Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidilharam ke Al-Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, dibuka dengan sebuah pernyataan takzim yang agung: "Maha Suci Allah" (Subhaanallah). Pembukaan ini langsung menunjukkan kebesaran dan kesempurnaan Allah SWT, yang merupakan latar belakang dari peristiwa luar biasa yang akan disebutkan selanjutnya. Ayat pertama ini merangkum mukjizat agung Nabi Muhammad SAW, yaitu peristiwa Isra' dan Mi'raj.
Peristiwa Isra' (perjalanan malam) adalah perjalanan fisik yang dilakukan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjid Al-Aqsa di Yerusalem. Ayat ini menegaskan bahwa perjalanan ini dilakukan "pada suatu malam" (lailan). Fakta bahwa Allah yang memperjalankan hamba-Nya menunjukkan bahwa ini adalah kehendak ilahi, bukan kemampuan manusia biasa. Hamba yang dimaksud adalah Nabi Muhammad SAW, penutup para nabi.
Ayat ini secara eksplisit menyebutkan tujuan perjalanan malam tersebut, yaitu Masjid Al-Aqsa. Keutamaan tempat ini ditekankan dengan frasa "yang telah Kami berkahi sekelilingnya" (allazii baaraknaa hawlahu). Berkah ini mencakup keberkahan spiritual, tempat tinggal para nabi terdahulu (seperti Nabi Ibrahim, Ishak, Ya’qub, dan lainnya), serta kekayaan alam yang melimpah pada masanya. Al-Aqsa bukan sekadar tempat tujuan, melainkan pusat peradaban spiritual yang diberkahi Allah.
Tujuan utama dari mukjizat ini, sebagaimana disebutkan, adalah "agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami" (li nuriyahhu min aayaatinaa). Perjalanan ini berfungsi untuk menguatkan keyakinan Nabi SAW di tengah tekanan kaum Quraisy, sekaligus menjadi bukti nyata akan kekuasaan Allah SWT yang melampaui batas logika manusiawi. Tanda-tanda kebesaran ini mencakup pemandangan alam, sejarah kenabian, hingga rahasia alam semesta.
Ayat ditutup dengan dua sifat Allah yang sangat relevan dengan peristiwa tersebut: "Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat" (innahu Huwas-Samii’ul-Basiir).
Dengan demikian, Al-Isra ayat 1 adalah fondasi keimanan yang menegaskan kemahakuasaan Allah, pentingnya Masjid Al-Aqsa, dan status agung Nabi Muhammad SAW sebagai hamba yang diperjalankan secara langsung oleh Pencipta semesta alam. Ayat ini menjadi pengingat permanen bagi umat Islam tentang keajaiban yang dapat terjadi atas kehendak Ilahi.