Pengantar Surat Al-Isra Ayat 41
Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah salah satu surat terpanjang dalam Al-Qur'an yang sarat dengan peringatan, kisah-kisah nubuwwah, dan pedoman moral. Di antara ayat-ayat yang memiliki makna mendalam, Surat Al-Isra ayat 41 menempati posisi penting karena membahas tentang bagaimana seharusnya seorang mukmin memposisikan hubungannya dengan Allah SWT dalam hal tauhid dan penolakan terhadap segala bentuk kesyirikan. Ayat ini merupakan penegasan kembali doktrin dasar Islam: keesaan Allah dan penolakan terhadap persekutuan dalam ibadah.
Ayat ini sering dikutip untuk mengingatkan umat Islam agar senantiasa menjaga kemurnian akidah mereka, khususnya dalam konteks peringatan terhadap orang-orang musyrik yang seringkali mencoba mencampurkan unsur-unsur khurafat atau penyembahan berhala dengan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Memahami ayat ini secara utuh membantu seorang mukmin untuk hidup dengan kesadaran penuh bahwa segala bentuk pujian, permintaan, dan penyembahan hanyalah layak ditujukan kepada Sang Pencipta semata.
Teks dan Terjemahan Surat Al-Isra Ayat 41
Analisis Konteks Ayat
Ayat ke-41 ini diletakkan setelah serangkaian ayat (seperti ayat 39-40) yang berisi larangan untuk menyekutukan Allah dan penegasan bahwa Allah memuliakan siapa yang Dia kehendaki dan merendahkan siapa yang Dia kehendaki. Ayat 41 secara spesifik menyoroti reaksi negatif yang timbul dari sebagian orang ketika ajaran tauhid murni disuarakan.
Frasa kunci dalam ayat ini adalah "وَإِذَا ذَكَرْتَ رَبَّكَ فِي الْقُرْآنِ وَحْدَهُ" (Dan apabila Engkau menyebut Tuhanmu saja dalam Al-Qur'an). Maksud dari "menyebut Tuhanmu saja" adalah ketika Nabi Muhammad SAW membaca atau menegaskan keesaan Allah SWT, menekankan bahwa hanya Dia yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan tidak ada perantara yang diperlukan dalam hubungan hamba dengan Pencipta.
Reaksi yang muncul adalah "وَلَّوْا عَلَىٰ أَدْبَارِهِمْ نُفُورًا" (mereka berpaling membelakangimu dengan rasa menjauh). Kata 'nufūran' menunjukkan rasa jijik, lari menjauh, atau penolakan yang disertai dengan rasa enggan yang mendalam. Reaksi ini sangat khas pada orang-orang musyrik Mekkah pada masa itu. Ketika topik beralih pada pembahasan mengenai keesaan Allah dan penolakan terhadap berhala-berhala yang mereka sembah, mereka merasa terancam dan memilih untuk berpaling, seolah-olah ajaran tauhid adalah sesuatu yang sangat menjijikkan bagi mereka.
Relevansi dan Pelajaran Kehidupan
Makna mendalam dari Surat Al-Isra ayat 41 tidak hanya terbatas pada konteks sejarah di masa kenabian. Ayat ini memberikan pelajaran universal tentang ujian terhadap keimanan. Ketika kita berbicara tentang kebenaran mutlak—yaitu tauhid—selalu ada potensi penolakan dari mereka yang hatinya telah tertutup oleh hawa nafsu, tradisi yang salah, atau keterikatan pada duniawi.
Ayat ini mengajarkan ketegaran (istiqamah) kepada para penganut kebenaran. Meskipun dakwah tauhid menimbulkan reaksi penolakan atau pengabaian, seorang mukmin harus tetap teguh menyampaikan pesan tersebut. Sikap berpaling mereka menunjukkan betapa beratnya membawa ajaran yang memurnikan ibadah dari segala macam penyimpangan. Mereka lebih memilih jalan yang mudah, yaitu mengikuti nenek moyang atau pemikiran dangkal, daripada menerima kebenaran yang menuntut pengorbanan dalam bentuk pemurnian keyakinan.
Lebih jauh lagi, ayat ini menjadi cermin bagi umat Islam kontemporer. Apakah kita masih menemukan penolakan serupa ketika ajaran Islam yang murni—yang menekankan ketaatan total hanya kepada Allah—disampaikan? Seringkali, masyarakat cenderung nyaman dengan sinkretisme atau pencampuran ajaran yang memberikan kelonggaran pada praktik-praktik yang sebenarnya bertentangan dengan sunnah. Oleh karena itu, ayat 41 ini adalah pengingat untuk terus berani menjadi suara yang lantang dalam menyeru kepada tauhid, meskipun harus menghadapi 'rasa menjauh' dari orang-orang yang belum tercerahkan.
Intinya, Al-Isra ayat 41 adalah sebuah deskripsi faktual mengenai respons alami jiwa yang menolak kebenaran yang menuntut perubahan mendasar dalam konsep ketuhanan mereka. Bagi seorang Muslim, ini adalah motivasi untuk tidak pernah lelah dalam mendakwahkan keesaan Allah, sambil tetap bersabar menghadapi penolakan yang pasti akan datang.