Mengenal Kekuatan Pengutusan Pertama

Ilustrasi Simbol Kekuatan dan Pengutusan Wahyu 💡

Teks Suci: Surat Al-Isra Ayat 5

Ayat kelima dari Surah Al-Isra (atau Bani Israil) adalah salah satu pengingat penting mengenai siklus penghancuran umat terdahulu dan bagaimana Allah mengutus generasi penerus dengan kekuatan baru.

وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّـٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
"Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an suatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur'an itu tidak menambah apa-apa bagi orang-orang yang zalim selain kerugian." (QS. Al-Isra: 82)

Fokus Utama: Surat Al-Isra Ayat 5

وَقَضَيْنَا إِلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ فِي الْكِتَابِ لَتُفْسِدُنَّ فِي الْأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرًا
"Dan Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu dua kali (suatu keputusan): 'Kamu pasti akan membuat kerusakan di bumi ini pada dua kali kesempatan dan pasti akan berlaku sombong dengan kesombongan yang besar'." (QS. Al-Isra: 5)

Penjelasan Mendalam Ayat 5

Surat Al-Isra ayat 5 memulai serangkaian pemberitahuan keras dari Allah SWT kepada Bani Israil mengenai sifat dan sejarah mereka dalam berinteraksi dengan nikmat kenabian dan kitab suci. Ayat ini secara tegas memberitakan dua kali kerusakan besar (fasad) yang akan mereka lakukan di muka bumi.

Makna Dua Kali Kerusakan

Para mufassir umumnya sepakat bahwa dua kali kerusakan yang dimaksud memiliki kaitan historis yang jelas. Kerusakan pertama terjadi ketika mereka menyebarkan kejahatan dan melanggar perjanjian mereka setelah Allah memberikan mereka kekuasaan pertama di bumi, misalnya setelah penaklukan Baitul Maqdis di bawah kepemimpinan Nabi Musa atau Nabi Yusya' bin Nun. Akibat dari kerusakan ini, Allah menghukum mereka dengan mengirimkan musuh yang hebat untuk menindas dan menghancurkan kekuasaan mereka.

Kerusakan kedua, yang menjadi puncak kesombongan mereka, terjadi menjelang datangnya Islam. Kerusakan kedua ini sering dikaitkan dengan pembunuhan para nabi, penolakan terhadap kebenaran yang dibawa oleh para utusan Allah, dan kesombongan luar biasa terhadap kebenaran yang hakiki. Dalam konteks ini, kesombongan ('uluwwan kabiran') bukan hanya berarti keangkuhan sosial, tetapi juga penolakan total terhadap otoritas Ilahi.

Konsekuensi dari Kesombongan

Penting dicatat bahwa hukuman yang dijanjikan bagi pelanggaran ini adalah penindasan dan penghancuran. Frasa "dan pasti akan berlaku sombong dengan kesombongan yang besar" menunjukkan bahwa kesalahan utama mereka adalah arogansi intelektual dan spiritual. Mereka merasa lebih superior karena memiliki kitab suci (Taurat) dan sejarah kenabian, namun mereka gagal mengamalkan isinya.

Ayat ini berfungsi sebagai peringatan universal. Meskipun ditujukan kepada Bani Israil, pelajaran ini berlaku bagi umat mana pun yang diberikan kelebihan (ilmu, kekuasaan, atau nikmat) namun menyalahgunakannya dengan kesombongan dan merusak tatanan yang telah ditetapkan Allah. Kekuatan atau superioritas yang didapat tidak akan bertahan jika diiringi dengan kezaliman dan kesombongan.

Implikasi Bagi Umat Muslim

Meskipun ayat ini berbicara spesifik tentang Bani Israil, ia mengandung pelajaran penting bagi umat Nabi Muhammad SAW. Kisah terdahulu menjadi cermin agar umat Islam tidak mengulangi kesalahan yang sama setelah menerima kelebihan yang jauh lebih besar, yaitu Al-Qur'an.

Jika Bani Israil diazab karena melanggar Taurat, maka umat Islam harus sangat berhati-hati dalam menyikapi Al-Qur'an. Menjadi umat terbaik (khairu ummah) bukanlah karena keturunan atau pengakuan otomatis, melainkan karena konsistensi dalam menegakkan keadilan, bersikap rendah hati, dan tidak menyalahgunakan kebenaran yang telah diwahyukan.

Ketika umat Islam mulai menunjukkan tanda-tanda kesombongan, melupakan ajaran inti, atau menggunakan kelebihan ilmu untuk menindas yang lemah, maka ancaman siklus kerusakan dan penindasan historis ini dapat terulang dalam bentuk dan waktu yang berbeda. Oleh karena itu, ayat Al-Isra ayat 5 ini menjadi pengingat abadi tentang pentingnya integritas moral seiring dengan kepemilikan kebenaran.

Tafsir lengkap menunjukkan bahwa rahmat Allah berlaku bagi mereka yang beriman dan tunduk, bukan bagi mereka yang menyombongkan diri atas pengetahuan yang mereka miliki. Kepatuhan adalah kunci keberlangsungan kemuliaan, sementara kesombongan adalah benih kehancuran yang telah dinubuatkan.

Perenungan atas firman Allah SWT.

🏠 Homepage