وَقُلْنَا مِنْ بَعْدِهِ لِبَنِي إِسْرَائِيلَ اسْكُنُوا الْأَرْضَ فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الْآخِرَةِ جِئْنَا بِكُمْ لَفِيفًا
(Wa qulnā min ba'dihi li-Banī Isrā'īla skunū l-arḍa fa-'idhā jā'a wa'du l-ākhirati ji'nā bikum lafīfan) Dan Kami berfirman kepada Bani Israil sesudah Firaun dan kaumnya, "Tempatilah bumi (ini), maka apabila datang janji (datangnya azab) yang terakhir, Kami kumpulkan kamu sekalian dalam keadaan bercampur baur."Surat Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Al-Isra wal Mi'raj, merupakan surat Makkiyah yang kaya akan pelajaran mengenai keagungan Allah SWT, sejarah para nabi, serta rambu-rambu moral bagi umat manusia. Ayat 104 ini secara spesifik berbicara tentang penetapan nasib bagi **Bani Israil** (keturunan Nabi Ya'qub AS) setelah peristiwa penenggelaman Firaun, yang juga dijelaskan pada ayat-ayat sebelumnya.
Setelah Allah membebaskan mereka dari perbudakan Firaun dengan cara yang luar biasa, Allah kemudian memberikan perintah sekaligus janji. Ayat ini menegaskan dua poin utama: **perintah untuk mendiami suatu wilayah** (yang mayoritas mufasir menafsirkan sebagai Syam atau Tanah Suci) dan **peringatan tentang masa depan kolektif mereka**. Perintah "Tempatilah bumi (ini)" adalah bentuk anugerah berupa kemudahan dan kesempatan untuk membangun kehidupan setelah penindasan yang panjang.
Frasa kunci dalam ayat ini adalah "fa-'idhā jā'a wa'du l-ākhirah" (maka apabila datang janji yang terakhir). Para ulama menafsirkan "janji yang terakhir" ini dalam beberapa perspektif historis yang saling melengkapi:
Janji yang terakhir ini bukanlah akhir dari segalanya, melainkan penanda fase kehancuran akibat perbuatan mereka sendiri. Ini mengajarkan bahwa karunia ilahi dapat dicabut jika manusia menyalahgunakan kemudahan yang diberikan.
Bagian penutup ayat ini, "ji'nā bikum lafīfan", adalah deskripsi yang sangat kuat mengenai kondisi pengumpulan mereka saat janji terakhir itu tiba. Kata Lafīfan memiliki beberapa makna:
Hal ini menunjukkan bahwa ketika suatu umat telah menyimpang dari jalan yang benar, janji kebebasan dan kemakmuran yang pernah diberikan dapat berubah menjadi siklus pengusiran dan pengumpulan kembali di bawah penderitaan. Ayat ini menjadi peringatan universal bahwa nikmat duniawi tidak bersifat permanen jika diiringi dengan kedurhakaan.
Meskipun ayat ini berbicara langsung tentang sejarah Bani Israil, pelajaran yang dapat dipetik bersifat universal. Dalam Islam, mukjizat dan janji kenabian seringkali dibarengi dengan syarat kepatuhan. Kehancuran dan pengumpulan kembali (sebagai bentuk hukuman atau konsekuensi) selalu terkait dengan penyimpangan moral, pengkhianatan terhadap perjanjian ilahi, dan penolakan terhadap petunjuk.
Bagi umat Nabi Muhammad SAW, ayat ini memperkuat prinsip bahwa kenikmatan hidup di dunia adalah ujian. Kemakmuran bukan sekadar hak waris, melainkan amanah. Jika amanah itu dikhianati, Allah akan mendatangkan "janji terakhir" dalam bentuk krisis, perpecahan, atau kehinaan, yang membuat mereka tersebar dan "bercampur baur" dalam penderitaan. Pemahaman mendalam terhadap Surat Al-Isra ayat 104 mengingatkan kita untuk senantiasa menjaga integritas spiritual dan kolektif agar tidak menghadapi nasib serupa di kemudian hari.