Setiap ayat dalam Al-Qur'an menyimpan petunjuk dan hikmah mendalam yang relevan sepanjang masa. Salah satu ayat yang sering menjadi sorotan dalam kajian keimanan dan etika sosial adalah **Surat Al-Isra ayat 17**. Ayat ini merupakan peringatan keras dari Allah SWT terhadap umat-umat terdahulu yang telah menyimpang dari jalan kebenaran, sekaligus menjadi cermin bagi umat Nabi Muhammad SAW.
Ayat ke-17 dari Surah Al-Isra (atau dikenal juga sebagai Surah Bani Israil) ini diletakkan setelah serangkaian ayat yang membahas tentang kebenaran tauhid, peringatan terhadap kesyirikan, dan pentingnya menjaga akhlak. Allah SWT mengingatkan manusia bahwa sejarah telah membuktikan konsekuensi logis dari pembangkangan kolektif.
Frasa kunci pertama, "Dan berapa banyaknya (penduduk) generasi yang telah Kami binasakan setelah Nuh", membawa kita kembali ke kisah Nabi Nuh AS. Nabi Nuh diutus untuk memperingatkan kaumnya tentang bahaya penyembahan berhala dan kezaliman. Setelah penolakan total, Allah menghancurkan kaum tersebut dengan banjir bandang. Peringatan setelah kisah Nuh ini menunjukkan bahwa ancaman pemusnahan bukan hanya terjadi pada satu zaman, melainkan sebuah pola siklus historis yang berulang ketika suatu masyarakat secara massal meninggalkan petunjuk Ilahi.
Periode setelah Nuh mencakup banyak peradaban besar yang kemudian runtuh karena korupsi moral, keangkuhan, dan penindasan. Ini bukan sekadar narasi masa lalu; ini adalah pelajaran empiris bahwa ketaatan adalah syarat utama kelangsungan sebuah peradaban.
Bagian kedua ayat ini memberikan penekanan kuat pada sifat-sifat Allah SWT yang Maha Sempurna, yaitu Al-Khabir (Maha Mengetahui) dan Al-Bashir (Maha Melihat). Hal ini berfungsi sebagai penutup yang menguatkan peringatan tersebut.
Allah mengetahui setiap detail dosa, niat tersembunyi, dan akar penyebab keburukan yang dilakukan oleh individu maupun kolektif. Tidak ada kejahatan yang luput dari pengetahuan-Nya, sekecil apapun itu. Pengetahuan-Nya meliputi masa lalu, sekarang, dan masa depan.
Jika Al-Khabir berkaitan dengan pengetahuan mutlak, Al-Bashir menegaskan bahwa Allah benar-benar menyaksikan seluruh perbuatan tersebut. Penglihatan-Nya mencakup yang tampak di mata manusia maupun yang tersembunyi di kedalaman hati. Kombinasi kedua sifat ini memastikan bahwa penghakiman atau konsekuensi yang diturunkan bukanlah berdasarkan dugaan atau informasi parsial, melainkan berdasarkan fakta yang sepenuhnya diketahui dan disaksikan oleh Pencipta alam semesta.
Mengapa ayat ini masih relevan hari ini? Di era modern, godaan untuk melampaui batas (transgresi) seringkali dilegitimasi oleh budaya populer atau konsumerisme. Generasi saat ini, meskipun memiliki teknologi dan ilmu pengetahuan yang maju, tetap menghadapi ujian moralitas yang sama seperti generasi terdahulu.
Surat Al-Isra ayat 17 mengajarkan kita bahwa kemajuan material tidak menjamin keselamatan abadi. Jika sebuah komunitas, baik secara institusional maupun sosial, secara sengaja dan terus-menerus mengabaikan prinsip keadilan, etika, dan kebenaran Ilahi, maka mereka sedang menempatkan diri dalam jalur kehancuran yang pernah dialami oleh kaum Nuh, 'Ad, Tsamud, dan lainnya.
Oleh karena itu, ayat ini berfungsi ganda: sebagai peringatan (Tazkirah) bahwa konsekuensi dosa kolektif itu nyata, dan sebagai motivasi (Targhib) untuk senantiasa sadar bahwa setiap tindakan, baik atau buruk, dicatat dan akan diadili oleh Sang Penguasa yang Maha Tahu dan Maha Melihat.
Memahami ayat ini mendorong umat Muslim untuk introspeksi diri secara mendalam, memastikan bahwa perilaku pribadi dan cara berinteraksi dalam masyarakat tidak mengundang murka Ilahi. Kesadaran akan pengawasan Allah SWT adalah benteng pertahanan terbaik melawan kebobrokan moral yang dapat menyeret sebuah peradaban menuju keruntuhan, sebagaimana yang telah Allah tunjukkan dalam sejarah umat-umat terdahulu.