Surat Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam urutan mushaf Al-Qur'an. Ayat kedua dari surat ini memiliki kedudukan penting karena menegaskan pemberian Al-Kitab (Taurat) kepada Musa AS, serta memberikan kabar gembira sekaligus peringatan keras bagi mereka yang mau menerima petunjuk.
Memahami makna ayat ini secara mendalam sangat relevan, terutama dalam konteks sejarah kenabian dan tantangan moral yang dihadapi umat manusia sepanjang masa. Berikut adalah teks lengkap Surat Al-Isra ayat 2 beserta transliterasi dan artinya.
Ayat kedua dari Surat Al-Isra ini menegaskan dua poin utama yang saling berkaitan: anugerah wahyu dan batasan dalam mencari pertolongan. Allah SWT secara spesifik menyebutkan pemberian Taurat kepada Nabi Musa AS. Ini adalah penegasan bahwa Allah telah memberikan panduan yang jelas, lengkap, dan sempurna kepada umat terdahulu.
Tujuan pemberian kitab suci tersebut bukanlah sekadar teks historis, melainkan *hudan* (petunjuk). Ini berarti Al-Kitab berfungsi sebagai kompas moral, spiritual, dan hukum yang mengarahkan Bani Israil menuju jalan yang diridhai Allah. Mereka yang menerima petunjuk ini akan terhindar dari kesesatan.
Namun, di balik anugerah ini, terdapat sebuah perintah tegas: "Janganlah kamu mengambil pelindung selain Aku." Kata *wakīl* dalam konteks ini berarti penolong, pembela, atau pelindung yang diserahkan segala urusan kepadanya. Allah memerintahkan Bani Israil (dan secara implisit seluruh umat manusia) untuk menjadikan Allah satu-satunya tempat bergantung.
Perintah untuk tidak mengambil pelindung selain Allah adalah inti dari ajaran Tauhid. Ketergantungan mutlak kepada Allah berarti menyadari bahwa segala daya dan upaya manusia hanyalah sarana, sementara hasil akhirnya sepenuhnya berada dalam kekuasaan-Nya. Jika seorang hamba mulai bergantung pada kekayaan, jabatan, kekuatan manusia lain, atau bahkan kekuatan sihir/ilmu sesat, maka ia telah melanggar instruksi fundamental ini.
Dalam penafsiran lebih lanjut, banyak ulama menjelaskan bahwa peringatan ini adalah respons langsung terhadap kecenderungan Bani Israil untuk seringkali menyimpang dari ajaran Allah setelah menerima wahyu. Mereka kerap kali mencari perlindungan politik kepada kekuatan-kekuatan duniawi di sekitar mereka, melupakan sumber kekuatan sejati mereka.
Ketika seorang Muslim menjadikan Allah sebagai *Wakīl* yang tunggal, maka ia akan menghadapi tantangan hidup dengan ketenangan dan keberanian. Ia tahu bahwa jika ia berpegang teguh pada petunjuk Al-Kitab (yang kini digenapi oleh Al-Qur'an), pertolongan Allah pasti akan datang, meskipun dalam bentuk yang tidak terduga.
Meskipun ayat ini ditujukan secara khusus kepada Bani Israil pada masa Nabi Musa AS, maknanya bersifat universal dan abadi. Al-Qur'an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah kelanjutan dan penyempurnaan dari petunjuk ilahi sebelumnya. Perintah untuk bertawakal penuh hanya kepada Allah tetap berlaku bagi setiap Muslim.
Dalam menghadapi berbagai krisis modern—baik krisis ekonomi, sosial, maupun spiritual—ayat ini mengingatkan kita bahwa solusi sejati tidak ditemukan dalam ideologi buatan manusia semata, tetapi dalam pedoman Ilahi yang otentik. Ketergantungan yang benar akan membuahkan ketenangan batin yang tidak bisa dibeli dengan materi manapun.
Jika kita merenungkan kata *wakīl*, ini juga menyiratkan tanggung jawab. Kita diperintahkan untuk berusaha sekuat tenaga (mengambil sebab), namun hasilnya kita serahkan sepenuhnya kepada Allah (tawakal). Ayat ini mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar manusiawi dan penyerahan ilahi, memastikan bahwa manusia tidak jatuh ke dalam dualisme kepercayaan: setengah percaya pada usaha sendiri dan setengah lagi pada kekuatan lain selain Allah.
Dengan demikian, Surat Al-Isra ayat 2 bukan sekadar catatan sejarah, melainkan sebuah fondasi akidah yang mengingatkan kita tentang sumber cahaya petunjuk dan satu-satunya sumber keamanan sejati.