Memahami Pesan Ilahi: Surat Al-Hijr Ayat 94

Simbol Ketaatan dan Kejelasan Perintah Tegaslah

Teks Al-Hijr Ayat 94 dan Artinya

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ

Maka sampaikanlah (wahai Muhammad) apa yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.

Konteks Penurunan dan Makna Mendalam

Surat Al-Hijr, yang merupakan surat ke-15 dalam urutan mushaf Al-Qur'an, terdiri dari 99 ayat. Ayat ke-94 ini terletak di akhir periode di mana Allah SWT memberikan penguatan dan instruksi tegas kepada Nabi Muhammad SAW terkait dengan dakwah di Mekkah, sebuah masa yang penuh tantangan dan penolakan dari kaum musyrik.

Ayat ini mengandung dua perintah utama yang sangat fundamental dalam perjuangan kenabian: "Fasda' bima tu'mar" (Maka sampaikanlah apa yang diperintahkan kepadamu) dan "Wa a'ridh 'anil musyrikin" (dan berpalinglah dari orang-orang musyrik).

1. Perintah untuk Menyampaikan dengan Tegas (Fasda')

Kata "fasda'" (اصْدَعْ) berasal dari kata dasar yang berarti membelah atau memecah. Dalam konteks ini, ia menyiratkan perintah untuk menyampaikan kebenaran secara terbuka, tanpa rasa takut, dan dengan ketegasan yang memisahkan antara yang hak dan yang batil. Ini bukan sekadar menyampaikan informasi, melainkan melakukan penegasan ajaran tauhid di tengah lingkungan yang menolaknya. Ini adalah seruan untuk keberanian moral dan intelektual dalam berdakwah. Bagi setiap Muslim, ayat ini menjadi pengingat bahwa kewajiban utama adalah menyampaikan risalah Allah sesuai dengan perintah-Nya, tanpa perlu menyesuaikan pesan agar diterima oleh mayoritas yang menentang.

2. Perintah untuk Berpaling dari Sikap Musyrik

Perintah kedua, "wa a'ridh 'anil musyrikin" (dan berpalinglah dari orang-orang musyrik), tidak berarti mengabaikan mereka sepenuhnya, melainkan mengalihkan fokus energi dakwah dari upaya meyakinkan hati mereka yang sudah tertutup. Ketika penolakan sudah mencapai titik maksimal dan mereka menunjukkan permusuhan yang nyata, seorang da'i harus berhenti menghabiskan energi untuk berdebat sia-sia.

Dalam tafsir Ibnu Katsir dan Jalalain, "berpaling" di sini dipahami sebagai tidak lagi menghiraukan gangguan dan cemoohan mereka, serta tidak perlu bersedih hati atas kekerasan kepala mereka. Allah SWT menegaskan bahwa tugas Nabi adalah menyampaikan risalah, sementara hasil dari penyampaian itu sepenuhnya berada di tangan Allah. Sikap berpaling ini juga menandakan penolakan terhadap ideologi kesyirikan mereka, bukan penolakan interpersonal selama mereka tidak mengancam keselamatan dakwah.

Implikasi Praktis Ayat Al-Hijr 94

Ayat ini menawarkan panduan tak ternilai bagi para pejuang kebenaran di setiap zaman. Pertama, ia menekankan keotentikan pesan. Apapun tekanan sosial, politik, atau ekonomi, pesan yang dibawa haruslah murni sesuai wahyu (Firman Allah), bukan hasil kompromi. Ketegasan dalam menyampaikan adalah kunci integritas dakwah.

Kedua, ayat ini mengajarkan manajemen energi spiritual. Tidak semua orang akan menerima hidayah, dan upaya untuk memaksakan kebenaran pada hati yang sudah terkunci adalah pemborosan sumber daya yang seharusnya dialokasikan untuk mencari hati lain yang lebih terbuka. Ketika dakwah ditolak dengan permusuhan, seorang Muslim diperintahkan untuk menjaga martabat risalah dengan tidak merendahkan diri untuk memohon penerimaan mereka.

Perintah ini datang setelah Allah SWT sebelumnya menyebutkan bahwa Allah akan menjaga Nabi dari ejekan orang-orang yang memperolok-olok (ayat 92). Ini menunjukkan adanya pola: **Ketika Allah memberikan perlindungan, Dia menuntut ketegasan dalam melaksanakan amanah.**

Surat Al-Hijr ayat 94 adalah penegasan peran Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa risalah. Perintah ini mencakup ketegasan dalam menyampaikan kebenaran, disertai dengan sikap sabar dan berpaling dari kesia-siaan perdebatan yang tidak produktif dengan mereka yang keras kepala terhadap pesan tauhid.

Kisah Ketegasan di Balik Ayat

Meskipun ayat ini ditujukan secara langsung kepada Nabi, maknanya universal. Ketika Nabi diperintahkan untuk "fasda'", hal ini terjadi setelah serangkaian penghinaan dan upaya pembunuhan terencana oleh kaum Quraisy. Mereka menantang Nabi untuk menampilkan mukjizat yang tidak masuk akal, seperti mengubah batu menjadi emas atau menurunkan malaikat.

Dalam konteks tersebut, perintah berpaling dari mereka adalah isyarat bahwa fokus dakwah harus bergeser dari membuktikan diri kepada kaum Quraisy yang arogan, menuju penguatan komunitas Muslim yang baru terbentuk dan pencarian medan dakwah baru. Ayat ini adalah pembebasan dari beban psikologis untuk menyenangkan semua orang, dan pengalihan fokus pada kepatuhan mutlak kepada Sang Pencipta.

Pada akhirnya, Al-Hijr ayat 94 mengajarkan keseimbangan antara keberanian dalam menyampaikan kebenaran dan kebijaksanaan dalam memilih arena perjuangan. Ketegasan tanpa menyerah pada perintah Ilahi adalah inti dari ayat ini, sementara menjaga jarak dari reaksi negatif yang tidak membangun adalah strategi untuk mempertahankan energi spiritual dalam jangka panjang.

🏠 Homepage