Kajian Mendalam Surat Al-Isra Ayat 109

Ilustrasi Sujud dan Cahaya Kebenaran Ayat 109

Teks Asli Al-Isra Ayat 109 (QS. 17:109)

وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا ۩

Transliterasi

Wa yakhirrūna lil-adzqāni yabkūna wa yazīdūhum khushū'ā(n).

Artinya

"Dan mereka menyungkurkan muka sambil menangis, dan hal itu menambah kekhusyukan mereka."

Konteks dan Penjelasan Ayat

Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, merupakan surat ke-17 dalam Al-Qur'an yang kaya akan kisah perjalanan malam Nabi Muhammad SAW (Isra Mi'raj) dan memberikan banyak pelajaran penting mengenai akidah, etika, dan hukum. Ayat 109 ini menutup pembahasan panjang mengenai perbandingan antara orang-orang yang diberi ilmu dan orang-orang kafir, serta merupakan penutup yang sangat kuat.

Ayat ini secara spesifik menjelaskan reaksi orang-orang yang benar-benar memahami kebesaran wahyu Allah, terutama ketika mereka mendengarkan pembacaan ayat-ayat Al-Qur'an yang mengandung kebenaran hakiki. Reaksi ini adalah bentuk ketundukan spiritual yang mendalam.

1. Perintah untuk Bersujud (Yakhirrūna lil-adzqāni)

Frasa "menyungkurkan muka" (yakhirrūna lil-adzqāni) secara harfiah berarti mereka jatuh tertelungkup dengan wajah menempel ke tanah. Ini adalah puncak dari kerendahan hati dan ketundukan total. Dalam konteks spiritual, sujud adalah posisi terdekat seorang hamba dengan Tuhannya. Ini menunjukkan bahwa setelah memahami kebenaran Al-Qur'an, tidak ada respons logis lain selain pengakuan kelemahan diri di hadapan keagungan Sang Pencipta.

2. Tangisan Kebenaran (Yabkūna)

Tangisan yang disebutkan di sini bukanlah tangisan kesedihan duniawi, melainkan tangisan yang lahir dari kesadaran (khauf dan raja'). Mereka menangis karena menyadari keindahan, kebenaran, dan keadilan ajaran yang mereka dengar, sekaligus karena rasa takut akan dosa-dosa masa lalu yang telah mereka lakukan sebelum hidayah itu datang. Tangisan ini adalah bukti kejujuran hati mereka dalam beriman.

3. Peningkatan Kekhusyukan (Wa Yazīdūhum Khushū'ā)

Poin terpenting dari ayat ini adalah bahwa pengalaman spiritual tersebut (mendengar, bersujud, dan menangis) tidak membuat mereka merasa cukup, melainkan justru 'menambah' kekhusyukan mereka. Kekhusyukan (khusyū') adalah inti dari ibadah, yakni kehadiran hati sepenuhnya kepada Allah. Semakin mereka merenungkan keagungan ayat, semakin besar rasa takut dan cinta mereka, yang secara otomatis meningkatkan kualitas ibadah mereka. Ini adalah siklus positif spiritualitas.

Makna Komparatif dalam Konteks Sebelumnya

Ayat 109 ini datang setelah Allah SWT berfirman dalam ayat 108 yang menjelaskan bahwa ketika ayat-ayat Al-Qur'an dibacakan, orang-orang yang diberi ilmu (ulama atau orang beriman yang mendalam ilmunya) akan bersujud. Ayat 109 berfungsi sebagai penekanan dan deskripsi detail mengenai bentuk sujud tersebut. Mereka tidak hanya melakukan gerakan sujud secara fisik, tetapi sujud tersebut diiringi dengan air mata penyesalan dan pengakuan, serta menghasilkan peningkatan kualitas hubungan spiritual.

Hal ini kontras dengan kondisi orang-orang musyrik pada masa itu yang seringkali congkak dan menolak kebenaran Al-Qur'an meskipun ayat-ayat tersebut jelas. Mereka menolak bersujud, bahkan merasa direndahkan jika harus melakukannya. Ayat 109 menunjukkan bahwa kebenaran sejati akan selalu menarik hati orang-orang yang tulus, membuat mereka tunduk, menangis, dan semakin khusyuk di hadapan Allah.

Kekhusyukan yang diperoleh dari ayat-ayat Allah ini menjadi penanda otentisitas iman seseorang. Jika mendengar ayat suci hanya meninggalkan dampak dangkal atau bahkan tidak ada dampak sama sekali, ini mengindikasikan adanya penghalang dalam hati. Sebaliknya, respons terbaik adalah yang digambarkan dalam Al-Isra ayat 109: sujud, tangisan syukur dan takut, serta bertambahnya rasa dekat kepada Sang Pencipta.

🏠 Homepage