Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an. Ayat 80 dari surat ini memegang peranan penting dalam memberikan kepastian (janji) tentang sebuah tujuan mulia, khususnya terkait dengan janji kenabian dan kemuliaan bagi Rasulullah Muhammad SAW.
Ayat ini seringkali dikutip dalam konteks hijrah, penegasan misi kenabian, serta jaminan bahwa semua urusan akan kembali kepada Allah SWT. Mempelajari ayat ini secara mendalam membantu umat Muslim memperkuat keyakinan bahwa setiap langkah yang diambil dalam kebenaran pasti akan berakhir pada hasil yang terbaik yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta.
Ilustrasi jalur menuju tujuan yang pasti.
"Dan katakanlah: 'Ya Tuhanku, masukkanlah aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkanlah aku ke tempat keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong'."
Ayat 80 ini adalah sebuah doa yang sangat komprehensif, mencakup aspek spiritual, praktis, dan sosial dalam kehidupan seorang hamba. Permintaan "masuk" dan "keluar" yang "benar" (صدق - sidq, yang berarti kejujuran, kebenaran, atau ketulusan) menunjukkan bahwa keberhasilan bukan hanya diukur dari hasil akhir, tetapi dari cara kita memulai dan mengakhiri setiap urusan.
Ini merujuk pada permulaan atau titik masuk. Dalam konteks sejarah, ini sering dikaitkan dengan perintah hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah. Masuk ke Madinah haruslah dengan cara yang benar, di mana tujuan utamanya adalah menegakkan syiar Islam, bukan sekadar mencari keamanan fisik semata. Dalam kehidupan sehari-hari, ini berarti memulai pekerjaan, hubungan, atau keputusan dengan niat yang murni dan jujur kepada Allah.
Ini adalah permintaan agar ketika saatnya tiba untuk berpindah, meninggalkan, atau mengakhiri suatu fase, perpindahan tersebut juga harus didasari kebenaran. Jika Nabi SAW keluar dari Mekkah, keluarnya adalah untuk melanjutkan misi dakwah tanpa rasa takut dan dengan pertolongan Allah. Bagi kita, ini adalah jaminan bahwa ketika kita harus meninggalkan sesuatu yang buruk (seperti maksiat atau lingkungan yang merusak), kita akan dibimbing untuk pindah ke tempat atau kondisi yang lebih baik.
Bagian terakhir doa ini meminta karunia berupa "kekuasaan yang menolong". Kata sultan di sini tidak selalu berarti kekuasaan duniawi yang absolut, melainkan otoritas, kemampuan, atau hujjah yang kuat (argumen yang tak terbantahkan) yang didukung dan ditolong oleh Allah SWT. Ini adalah permohonan agar setiap usaha penegakan kebenaran dibekali dengan kekuatan spiritual dan dukungan ilahi, sehingga dakwah dan perjuangan tidak sia-sia.
Surat Al-Isra ayat 80 adalah formula sempurna bagi siapapun yang merasa berada di persimpangan jalan atau tengah menghadapi tantangan besar. Ayat ini mengingatkan kita bahwa kekuatan sejati datang dari kepatuhan pada kebenaran, bukan dari kekuatan materi semata. Ketika kita berdoa memohon mudkhala sidqin dan mukhraja sidqin, kita mengakui bahwa kita membutuhkan bimbingan Allah dalam setiap fase eksistensi kita.
Permintaan kekuasaan yang menolong adalah pengakuan bahwa manusia, betapapun cerdasnya, membutuhkan intervensi ilahi agar usahanya membuahkan hasil yang positif dan berkelanjutan. Doa ini menegaskan bahwa keberhasilan di dunia dan akhirat bergantung pada sejauh mana kita mampu menempatkan kebenaran (sidq) sebagai poros utama dalam setiap tindakan, baik saat memulai, melanjutkan, maupun mengakhiri sebuah perjalanan.
Dengan merenungkan ayat ini, seorang Muslim akan senantiasa berusaha memastikan bahwa setiap langkahnya, sekecil apapun, berada dalam koridor keridhaan-Nya. Ini adalah fondasi moral yang kokoh untuk menghadapi gejolak dunia modern, selalu kembali kepada janji dan pertolongan yang datang dari sisi Allah SWT.