rahmat.
Memahami dan mengamalkan ayat-ayat ini secara berkelanjutan adalah kunci untuk menjalani hidup yang seimbang, terarah, dan penuh makna, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.