۞ وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى ٱلتَّوْرَاةَ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِّبَنِىٓ إِسْرَائِيلَ ٱنطَلِقَآ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ
"Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa Kitab Taurat dan Kami jadikan kitab itu petunjuk bagi Bani Israil, (dan Kami berfirman): "Pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas"."
Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, membahas banyak aspek penting dalam sejarah kenabian, khususnya kisah Nabi Musa AS. Ayat 102 ini secara eksplisit menyoroti salah satu momen krusial dalam sejarah kenabian Musa, yaitu penegasan pemberian wahyu Taurat oleh Allah SWT.
Pemberian Taurat kepada Nabi Musa bukanlah sekadar penyerahan teks, melainkan penegasan statusnya sebagai petunjuk (hudan) bagi kaum Bani Israil. Kata hudan menunjukkan bahwa kitab suci tersebut berfungsi sebagai kompas moral, hukum, dan spiritual. Ini menegaskan pentingnya wahyu sebagai landasan hidup yang benar bagi umat yang diutus kepadanya.
Ayat ini kemudian berlanjut dengan perintah langsung dari Allah SWT kepada Nabi Musa dan saudaranya, Nabi Harun. Perintah tersebut adalah untuk mendatangi Fir'aun. Frasa "Pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas" (innalahu tagha) memberikan indikasi jelas mengenai karakter Fir'aun.
Kata tagha (طغى) memiliki makna yang sangat kuat dalam bahasa Arab, yaitu melampaui batas, membangkang, dan menjadi tiran. Dalam konteks Fir'aun, ini merujuk pada beberapa aspek:
Perintah untuk mendatangi tiran yang sangat kuat ini menunjukkan keberanian luar biasa yang dibutuhkan oleh para nabi. Allah tidak hanya memberikan wahyu (Taurat) tetapi juga memberikan mandat kerasulan yang menuntut aksi nyata dalam menghadapi kezaliman. Hal ini mengajarkan umat Islam bahwa ilmu dan petunjuk Ilahi harus diiringi dengan keberanian untuk menegakkan kebenaran, meskipun menghadapi kekuasaan yang represif.
Kisah Musa dan Harun adalah sebuah model dakwah. Ketika menghadapi sistem yang menyimpang atau pemimpin yang zalim, landasan yang harus dimiliki adalah wahyu yang sahih (seperti Taurat bagi mereka). Kejelasan tujuan dan pemahaman bahwa pihak yang dihadapi telah "melampaui batas" memotivasi seorang da'i untuk menyampaikan risalah dengan tegas namun tetap mematuhi batasan adab dalam menyampaikan. Ayat ini menekankan bahwa melawan kezaliman yang sudah mencapai puncak adalah kewajiban, dan keberanian itu bersumber dari dukungan Ilahi.
Oleh karena itu, Surat Al-Isra ayat 102 bukan hanya catatan sejarah, melainkan cetak biru bagaimana menegakkan keadilan dan menyampaikan risalah kebenaran di tengah kegelapan tirani. Taurat adalah cahaya, dan Fir'aun adalah simbol kegelapan yang harus dihadapi dengan keberanian yang diperkuat oleh wahyu.