Ilustrasi: Waspada terhadap prasangka dan spekulasi.
Surat Al-Isra' (atau Al-Isra' wal-Mi'raj) adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an. Ayat ke-36 dari surat ini memuat peringatan keras dari Allah SWT mengenai pentingnya menggunakan ilmu pengetahuan yang benar dan menjauhi dugaan serta spekulasi dalam berbicara dan bertindak.
Berikut adalah teks asli ayat tersebut:
Terjemahan dari ayat tersebut adalah:
Ayat ini adalah salah satu landasan fundamental dalam etika Islam terkait informasi dan pengetahuan. Larangan ini sangat tegas: "Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu." Kata "la taqfu" (jangan mengikuti) sering diartikan secara luas, mencakup mengikuti hawa nafsu, prasangka, gosip, atau klaim tanpa dasar bukti yang kuat.
Di era modern yang dibanjiri informasi, ayat ini menjadi semakin relevan. Islam menuntut seorang mukmin untuk bersikap kritis dan bertanggung jawab terhadap setiap informasi yang ia terima dan sebarkan. Jika seseorang mendengar suatu berita, ia tidak boleh langsung memercayai atau menyebarkannya sebelum memverifikasi kebenarannya. Tindakan ini mencegah penyebaran kebohongan (fitnah) dan menjaga ketertiban sosial.
Bagian kedua ayat ini memberikan alasan mengapa larangan tersebut sangat penting, yaitu dengan menyoroti fungsi tiga komponen utama manusia:
Ketiga komponen ini—pendengaran, penglihatan, dan hati—disebut "kullu ulā'ika kāna 'anhu mas'ūlā", yang berarti semuanya akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT. Ini berarti manusia tidak bisa berkelit dengan mengatakan, "Saya hanya mendengar," atau "Saya hanya melihat." Setiap input yang diterima dan bagaimana hati memprosesnya akan menjadi timbangan amal di Hari Kiamat.
Oleh karena itu, menjaga kualitas informasi yang masuk melalui panca indera dan memastikan hati berpegang teguh pada ilmu yang sahih adalah bentuk ketaatan tertinggi terhadap perintah dalam Surat Al-Isra' ayat 36 ini. Hidup yang didasarkan pada fakta dan wahyu adalah jalan menuju keselamatan.