Menggali Janji Ilahi: Surah Al-Isra Ayat 4

Ilustrasi Simbolik Janji dan Ketaatan Gambar abstrak yang menampilkan jalur yang bercabang dan batu tulis yang diukir, melambangkan pilihan antara ketaatan dan konsekuensinya. Awal وَ (Janji) Tujuan
وَقَضَيْنَا إِلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ فِي الْكِتَابِ لَتُفْسِدُنَّ فِي الْأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرًا
"Dan Kami tetapkan kepada Bani Israil dalam Kitab itu: 'Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di bumi ini dua kali, dan pasti kamu akan menjadi sombong (melampaui batas) dengan kesombongan yang besar.'" (QS. Al-Isra: 4)

Konteks Wahyu yang Tegas

Surah Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Al-Isra wal Mi'raj, dibuka dengan pensucian nama Allah SWT dan pengakuan atas keagungan-Nya. Setelah ayat pembuka yang memukau, ayat keempat ini hadir sebagai sebuah peringatan keras yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW mengenai sejarah dan nasib Bani Israil (keturunan Ya’qub AS). Ayat ini bukan sekadar narasi masa lalu, melainkan sebuah penegasan hukum ilahi yang telah dicatat dalam Taurat (Kitab).

Frasa kunci dalam ayat ini adalah "wa qadhaynā ilā banī isrā’īl fīl-kitāb" (Dan Kami tetapkan kepada Bani Israil dalam Kitab itu). Ini menegaskan bahwa peringatan ini bukanlah interpretasi baru, melainkan ketetapan yang sudah ada dalam kitab suci yang diturunkan sebelumnya. Allah SWT memberitahukan secara spesifik dua kali kerusakan besar yang akan mereka lakukan di muka bumi.

Dua Kali Kerusakan dan Puncak Kesombongan

Pesan utama dari ayat ini berkisar pada dua poin utama yang saling berkaitan: kerusakan (fasad) dan kesombongan (uluwwan kabīrā). Sebagian besar mufasir mengaitkan dua kerusakan ini dengan dua periode kehancuran besar yang dialami Bani Israil akibat penyimpangan mereka dari ajaran tauhid dan pelanggaran perjanjian dengan Allah.

Kerusakan pertama sering diinterpretasikan sebagai kehancuran yang disebabkan oleh bangsa yang zalim (seperti Nebukadnezar dari Babilonia) yang menghancurkan Baitul Maqdis (Kuil di Yerusalem) dan menawan sebagian besar Bani Israil. Ini terjadi karena mereka mulai menyembah selain Allah, membunuh nabi-nabi, dan melanggar hukum-hukum yang ditetapkan.

Puncak dari peringatan ini terletak pada konsekuensi kedua: "wa la ta'lawnna 'uluwwan kabīrā" (dan pasti kamu akan menjadi sombong dengan kesombongan yang besar). Kesombongan ini merupakan esensi dari kerusakan mereka. Ini merujuk pada arogansi spiritual, keyakinan bahwa mereka adalah umat pilihan tanpa syarat, dan penolakan mereka terhadap kebenaran yang dibawa oleh para rasul, termasuk Nabi Isa AS dan akhirnya Nabi Muhammad SAW. Kesombongan membuat mereka merasa berhak melanggar batas-batas moral dan hukum ilahi.

Relevansi Historis dan Universalitas Pelajaran

Periode kedua kerusakan sering dikaitkan dengan penaklukan Yerusalem oleh Romawi di bawah Jenderal Titus, yang berujung pada penghancuran total Baitul Maqdis kedua. Peristiwa ini menjadi bukti nyata bahwa janji dan peringatan ilahi bersifat akurat dan tidak dapat dibatalkan. Allah SWT memperingatkan mereka setelah memberikan kemudahan dan kekuasaan, namun ketika kekuasaan itu disalahgunakan untuk menindas dan menyombongkan diri, hukuman pun datang sebagai bentuk keadilan ilahi.

Namun, ayat ini tidak hanya ditujukan secara eksklusif kepada Bani Israil. Dalam konteks Islam, ayat ini berfungsi sebagai pelajaran universal. Setiap umat yang diberi nikmat, wahyu, atau kedudukan sosial—jika kemudian mereka jatuh ke dalam kesombongan, penindasan (fasad), dan melupakan syukur—maka mereka berada dalam lintasan sejarah yang sama yang telah diperingatkan dalam Al-Isra ayat 4.

Ketaatan Sebagai Penyelamat

Ayat 5 yang langsung menyusul ayat 4 berfungsi sebagai penawar atau solusi. Jika ayat 4 adalah peringatan tentang hukuman akibat kerusakan dan kesombongan, ayat 5 menjelaskan siapa yang akan menerima pertolongan pertama. Allah SWT akan mengirimkan hamba-hamba-Nya yang memiliki kekuatan untuk menghukum mereka yang telah melampaui batas. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada janji kehancuran, ketaatan sejati dan ketundukan pada hukum Tuhan adalah satu-satunya jalan untuk menghindari lintasan kehancuran tersebut.

Memahami Surah Al-Isra ayat 4 membantu umat Islam untuk selalu waspada terhadap bahaya internal: kesombongan yang menyertai kemudahan hidup dan kecenderungan untuk berbuat kerusakan (fasad) di bumi. Ini adalah pengingat abadi bahwa kekuasaan dan pengetahuan hanyalah amanah, dan penyalahgunaannya pasti akan menghadapi konsekuensi yang telah ditetapkan dalam Kitab Suci.

🏠 Homepage