Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, merupakan salah satu surat penting dalam Al-Qur'an yang sarat dengan pelajaran sejarah, hukum, dan akidah. Di antara ayat-ayatnya yang padat makna, terdapat satu ayat yang seringkali menjadi sorotan dalam pembahasan tentang konsekuensi logis dari kebenaran wahyu Allah, yaitu **Surat Al-Isra ayat 43**.
Ayat ini berfungsi sebagai penegasan bahwa Al-Qur'an adalah firman murni dari Allah SWT, dan bukan sekadar karangan atau ucapan manusia biasa. Pemahaman mendalam terhadap ayat ini membantu memperkuat keyakinan (iman) bahwa sumber ajaran Islam berasal dari Dzat Yang Maha Kuasa.
Artinya: "Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangkan (perumpamaan-perumpamaan) dalam Al-Qur'an ini kepada manusia dengan bermacam-macam perumpamaan; tetapi kebanyakan manusia enggan (menerima), kecuali dengan penolakan." (QS. Al-Isra [17]: 43)
Ayat ini memuat dua poin utama yang saling terkait erat. Pertama, penegasan bahwa Allah telah menyajikan ajaran-Nya dalam berbagai bentuk penyampaian, termasuk metafora, perumpamaan (matsal), dan analogi yang mudah dicerna oleh akal manusia. Tujuannya jelas, yaitu agar pesan ilahi dapat diterima dan dipahami oleh berbagai lapisan masyarakat, terlepas dari latar belakang pendidikan mereka.
Penyajian yang beragam ini menunjukkan kasih sayang dan kemudahan yang diberikan Allah dalam menyampaikan petunjuk. Seandainya Allah hanya menyampaikan wahyu dalam satu format yang kaku, besar kemungkinan banyak manusia akan kesulitan mencernanya.
Poin kedua yang diangkat ayat ini adalah tentang respons alami manusia terhadap kebenaran yang disajikan tersebut: "tetapi kebanyakan manusia enggan (menerima), kecuali dengan penolakan."
Frasa "kāna al-insānu akthara shay’in jadalā" secara harfiah berarti "manusia adalah makhluk yang paling banyak mendebat." Kata 'jadal' di sini tidak selalu berarti debat konstruktif, melainkan cenderung mengarah pada perdebatan yang didorong oleh hawa nafsu, keangkuhan, atau ketidakmauan untuk tunduk pada kebenaran yang datang dari luar ego pribadinya.
Ironisnya, meskipun Al-Qur'an telah menyajikan bukti, argumentasi, dan perumpamaan yang sangat jelas—bahkan mengulanginya dalam berbagai cara—mayoritas manusia justru memilih sikap skeptis dan argumentatif. Mereka mencari celah untuk membantah, bukan untuk mencari kebenaran.
Surat Al-Isra ayat 43 memberikan pelajaran penting tentang sifat dasar manusia dalam menerima wahyu ilahi. Ini menunjukkan bahwa tantangan terbesar dalam dakwah bukanlah pada kekurangan bukti atau kejelasan pesan, melainkan pada resistensi internal dalam diri manusia itu sendiri.
Resistensi ini sering kali muncul karena beberapa faktor:
Ayat ini mengingatkan kita, sebagai umat Islam, bahwa tugas kita adalah menyampaikan kebenaran sejelas mungkin, sebagaimana Allah telah melakukannya dengan "mengulang-ulang perumpamaan." Namun, kita juga harus menyadari bahwa respons negatif atau perdebatan sengit yang muncul seringkali bukan refleksi dari kelemahan argumen kita, melainkan cerminan dari kondisi hati lawan bicara yang keras kepala dan cenderung berdebat.
Oleh karena itu, Surat Al-Isra ayat 43 mendorong seorang mukmin untuk senantiasa bersabar dalam berdakwah, sambil terus merenungkan betapa Agungnya Allah yang telah menyajikan kebenaran dalam kemasan yang paling mudah dipahami, namun tetap menghadapi penolakan karena sifat dasar manusia yang cenderung mendebat.