Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an. Ayat ke-38 dari surat ini memegang peranan penting dalam membangun kerangka moral dan spiritualitas seorang Muslim. Ayat ini secara tegas mengingatkan kita bahwa setiap tindakan, baik atau buruk, akan mendapatkan pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT. Dalam konteks keseluruhan surat yang banyak membahas tentang keesaan Allah dan peringatan terhadap perbuatan tercela, ayat ini berfungsi sebagai penutup sekaligus penegasan konsep fundamental dalam Islam: akuntabilitas total.
Teks dan Terjemahan Surat Al-Isra Ayat 38
Ayat 38 ini seringkali dibaca bersamaan dengan ayat sebelumnya (Ayat 37) yang melarang kesombongan di muka bumi dan ayat-ayat lain yang membahas larangan mengikuti hawa nafsu yang menyesatkan. Ketika kita membaca frasa "Semua itu" (كُلُّ ذَٰلِكَ), konteksnya merujuk pada serangkaian larangan dan perintah yang telah disebutkan sebelumnya, seperti larangan mendekati zina, larangan membunuh jiwa tanpa hak, larangan mengambil harta anak yatim secara zalim, dan larangan berlaku sombong.
Makna Mendalam Larangan Perbuatan Buruk
Penekanan pada kata "makruh" (مَكْرُوهًا) yang diterjemahkan sebagai sesuatu yang dibenci atau tercela di sisi Tuhan, menunjukkan derajat pelanggaran tersebut. Dalam teologi Islam, ada tingkatan perbuatan, mulai dari mubah (diperbolehkan), sunnah (dianjurkan), wajib (diwajibkan), makruh (tidak disukai), hingga haram (dilarang keras). Ayat ini menegaskan bahwa perbuatan-perbuatan yang dilarang keras, seperti yang disebutkan sebelumnya, adalah hal yang sangat dibenci oleh Allah SWT.
Hal ini memberikan perspektif yang jelas bagi seorang mukmin. Keputusan untuk melakukan suatu tindakan bukan hanya didasarkan pada penilaian sosial atau legalitas duniawi, tetapi terutama pada penilaian ilahi. Jika sesuatu itu "makruh" di sisi Allah, maka tidak peduli seberapa populer atau menguntungkan di mata manusia, seorang Muslim wajib menjauhinya.
Implikasi Moral dan Spiritual
Ayat ini menuntut introspeksi diri yang mendalam. Menjauhi perbuatan dosa memerlukan pengendalian diri yang kuat terhadap nafsu (syahwat) dan godaan duniawi. Surat Al-Isra secara keseluruhan seringkali menjadi panduan hidup yang utuh, mencakup etika sosial, hubungan dengan orang tua, hingga prinsip ekonomi yang adil. Ayat 38 menjadi semacam penutup yang mengikat semua pelajaran tersebut.
1. Menghindari Kesombongan
Karena seringkali perbuatan dosa besar seperti membunuh atau berbuat curang didorong oleh rasa superioritas dan kesombongan, ayat ini mengingatkan bahwa segala bentuk keangkuhan tersebut adalah hal yang sangat dibenci. Keangkuhan menutup pintu hidayah dan membuat seseorang meremehkan perintah dan larangan Allah.
2. Pentingnya Keadilan
Perintah untuk menjaga harta anak yatim dan berlaku adil dalam timbangan adalah inti dari ajaran sosial Islam. Ayat ini menegaskan bahwa ketidakadilan sekecil apa pun, jika bertentangan dengan perintah Allah, akan dicatat sebagai perbuatan yang tercela. Ini mendorong umat Islam untuk selalu berpegang teguh pada prinsip integritas dalam segala transaksi dan interaksi.
Konteks dengan Ayat Sebelumnya
Untuk benar-benar memahami urgensi ayat 38, kita harus melihat rangkaiannya. Ayat 35 misalnya, berbicara tentang bagaimana Allah menuntut kejujuran dalam berniaga. Ayat 36 secara eksplisit melarang mengikuti sesuatu yang tidak didasari ilmu pengetahuan (dugaan atau hawa nafsu). Kemudian, ayat 37 membatasi cara berjalan di muka bumi (tidak boleh sombong). Maka, ayat 38 berfungsi sebagai ringkasan dan penekanan: Semua pelanggaran terhadap prinsip-prinsip etika dan moral yang telah disebutkan tersebut adalah perbuatan yang dibenci Allah.
Oleh karena itu, Surat Al-Isra ayat 38 bukan sekadar peringatan, melainkan sebuah fondasi untuk membangun karakter yang diridai Allah. Pemahaman yang mendalam terhadap ayat ini akan mendorong seorang Muslim untuk senantiasa memfilter setiap niat dan tindakan berdasarkan standar ilahi, menjauhi segala sesuatu yang mendatangkan kebencian dan murka-Nya, dan berusaha keras untuk meraih ridha-Nya.