Kajian Mendalam Surat Al-Isra Ayat 107

Ilustrasi Cahaya dan Sujud كِتَاب

Surat Al-Isra, juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah salah satu surat penting dalam Al-Qur'an yang sarat dengan pelajaran sejarah, etika, dan tauhid. Di antara ayat-ayat yang penuh hikmah tersebut, ayat ke-107 memiliki bobot spiritual yang signifikan, seringkali dibahas dalam konteks pengakuan kebenaran Ilahi oleh mereka yang telah menerima wahyu.

Ayat 107 ini secara khusus menyoroti respons hati nurani dan spiritual ketika seseorang dihadapkan pada bukti kebenaran yang tak terbantahkan. Ini adalah pelajaran tentang kerendahan hati intelektual dan penerimaan atas petunjuk dari Allah SWT.

Teks dan Terjemahan Surat Al-Isra Ayat 107

قُلْ آمِنُوا بِهِ أَوْ لَا تُؤْمِنُوا ۚ إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا
Katakanlah: "Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi-Ku). Sesungguhnya orang-orang yang diberi ilmu sebelum turunnya (Al-Qur'an), apabila dibacakan (Al-Qur'an) kepada mereka, mereka menyungkurkan muka (wajah) mereka sambil bersujud."

Makna Inti Ayat: Pengakuan Orang Berilmu

Inti dari Surat Al-Isra ayat 107 terletak pada kontras antara kebebasan memilih manusia untuk beriman dan reaksi alami orang-orang berilmu (terutama dari kalangan Ahli Kitab yang telah menerima ilmu terdahulu) ketika mendengar ayat-ayat Al-Qur'an dibacakan.

1. Kebebasan Memilih (Ikhtiyar)

Bagian awal ayat, "Katakanlah: 'Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi-Ku)...'", menegaskan prinsip fundamental dalam Islam, yaitu kebebasan berkehendak (free will). Allah SWT tidak memaksa siapa pun untuk beriman. Iman adalah urusan hati yang harus datang dari kesadaran murni. Pernyataan ini menunjukkan bahwa keimanan memiliki konsekuensi bagi pelakunya, bukan sebagai penambah manfaat bagi Allah.

2. Kualitas Ilmu yang Sejati

Ayat ini kemudian menunjuk pada sekelompok orang yang "diberi ilmu sebelum turunnya (Al-Qur'an)". Dalam konteks tafsir klasik, ini merujuk pada para ulama dan rahib dari kalangan Yahudi dan Nasrani yang benar-benar memahami kitab-kitab suci mereka (Taurat dan Injil).

Mengapa mereka bersujud? Karena ilmu sejati yang mereka miliki telah mengajarkan mereka untuk mengenali tanda-tanda kenabian dan kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Ketika mereka mendengar Al-Qur'an, mereka melihat kesesuaian dan pembenaran terhadap apa yang telah mereka pelajari sebelumnya. Ilmu yang murni tidak akan menyembunyikan kebenaran, bahkan jika kebenaran itu datang dalam bentuk yang baru dan menantang status quo mereka.

3. Sujud sebagai Puncak Ketundukan

Tindakan "menyungkurkan muka (wajah) mereka sambil bersujud" (يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا) adalah manifestasi fisik dari penyerahan diri total (islam). Sujud adalah posisi terendah manusia di hadapan Tuhan, menunjukkan pengakuan mutlak atas keagungan Allah dan kebenaran wahyu-Nya. Ini bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan kerendahan hati total yang muncul dari kedalaman pengetahuan.

Pelajaran untuk Umat Saat Ini

Surat Al-Isra ayat 107 memberikan beberapa pelajaran relevan bagi umat Muslim saat ini:

  1. Integritas Intelektual: Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mendorong pemiliknya untuk tunduk pada kebenaran. Jika seseorang mempelajari banyak hal tetapi hatinya semakin keras kepala dan menolak petunjuk yang jelas, maka ilmunya belum mencapai tingkatan yang luhur sebagaimana yang digambarkan dalam ayat ini.
  2. Menghargai Kebenaran: Ayat ini mengingatkan bahwa kebenaran Al-Qur'an adalah standar pembeda. Mereka yang berilmu dari masa lalu segera mengenalinya, menunjukkan pentingnya penelitian dan pemahaman mendalam terhadap ajaran agama, bukan sekadar ikut-ikutan.
  3. Objektivitas dalam Menerima Wahyu: Orang-orang berilmu tersebut tidak mementingkan ego atau kepentingan kelompoknya. Ketika kebenaran datang, mereka meletakkan ego mereka dan bersujud. Sikap ini adalah teladan bagi setiap Muslim untuk senantiasa bersikap objektif dalam memahami ajaran Islam.

Hubungan dengan Ayat Sebelumnya dan Sesudahnya

Ayat 107 ini erat kaitannya dengan ayat 106, di mana Allah memerintahkan Nabi untuk membaca Al-Qur'an sesuai dengan yang diwahyukan. Ayat 107 menjadi respons terhadap kemungkinan penolakan dari kaum musyrik Mekkah. Allah seolah berfirman: "Katakanlah kepada mereka, pilihan ada di tangan mereka. Namun, ketahuilah bahwa orang-orang yang benar-benar berilmu dari kalangan mereka sendiri akan bersujud karena mereka tahu ini adalah kebenaran."

Sedangkan ayat sesudahnya (108) membahas tentang konsekuensi bagi mereka yang menolak dengan congkak, di mana mereka akan berkata dengan nada meremehkan, "Sesungguhnya janji Tuhan kami itu pasti terlaksana." Kontras antara sujud penuh hormat (ayat 107) dan penolakan sombong (ayat 108) menciptakan gambaran dramatis tentang dua jalur respons manusia terhadap kebenaran Ilahi.

Secara keseluruhan, Surat Al-Isra ayat 107 adalah janji sekaligus tantangan. Ia menjanjikan bahwa kebenaran Al-Qur'an akan dikenali oleh siapa pun yang memiliki hati yang terdidik oleh ilmu sejati, dan sujud adalah puncak pengakuan atas kebenaran tersebut.

🏠 Homepage