Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah salah satu surat penting dalam Al-Qur'an yang kaya akan kisah-kisah kenabian dan pelajaran moral. Di antara ayat-ayatnya yang agung, **Surat Al-Isra ayat 101** memegang posisi krusial karena merupakan respons langsung Allah SWT terhadap permintaan Nabi Musa AS terkait mukjizat yang akan diberikan kepada Firaun dan kaumnya.
"Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mukjizat yang nyata; maka tanyakanlah (hai Muhammad) kepada Bani Israil, ketika mukjizat itu datang kepada mereka, lalu Firaun berkata kepadanya: 'Hai Musa, sesungguhnya aku kira kamu ini adalah seorang yang terkena sihir.'" (QS. Al-Isra: 101)
Ayat ini berada dalam rangkaian pembahasan mengenai kisah Nabi Musa AS dan perjuangannya melawan tirani Firaun di Mesir. Setelah serangkaian peristiwa dramatis, termasuk wabah-wabah (sebagai mukjizat kecil), Allah SWT memerintahkan Musa untuk membawa Bani Israil keluar dari perbudakan Firaun.
Sembilan mukjizat yang disebutkan dalam ayat ini secara umum diyakini merujuk pada peristiwa-peristiwa besar yang terjadi sebelum pembebasan Bani Israil, yang sering kali dijelaskan dalam detail di surat-surat lain (seperti Al-A'raf dan Yunus). Mukjizat-mukjizat tersebut antara lain: tongkat yang menjadi ular, tangan yang memancarkan cahaya putih, wabah belalang, kutu, katak, darah, musim paceklik, serta terbelahnya lautan.
Ketika Nabi Musa AS mendatangi Firaun dengan membawa bukti-bukti keesaan Allah (mukjizat), respons yang didapatkan bukanlah pengakuan atau ketakutan, melainkan penolakan keras yang dibungkus dengan arogansi. Firaun, yang mengklaim dirinya sebagai tuhan tertinggi, tidak mampu menerima kebenaran yang dibawa Musa.
Tuduhan bahwa Nabi Musa adalah seorang penyihir adalah taktik klasik para penentang kebenaran. Mereka mencoba mendiskreditkan pembawa risalah dengan menisbahkan wahyu ilahi kepada ilmu sihir atau tipu daya manusiawi. Tujuan dari taktik ini adalah untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari substansi pesan ilahi dan mempertahankan kekuasaan berbasis kebohongan. Ayat ini menegaskan betapa kuatnya kesombongan Firaun hingga ia rela menolak sembilan bukti nyata yang disaksikan langsung.
Bagian kedua dari **Surat Al-Isra ayat 101** mengandung perintah kepada Nabi Muhammad SAW (yang disampaikan melalui Allah SWT) untuk menanyakan hal ini kepada Bani Israil, yaitu umat yang menjadi saksi langsung atas semua peristiwa tersebut.
Perintah ini mengandung beberapa implikasi mendalam. Pertama, ini adalah penegasan kebenaran sejarah. Allah meminta agar kesaksian mereka yang melihat langsung digunakan sebagai bukti otentisitas kisah tersebut, meskipun mereka kemudian menyembunyikannya atau mengubahnya. Kedua, ini menunjukkan bahwa kebenaran ilahi tidak memerlukan pembelaan yang berlebihan; bukti-bukti empiris telah disajikan.
Bagi Nabi Muhammad SAW, ayat ini berfungsi sebagai penguatan bahwa risalah yang dibawanya memiliki rantai kenabian yang jelas dan telah dibuktikan melalui sejarah umat-umat terdahulu. Kisah Musa dan Firaun menjadi preseden bagi kisah beliau dengan kaumnya.
Makna mendalam dari ayat ini relevan hingga kini. Ia mengajarkan kita tentang beberapa prinsip dasar iman:
Merenungkan **Surat Al-Isra ayat 101** mengingatkan kita untuk selalu memeriksa hati kita. Apakah kita seperti Firaun yang menolak kebenaran yang jelas demi mempertahankan status quo dan kesombongan, ataukah kita seperti orang yang beriman yang mengakui kekuasaan Allah melalui tanda-tanda-Nya? Memahami sejarah kenabian adalah fondasi kokoh bagi keimanan yang tidak mudah digoyahkan oleh keraguan atau tuduhan orang-orang yang tenggelam dalam kesesatan.