Ilustrasi konsep cahaya dan batasan dalam ayat.
Surat Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Al-Isra wal Mi'raj, adalah surah ke-17 dalam Al-Qur'an yang kaya akan hikmah dan petunjuk. Salah satu ayat yang paling mendalam maknanya terkait dengan sifat dan kekuasaan Allah adalah ayat ke-17.
"Dan sungguh, Kami telah mengulang-ulang dalam Al-Qur'an ini untuk menjelaskan (kepada manusia) dari setiap macam perumpamaan, tetapi kebanyakan manusia tidak mau menerima kecuali mengingkari." (QS. Al-Isra: 87)
Catatan Penting: Terdapat kekeliruan umum dalam penafsiran ayat 17 jika merujuk pada ayat yang sering dikutip mengenai "Cahaya Ilahi" atau "Cahaya Allah". Ayat yang secara eksplisit membahas cahaya Allah (an-Nur) adalah **Surat An-Nur ayat 35**. Namun, jika konteksnya adalah menyoroti bagaimana Al-Qur'an menyajikan peringatan universal (seperti yang tertera pada ayat 87 di atas, atau ayat lain yang berdekatan dengan ayat 17 dalam konteks peringatan), maka kita fokus pada bagaimana Allah menyajikan kebenaran.
Ayat 17 Al-Isra sendiri berbunyi: "Dan sungguh, Kami telah memberikan wahyu kepadamu (Muhammad) dari Al-Qur'an, dan Kami telah menampakkan padamu ayat-ayat yang jelas..." (Ayat 17 merujuk pada pemberian wahyu). Ayat-ayat yang datang setelahnya (seperti ayat 87 yang dikutip di atas) menekankan bahwa meskipun Allah telah menyajikan berbagai perumpamaan dan petunjuk, banyak manusia yang keras kepala dan menolak kebenaran tersebut, memilih kekufuran.
Inti dari ayat-ayat awal Al-Isra adalah pengukuhan kenabian Muhammad SAW dan otoritas Al-Qur'an sebagai sumber hukum dan petunjuk. Allah telah memberikan penjelasan sedemikian rupa, menggunakan berbagai cara agar mudah dipahami, namun penolakan seringkali datang bukan karena ketidakjelasan, melainkan karena kesombongan atau kecenderungan hati.
Jika Al-Isra ayat 17 (atau ayat-ayat sekitarnya) berbicara tentang kebenaran wahyu, maka ayat 32 berbicara tentang batasan moral fundamental dalam kehidupan sosial seorang Muslim. Ayat ini sangat tegas dalam melarang perbuatan zina dan segala bentuk perbuatan yang mengarah kepadanya.
"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." (QS. Al-Isra: 32)
Keindahan bahasa Al-Qur'an di sini terletak pada penggunaan kata "La taqrabū" (Janganlah kamu mendekati), bukan sekadar "Janganlah kamu berzina" (La tazni). Ini menunjukkan tingkatan pencegahan yang sangat tinggi dalam Islam. Larangan ini mencakup semua pintu gerbang dan pemicu yang mungkin membawa seseorang kepada perbuatan zina. Hal ini mencerminkan kepedulian Islam terhadap pemeliharaan kesucian individu dan keharmonisan masyarakat.
Ayat ini memberikan dua alasan utama mengapa zina harus dijauhi:
Dalam konteks mobile web saat ini, di mana batasan-batasan seringkali terasa kabur karena arus informasi yang masif, perintah untuk "tidak mendekati" ini menjadi sangat relevan. Ini mengajarkan kita untuk proaktif menjaga diri dari lingkungan, pandangan, atau interaksi yang bisa menjadi godaan menuju perbuatan maksiat. Mengikuti arahan dalam Surat Al-Isra ayat 32 berarti membangun benteng pertahanan spiritual yang kuat.
Meskipun terpisah jauh dalam urutan ayat, Al-Isra ayat 17 (mengenai kebenaran wahyu) dan Al-Isra ayat 32 (mengenai larangan perzinaan) menunjukkan satu kesatuan pesan: Islam adalah agama yang memberikan petunjuk (hidayah) yang jelas, dan petunjuk tersebut menuntut kepatuhan total, baik dalam pengakuan kebenaran (iman) maupun dalam implementasi syariat (amal), termasuk menjauhi hal-hal yang merusak fitrah manusia seperti zina.
Memahami kedua ayat ini membantu umat Islam untuk membedakan mana jalan cahaya kebenaran dan mana jalan kegelapan yang harus dihindari.