Fokus pada Ayat dan Maknanya

Surat Al-Isra Ayat 107: Teks Arab dan Terjemahan

Ayat 107 dari Surat Al-Isra (atau Bani Israil) merupakan penegasan ilahi tentang kebenaran wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Ayat ini sering kali dikutip untuk menunjukkan bahwa Al-Qur'an adalah kebenaran mutlak yang datang dari sisi Allah SWT.

Wahyu Ilahi

Ilustrasi: Cahaya wahyu turun.

وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا
Dan Al-Qur'an telah Kami wahyukan secara terperinci supaya kamu membacakannya kepada manusia secara perlahan-lahan dan Kami menurunkannya secara bertahap. (QS. Al-Isra [17]: 107)

Kandungan dan Penjelasan Ayat

Surat Al-Isra ayat 107 ini secara khusus menyoroti metode penurunan Al-Qur'an. Allah SWT tidak menurunkan kitab suci ini sekaligus, melainkan secara bertahap (tanziilan) selama kurang lebih 23 tahun, sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan umat pada masa itu.

Poin utama yang ditekankan dalam ayat ini adalah perintah untuk membacanya secara perlahan-lahan atau terperinci ('ala mukts). Ini memiliki beberapa implikasi penting bagi umat Islam:

  1. Pemahaman Mendalam: Pembacaan yang bertahap memungkinkan hati dan akal manusia untuk mencerna makna setiap ayat secara utuh, bukan sekadar melafalkannya. Ini mendorong proses tadabbur (perenungan).
  2. Kemudahan Menghafal: Penurunan secara bertahap memudahkan para sahabat Nabi untuk menghafal, memahami, dan mengamalkan wahyu baru yang diturunkan.
  3. Kontekstualisasi Hukum: Banyak ayat hukum dan syariat yang turun sebagai respons atas peristiwa atau pertanyaan spesifik (asbabun nuzul). Pembacaan bertahap memastikan bahwa penerapan hukum selalu sesuai dengan konteks yang diinginkan Allah.

Ayat ini sekaligus menjadi bantahan terhadap kritik orang-orang musyrik yang mungkin mempertanyakan mengapa Al-Qur'an tidak diturunkan sekaligus seperti kitab-kitab terdahulu (misalnya Taurat). Allah menegaskan bahwa cara penurunan ini adalah metode yang paling efektif untuk membimbing umat manusia.

Pentingnya Pembacaan Bertahap (Tartil)

Kata 'ala mukts dalam ayat ini sering diinterpretasikan sebagai tartil—membaca dengan tenang, jelas, dan memperhatikan tajwidnya. Dalam banyak riwayat hadits, Rasulullah SAW sendiri diperintahkan untuk membaca Al-Qur'an dengan tartil.

Imam As-Suyuthi dan para mufassir lainnya menekankan bahwa kualitas pengamalan jauh lebih penting daripada kecepatan pembacaan. Membaca cepat tanpa meresapi maknanya sering kali mengurangi dampak spiritual dan edukatif dari teks suci tersebut.

Ayat 107 ini berfungsi sebagai landasan normatif bagi ilmu qira'at (seni membaca Al-Qur'an) dan metode pembelajaran Al-Qur'an sepanjang sejarah Islam. Ia mengajarkan bahwa proses penerimaan wahyu adalah proses yang terstruktur, membutuhkan kesabaran, dan membutuhkan penghormatan penuh terhadap cara penyampaiannya.

Oleh karena itu, ketika seorang Muslim membaca Surat Al-Isra ayat 107, ia diingatkan bahwa Al-Qur'an adalah mukjizat yang diturunkan secara terencana, dan tugas seorang Mukmin adalah menerima, merenungkan, dan mengamalkan setiap bagiannya dengan perlahan dan penuh kesadaran.

🏠 Homepage