Kajian Surat Al Isra Ayat 2 (Latin)

Teks Surat Al Isra Ayat 2 (Latin dan Arti)

Ilustrasi visualisasi hikmah dan petunjuk Petunjuk Ilahi

Wataaynaa Muusal Kitaaba Wa Ja’alnaahu Hudan Li Baniy Israa’iila Allaa Ta’khudzuu Min Duuni Waliyyan
(17:2)

Dan Kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan Kami jadikan Kitab itu petunjuk bagi Bani Israil, (dengan firman): "Janganlah kamu mengambil pelindung selain Aku."

Ayat kedua dari Surah Al-Isra' (atau dikenal juga sebagai Al-Isra’/Bani Israil) ini merupakan kelanjutan penting dari ayat pembuka yang memuji Allah SWT yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Qur'an) kepada hamba-Nya. Ayat 17:2 berfokus pada penetapan Kitab suci sebelumnya, yaitu Taurat, kepada Nabi Musa AS dan menetapkan prinsip fundamental bagi Bani Israil.

Penetapan Kitab Suci dan Peringatan Utama

Frasa "Wa ataaynaa Muusal Kitaab" menegaskan bahwa Allah adalah Zat Yang Maha Pemberi, dan salah satu anugerah terbesar yang diberikan kepada Nabi Musa adalah Kitab Taurat. Penegasan ini penting untuk menunjukkan konsistensi risalah kenabian; bahwa pesan dasar tauhid dan petunjuk telah disampaikan melalui nabi-nabi sebelumnya.

Kemudian, ayat tersebut melanjutkan dengan, "Wa ja'alnaahu hudan li Baniy Israa'iil", yang berarti Kitab itu dijadikan petunjuk bagi Bani Israil. Petunjuk ini mencakup hukum, etika, kisah, dan arahan spiritual untuk menjalani kehidupan yang diridai Allah. Ini menekankan bahwa Taurat adalah rahmat dan panduan khusus bagi keturunan Nabi Ya'qub AS.

Larangan Mengambil Pelindung Selain Allah

Puncak dari ayat ini terletak pada perintah tegas: "Allaa ta'khudzuu min duuni waliyyan" (Janganlah kamu mengambil pelindung selain Aku). Larangan ini adalah inti dari ajaran tauhid yang dibawa oleh semua nabi. "Waliy" (pelindung/penolong) di sini merujuk pada siapapun atau apapun yang dijadikan sandaran utama, sumber kekuatan, dan tempat berlindung di atas Allah SWT.

Bagi Bani Israil, perintah ini sangat relevan dalam konteks sejarah mereka yang sering kali terombang-ambing antara patuh pada syariat Allah dan cenderung mencari perlindungan pada kekuatan duniawi, baik itu kekuasaan politik negara lain (Mesir, Babilonia, Roma) maupun kepercayaan-kepercayaan yang menyimpang. Menggantungkan harapan sepenuhnya pada kekuatan selain Allah adalah bentuk syirik kecil (atau besar, tergantung konteksnya) yang akan menjauhkan mereka dari kebahagiaan sejati.

Relevansi Abadi bagi Umat Islam

Meskipun ayat ini ditujukan secara spesifik kepada Bani Israil saat itu, bagi umat Islam, ayat ini memiliki makna universal dan abadi. Ayat ini mengingatkan kita bahwa pemegang wahyu (baik Taurat maupun Al-Qur'an) harus berpegang teguh pada Tauhid. Mencari perlindungan (dalam arti bersandar penuh dan mencari solusi pertama) pada harta, pangkat, koneksi, atau kekuatan material tanpa melibatkan Allah dalam do'a dan tawakkal adalah penyimpangan yang diperingatkan sejak zaman Nabi Musa AS.

Al-Qur'an sendiri, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, juga berfungsi sebagai petunjuk utama bagi seluruh umat manusia. Oleh karena itu, prinsip fundamentalnya tetap sama: jadikan Allah satu-satunya Wali, satu-satunya Penolong yang hakiki, di mana segala urusan dikembalikan kepada-Nya, baik dalam kesulitan maupun kesenangan. Ayat ini mengajarkan kemandirian spiritual dari segala bentuk ketergantungan duniawi yang fana, dan ketergantungan total kepada Sang Pencipta alam semesta.

🏠 Homepage