Kajian Surat Al-Isra Ayat 105: Kebenaran dan Wahyu Ilahi

Surat Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, adalah salah satu surat penting dalam Al-Qur'an yang sarat akan hikmah dan pelajaran hidup. Di antara ayat-ayatnya, ayat ke-105 memiliki posisi sentral karena berbicara langsung mengenai penurunan Al-Qur'an sebagai wahyu yang hakiki dari Allah SWT.

Wahyu Ilustrasi visualisasi turunnya wahyu Ilahi ke bumi.

Teks Surat Al-Isra Ayat 105

Ayat ini merupakan penutup dari pembahasan mengenai kedudukan Al-Qur'an dan kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Berikut adalah teks aslinya dan terjemahannya:

وَبِالْحَقِّ أَنْزَلْنَاهُ وَبِالْحَقِّ نَزَلَ ۗ وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا مُبَشِّرًا وَنَذِيرًا
"Dan dengan kebenaran (Al-Qur'an) itulah Kami menurunkannya dan dengan kebenaran itulah ia turun. Dan Kami tidak mengutus kamu melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan."

Kandungan Utama dan Penafsiran

1. Penegasan Kebenaran Wahyu (Bil Haqq)

Frasa kunci dalam ayat ini adalah "Wa bil haqqi anzalnahu wa bil haqqi nazal" (Dan dengan kebenaran itulah Kami menurunkannya dan dengan kebenaran itulah ia turun). Kata "Al-Haqq" (Kebenaran) di sini memiliki makna yang sangat mendalam. Ini menegaskan bahwa Al-Qur'an bukan sekadar karangan atau pemikiran manusia, melainkan wahyu murni yang diturunkan oleh Allah SWT dengan kebenaran yang absolut.

Penurunan Al-Qur'an bersifat benar dari segala aspek: benar dalam ajarannya, benar dalam janji dan ancamannya, serta benar dalam setiap hukum yang dibawanya. Ketika ia turun, ia membawa kebenaran untuk meluruskan segala penyimpangan akidah dan moral yang terjadi di masyarakat jahiliah saat itu. Ini adalah jaminan ilahiah atas otentisitas kitab suci umat Islam.

2. Peran Kenabian: Pembawa Kabar Gembira dan Peringatan

Ayat ini melanjutkan dengan menjelaskan peran fundamental Nabi Muhammad SAW: "Wama arsalnaka illa mubassiran wa nadhira" (Dan Kami tidak mengutus kamu melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan).

Mubassiran (Pembawa Kabar Gembira): Tugas pertama adalah memberikan kabar baik kepada mereka yang beriman dan patuh terhadap ajaran Allah. Kabar gembira ini berupa pahala yang berlimpah, surga, kedamaian di dunia, dan keridaan Ilahi di akhirat. Pesan ini sangat penting untuk memotivasi umat agar rajin beribadah dan beramal saleh.

Nadhiran (Pemberi Peringatan): Tugas kedua adalah memberikan peringatan tegas kepada mereka yang menolak kebenaran, berbuat kemaksiatan, dan menyekutukan Allah. Peringatan ini merujuk pada azab neraka, kesulitan hidup, dan kerugian abadi di hari kiamat. Peringatan ini berfungsi sebagai upaya terakhir untuk menyadarkan manusia dari kesesatan.

Dengan demikian, Rasulullah SAW tidak datang hanya untuk memuji, tetapi juga untuk mengingatkan, menjalankan fungsi keseimbangan dalam dakwah.

Implikasi Ayat 105 dalam Kehidupan Muslim

Memahami Al-Isra ayat 105 membawa beberapa implikasi penting bagi setiap Muslim:

  1. Keyakinan Penuh terhadap Al-Qur'an: Ayat ini memperkuat keyakinan bahwa Al-Qur'an adalah sumber kebenaran yang tidak perlu diragukan lagi. Kehidupan harus selalu didasarkan pada pedoman yang termaktub di dalamnya.
  2. Meneladani Dakwah Nabi: Seorang Muslim dituntut untuk mengambil peran pewaris dakwah Nabi. Artinya, dalam mengajak orang lain menuju kebaikan, kita harus senantiasa memadukan antara motivasi (kabar gembira) dan ketegasan (peringatan) terhadap konsekuensi perbuatan buruk.
  3. Keseimbangan dalam Beragama: Ayat ini menunjukkan keseimbangan antara harapan dan ketakutan (Raja' dan Khauf). Seorang mukmin harus optimis terhadap rahmat Allah sambil tetap waspada terhadap ancaman siksanya.

Surat Al-Isra ayat 105 adalah penutup yang kuat, menegaskan bahwa inti dari risalah kenabian adalah penyampaian kebenaran wahyu secara menyeluruh, baik sebagai rahmat yang membahagiakan maupun sebagai teguran yang meluruskan. Pemahaman yang mendalam terhadap ayat ini akan semakin mengokohkan pijakan seorang hamba di jalan Allah SWT.

🏠 Homepage