Tafsir Mendalam Surat Al-Isra Ayat 101 Sampai 111

Wahy

Ilustrasi Pemberian Wahyu dan Petunjuk

Surat Al-Isra, juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an yang kaya akan muatan spiritual dan hukum. Fokus utama pada ayat 101 hingga 111 membahas respons kaum musyrik terhadap mukjizat yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW, serta penutup yang menegaskan keesaan Allah dan perintah untuk selalu beribadah kepada-Nya. Memahami ayat-ayat ini sangat krusial untuk memperkuat keyakinan (iman) dan konsistensi dalam menjalani ajaran Islam.

Konteks Ayat 101: Permintaan Mukjizat yang Sia-sia

Ayat 101 dimulai dengan narasi tentang bagaimana kaum Quraisy Mekkah menolak kebenaran yang dibawa Rasulullah, meminta bukti konkret yang luar biasa sebagai syarat untuk beriman. Mereka menginginkan mukjizat yang sama seperti yang diminta kaum terdahulu.

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى تِسْعَ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ فَاسْأَلْ بَنِي إِسْرَائِيلَ إِذْ جَاءَهُمْ فَقَالَ لَهُ فِرْعَوْنُ إِنِّي لَأَظُنُّكَ يَا مُوسَى مَسْحُورًا
"Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan mukjizat yang nyata, maka tanyakanlah (hai Muhammad) kepada Bani Israil, ketika Musa datang kepada mereka, lalu Firaun berkata kepadanya: 'Sesungguhnya aku duga, hai Musa, kamu ini adalah seorang yang terkena sihir.'" (QS. Al-Isra: 101)

Ayat ini mengingatkan Nabi Muhammad SAW akan sejarah Nabi Musa AS. Allah telah memberikan sembilan mukjizat jelas (tongkat, tangan putih, paceklik, banjir, belalang, kutu, katak, darah, dan pemisahan laut), namun Firaun tetap menuduhnya sebagai orang yang terkena sihir. Penolakan ini menunjukkan bahwa hati yang telah tertutup oleh kesombongan dan hawa nafsu tidak akan menerima kebenaran, tidak peduli seberapa besar bukti yang disajikan. Ini adalah pelajaran bagi kaum Quraisy saat itu yang bersikap serupa.

Ayat 102-103: Jawaban Allah dan Kekuatan Al-Qur'an

Allah kemudian menjawab keraguan mereka melalui lisan Nabi Muhammad, menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah wahyu yang diturunkan langsung dari Allah SWT, bukan sihir.

قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنزَلَ هَـٰؤُلَاءِ إِلَّا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ بَصَائِرَ وَإِنِّي لَأَظُنُّكَ يَا فِرْعَوْنُ مَثْبُورًا
Musa menjawab: "Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu melainkan Tuhan Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti yang nyata; dan sesungguhnya aku kira, hai Firaun, kamu ini adalah orang yang celaka." (QS. Al-Isra: 102)

Nabi Musa menegaskan bahwa mukjizat tersebut adalah bukti nyata dari Tuhan semesta alam. Penolakan Firaun pada akhirnya membawa kehancuran baginya. Dalam konteks Al-Isra ayat 103, Allah menunjukkan bahwa Dia tidak akan menyia-nyiakan orang-orang yang menolak tanda-tanda-Nya dengan azab yang dahsyat. Ayat-ayat selanjutnya (104-110) menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah penutup risalah dan petunjuk bagi seluruh umat manusia.

Ayat 106-109: Al-Qur'an sebagai Penjelas dan Peneguh Hati

Ayat 106 secara khusus menjelaskan kedudukan Al-Qur'an:

وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَىٰ مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنزِيلًا
"Dan Al-Qur'an telah Kami perincikan (sebagai wahyu) agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya secara bertahap." (QS. Al-Isra: 106)

Proses penurunan Al-Qur'an secara bertahap (tartil) adalah rahmat agar mudah dipahami, direnungkan, dan dihafal. Ini berbeda dengan tuntutan kaum musyrik yang ingin semua jawaban diberikan sekaligus dalam bentuk mukjizat spektakuler.

Ayat 109 menyebutkan bahwa ketika ayat-ayat ini dibacakan, orang-orang yang diberi ilmu (ulama) akan bersujud karena menyadari kebenaran yang terkandung di dalamnya. Sujud mereka adalah sujud syukur dan pengakuan atas keagungan firman Allah.

Ayat 110-111: Penutup dengan Tauhid dan Penghargaan

Bagian penutup surat ini, khususnya ayat 110 dan 111, adalah penekanan akhir tentang tauhid dan keagungan Allah.

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَـٰنَ ۖ أَيًّا مَّا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا
Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Nama mana saja yang kamu seru, (karena) bagi-Nya adalah nama-nama yang paling baik (Al-Asma'ul Husna), dan janganlah kamu mengeraskan shalatmu dan jangan (pula) merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara keduanya." (QS. Al-Isra: 110)

Ayat 110 mengajarkan fleksibilitas dalam berdo'a; Allah dapat diseru dengan nama manapun yang baik (seperti Allah atau Ar-Rahman) karena semua adalah milik-Nya. Selain itu, ayat ini memberikan panduan etika dalam shalat: jangan terlalu keras hingga mengganggu orang lain, namun jangan pula terlalu pelan hingga tidak terdengar oleh diri sendiri. Ini adalah pelajaran tentang keseimbangan dalam ibadah.

Ayat terakhir, 111, merupakan penutup yang agung:

وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُن لَّهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُن لَّهُ وَلِيٌّ مِّنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا
Dan katakanlah: "Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak, dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya, dan Dia tidak mempunyai penolong (karena) kehinaan, dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya." (QS. Al-Isra: 111)

Ayat penutup ini mengukuhkan tiga poin utama tauhid: Penolakan terhadap keutuhanan anak Allah, Penolakan terhadap sekutu dalam kekuasaan-Nya, dan penegasan bahwa Allah tidak membutuhkan pelindung dari kelemahan. Ini adalah puncak dari dakwah tauhid, yang harus direspon dengan takbir (mengagungkan Allah setinggi-tingginya).

Secara keseluruhan, rentetan ayat 101 hingga 111 Surat Al-Isra berfungsi sebagai klarifikasi mukjizat, penguatan posisi Al-Qur'an sebagai wahyu final, serta panduan praktis dalam beribadah (shalat) dan puncaknya adalah penegasan tauhid yang mutlak kepada Allah SWT.

🏠 Homepage