Surat Al-Isra Ayat 17 Latin dan Artinya

Ilustrasi Kehancuran Kaum Terdahulu Gambar skematis menunjukkan reruntuhan bangunan (melambangkan kehancuran kaum yang durhaka) di bawah cahaya bulan yang bersinar terang (melambangkan peringatan Ilahi). Hancur

Surat Al-Isra Ayat 17

وَاِذَآ اَرَدْنَآ اَنْ نُّهْلِكَ قَرْيَةً اَمَرْنَا مُتْرَفِيْهَا فَفَسَقُوْا فِيْهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنٰهَا تَدْمِيْرًا

Wa izā aradnā an nuhlika qaryatan amarnā mutrafīhā fafasiqu fīhā fahaqqa 'alaihal-qaulu fa dammarnāhā tadmīrā.

Artinya: Dan apabila Kami hendak membinasakan suatu negeri, Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (agar taat kepada Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan di negeri itu, maka pantaslah berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), lalu Kami membinasakannya sehancur-hancurnya.

Penjelasan dan Konteks Ayat

Surat Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an. Ayat ke-17 ini mengandung peringatan keras dari Allah SWT mengenai konsekuensi dari kemewahan yang diikuti dengan kezaliman dan pembangkangan. Ayat ini secara eksplisit menjelaskan sebuah pola kehancuran yang sering terjadi pada peradaban masa lalu.

Poin utama yang ditekankan adalah ketika Allah hendak menghukum suatu kaum atau negeri, Dia terlebih dahulu mengirimkan peringatan melalui utusan-Nya atau melalui pemberian kemudahan hidup. Orang-orang yang paling menikmati kemudahan dan kemewahan ('mutrafīhā')—biasanya mereka yang memegang kekuasaan atau memiliki harta berlimpah—justru menjadi yang paling pertama membangkang dan melakukan kerusakan ('fasiqu fīhā').

Makna "Mutrafīhā" dan Kedurhakaan

Kata "mutrafīhā" merujuk pada orang-orang yang hidup dalam kemewahan, kesenangan yang berlebihan, dan sering kali melampaui batas (ekstravaganza). Dalam banyak tafsir, mereka adalah golongan yang tenggelam dalam kesenangan duniawi hingga melupakan tanggung jawab moral dan agama mereka. Kemewahan itu sendiri bukanlah dosa, namun ketika kemewahan tersebut menjadi alat untuk menindas, berbuat maksiat, dan menolak kebenaran, maka ia menjadi titik tolak kebinasaan.

Kedurhakaan ('fasiqu fīhā') bisa berupa banyak hal: penindasan terhadap yang lemah, pengingkaran terhadap ayat-ayat Allah, perbuatan maksiat secara terang-terangan, atau penolakan terhadap seruan para Nabi dan Rasul. Ketika perilaku ini sudah merajalela dan masyarakat secara kolektif telah melampaui batas toleransi Ilahi ('fa haqqqa 'alaihal-qaulu'), maka turunlah keputusan penghakiman Allah.

Hukum yang Berlaku dan Kehancuran Total

Frasa "fa haqqqa 'alaihal-qaulu" berarti ketetapan atau janji Allah untuk menjatuhkan hukuman telah menjadi wajib terpenuhi. Ini bukan berarti Allah dipaksa, melainkan bahwa pelanggaran tersebut telah memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan-Nya sejak awal. Ayat ini menegaskan bahwa janji Allah pasti berlaku bagi mereka yang telah melanggar batas-batas-Nya.

Konsekuensinya adalah kehancuran total: "fadammernāhā tadmīrā" (lalu Kami membinasakannya sehancur-hancurnya). Kata "tadmiran" (bentuk masdar/verbal noun) menekankan intensitas kehancuran tersebut; bukan sekadar musibah ringan, melainkan pembinasaan yang menyeluruh dan paripurna. Sejarah bangsa-bangsa seperti kaum Nabi Luth, kaum 'Ad, dan Tsamud seringkali dijadikan pelajaran kontekstual bagi ayat ini.

Relevansi Kontemporer

Ayat Al-Isra ayat 17 memberikan pelajaran universal yang relevan bagi setiap zaman dan peradaban. Ia mengingatkan bahwa kemajuan materi dan kekayaan tidak menjamin keberlangsungan suatu bangsa. Justru sebaliknya, kemewahan yang tidak diimbangi dengan moralitas, keadilan sosial, dan ketaatan kepada prinsip-prinsip ketuhanan akan menjadi benih kehancuran itu sendiri.

Peringatan ini berlaku bagi individu maupun masyarakat. Ketika kenyamanan materi membuat seseorang lupa akan ibadah, lupa akan hak fakir miskin, dan terjerumus dalam kesombongan, maka ia sedang mendekati jurang yang telah ditandai oleh ayat suci ini. Allah memberikan kesempatan dan peringatan, namun ketika kesempatan itu disia-siakan dan peringatan diabaikan karena mabuk oleh kesenangan dunia, maka azab-Nya adalah konsekuensi yang tidak terhindarkan. Oleh karena itu, ayat ini berfungsi sebagai pengingat abadi untuk selalu bersyukur, berlaku adil, dan menjaga integritas moral di tengah segala bentuk kemudahan hidup.

🏠 Homepage