"Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan angkuh, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan dapat menembus bumi, dan sekali-kali kamu tidak akan mencapai ketinggian gunung." (QS. Al-Isra: 37)
Surat Al-Isra ayat 37 adalah salah satu pilar ajaran Islam yang sangat menekankan pentingnya kerendahan hati (tawadhu) dan menjauhi sifat kesombongan (kibr). Ayat ini datang setelah serangkaian perintah dan larangan yang mengatur perilaku sosial dan spiritual seorang Muslim. Setelah membahas tentang larangan membunuh anak karena kemiskinan (ayat 31) dan larangan mendekati zina (ayat 32), Allah SWT kemudian mengingatkan manusia akan batasan eksistensinya.
Perintah "Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan angkuh" secara harfiah melarang cara berjalan yang menunjukkan keangkuhan—langkah yang terlalu lebar, langkah yang menggoyang-goyangkan tubuh, atau pandangan mata yang merendahkan orang lain. Namun, makna yang terkandung jauh lebih dalam daripada sekadar gaya berjalan. Ini adalah larangan untuk merasa superior melebihi batasan yang ditetapkan Allah SWT.
Dua ungkapan penutup dalam ayat ini berfungsi sebagai pembuktian logis mengapa kesombongan itu sia-sia: "karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan dapat menembus bumi, dan sekali-kali kamu tidak akan mencapai ketinggian gunung."
Gunung dan bumi melambangkan batas fisik alam semesta yang diciptakan Allah. Gunung adalah simbol ketinggian dan keagungan fisik. Jika manusia, dengan segala kemajuan teknologinya, tetap tidak mampu menembus inti bumi atau menyaingi ketinggian gunung-gunung yang diciptakan-Nya, bagaimana mungkin ia bisa merasa lebih tinggi atau lebih agung dari ciptaan Allah yang lain, apalagi dari Allah sendiri?
Kesombongan adalah penolakan implisit terhadap kebesaran Tuhan. Ketika seseorang berjalan dengan angkuh, ia seolah-olah menyatakan bahwa kekuatan, kekuasaan, dan eksistensinya mandiri dan tak terbatas, padahal ia adalah makhluk yang diciptakan dari setetes air hina, memiliki ajal yang sudah ditentukan, dan segala kemampuannya adalah titipan.
Ajaran dalam Al-Isra ayat 37 mengarahkan umat Islam menuju tawadhu yang sejati. Kerendahan hati bukan berarti lemah atau rendah diri, melainkan kesadaran diri akan posisi yang sebenarnya di hadapan Sang Pencipta.
Pada intinya, Surat Al-Isra ayat 37 adalah pengingat abadi bahwa manusia adalah makhluk fana dengan keterbatasan nyata. Mengakui keterbatasan ini adalah langkah pertama menuju ketenangan jiwa dan ketaatan sejati kepada Allah SWT.