Keagungan Perjalanan Isra dan Mi'raj
Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an. Dua ayat pertamanya, yaitu ayat 1 dan 2, memuat sebuah peristiwa agung dan mukjizat terbesar yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW: perjalanan suci Isra dan Mi'raj. Ayat-ayat ini bukan sekadar narasi sejarah, melainkan fondasi teologis yang menegaskan kebesaran Allah SWT dan posisi kenabian Rasulullah.
Peristiwa ini merupakan penghiburan ilahi setelah Nabi Muhammad SAW menghadapi tahun-tahun penuh kesedihan (disebut 'Amul Huzn) di Mekkah. Perjalanan ini membuktikan bahwa di tengah kesulitan terbesar sekalipun, pertolongan dan penguatan dari Allah pasti akan datang.
Ayat Pertama: Dimulainya Isra
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Subḥānal-ladhī asrā bi-'abdihi lailam minal-Masjidil-Ḥarāmi ilal-Masjidal-Aqṣal-ladhī bāraknā ḥawlahu linuriyahu min āyātinā, innahu Huwas-Samī'ul-Baṣīr."Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
Ayat pertama ini menjelaskan fase Isra, yaitu perjalanan malam hari Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem. Kata "Subhanallah" di awal ayat menekankan kesucian Allah yang mampu melakukan perjalanan sejauh itu dalam waktu satu malam.
Fokus ayat ini adalah demonstrasi kekuasaan Allah (linuriyahu min āyātinā) melalui penampakan sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya. Masjidil Aqsa sengaja dipilih sebagai tujuan karena keberkahannya dan fungsinya sebagai kiblat pertama umat Islam. Penyebutan "hamba-Nya" ('abdihi) menekankan status spiritual Nabi, bukan hanya status kenabiannya. Akhiran ayat, "Maha Mendengar lagi Maha Melihat," menegaskan bahwa Allah menyaksikan seluruh peristiwa agung tersebut dengan sempurna.
Ayat Kedua: Kelanjutan Mi'raj dan Kehancuran Kaum Zalim
وَآتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِّبَنِي إِسْرَائِيلَ أَلَّا تَتَّخِذُوا مِن دُونِي وَكِيلًا
Wa ātaynā Mūsāl-kitāba wa ja'alnāhu hudan libanī Isrā'īla allā tattakhidhū min dūnī wakīlā."Dan Kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan Kami jadikan Kitab itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman), 'Janganlah kamu mengambil pelindung selain Aku'."
Ayat kedua beralih dari peristiwa Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW ke konteks sejarah kenabian Musa AS. Transisi ini sangat penting. Setelah menunjukkan mukjizat kepada Nabi akhir zaman (Muhammad SAW), Allah mengingatkan Bani Israil—bangsa yang sangat bergantung pada mukjizat—tentang karunia yang telah diberikan kepada pendahulu mereka.
Allah menegaskan bahwa Taurat diberikan kepada Musa sebagai petunjuk (huda) bagi Bani Israil. Peringatan utamanya adalah larangan untuk menjadikan selain Allah sebagai pelindung atau wakil (wakīl). Dalam konteks ayat 1, pengingat ini berfungsi sebagai teguran halus: sama seperti Bani Israil seharusnya berpegang teguh pada Tauhid yang dibawa Musa, umat Islam (yang dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW yang baru saja diberi penguatan melalui Isra Mi'raj) juga diperintahkan untuk hanya bergantung kepada Allah.
Implikasi Teologis Surat Al-Isra Ayat 1-2
Dua ayat pembuka ini memiliki signifikansi yang mendalam. Pertama, ia menetapkan kebenaran Isra Mi'raj sebagai peristiwa nyata yang diakui Al-Qur'an, menguatkan keyakinan umat Islam. Kedua, ia menghubungkan garis kenabian secara linear, dari Musa hingga Muhammad, dengan benang merah ajaran Tauhid yang murni.
Perjalanan Nabi Muhammad SAW melampaui batas-batas ruang dan waktu yang dipahami manusia biasa. Ketika Allah memuji hamba-Nya yang diperjalankan malam hari, ini menunjukkan bahwa kedekatan spiritual yang sejati melampaui pencapaian fisik. Dengan demikian, Surat Al-Isra ayat 1 dan 2 adalah pilar yang menyatukan dimensi mukjizat kosmik dengan pesan inti risalah Islam, yaitu penyembahan tunggal kepada Allah SWT, Sang Maha Pencipta, Pendengar, dan Penglihat segala sesuatu.