Menggali Hikmah Surat Al-Isra Ayat 50: Batasan Kemampuan Manusia

? Jawaban Ilahi Konsep Kekuatan & Batasan

Visualisasi konsep pertanyaan akan hari kebangkitan dan jawaban mutlak dari Allah.

Teks Surat Al-Isra Ayat 50

قُلْ كُونُوا حِجَارَةً أَوْ حَدِيدًا

Katakanlah: "Jadilah kamu batu atau besi,"

أَوْ خَلْقًا مِمَّا يَكْبُرُ فِي صُدُورِكُمْ ۚ فَسَيَقُولُونَ مَنْ يُحْيِينَا ۖ قُلِ الَّذِي فَطَرَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ ۚ فَسَيُنْغِضُونَ إِلَيْكَ رُءُوسَهُمْ وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هُوَ ۖ قُلْ عَسَىٰ أَنْ يَكُونَ قَرِيبًا

atau makhluk lain yang lebih keras yang ada dalam dada kamu." Maka mereka akan bertanya, "Siapakah yang akan menghidupkan kami kembali?" Katakanlah: "Yang menciptakan kamu pertama kali." Lalu mereka menggeleng-gelengkan kepala kepada kamu dan berkata, "Kapan itu terjadi?" Katakanlah: "Boleh jadi waktunya sudah dekat."

Konteks Turun dan Penegasan Kekuasaan

Surat Al-Isra ayat ke-50, beserta kelanjutannya hingga ayat 52, merupakan respons tegas Allah SWT terhadap keraguan kaum musyrikin Mekkah mengenai kebangkitan (ba'ats) setelah kematian. Ketika Nabi Muhammad SAW menyampaikan risalah tentang Hari Kiamat, di mana manusia akan dibangkitkan kembali untuk mempertanggungjawabkan amal perbuatannya, mereka menanggapi dengan ejekan dan skeptisisme yang mendalam.

Ayat 50 diawali dengan perintah kepada Rasulullah ﷺ untuk menantang mereka dengan pertanyaan retoris yang sangat kuat: "Katakanlah: 'Jadilah kamu batu atau besi,' atau makhluk lain yang lebih keras yang ada dalam dada kamu." Tantangan ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa sekeras dan sekeras apapun materi atau wujud yang mereka bayangkan, bagi Zat yang Maha Kuasa (Allah), mengubah wujud dan menghidupkan kembali adalah hal yang sangat mudah. Jika mereka menganggap diri mereka telah hancur menjadi batu atau besi—materi yang dianggap paling padat dan mati—Allah menegaskan bahwa menciptakan kembali dari materi tersebut sama mudahnya dengan penciptaan awal.

Batu, Besi, dan Makhluk yang Lebih Keras

Mengapa disebutkan batu dan besi? Dalam konteks zaman itu, batu (sebagai wujud benda mati yang keras) dan besi (sebagai zat buatan manusia yang paling kokoh) mewakili batas atas kekerasan dan keabadian materi di pandangan mereka. Namun, Allah menambahkan frasa "atau makhluk lain yang lebih keras yang ada dalam dada kamu." Frasa ini sering diartikan sebagai tantangan spiritual dan eksistensial. Sesuatu yang ada di dalam dada manusia adalah hati dan akal, yang jika dikunci oleh kesombongan dan kekafiran, bisa menjadi lebih keras dan lebih sulit ditembus oleh kebenaran dibandingkan batu atau besi fisik.

Inti dari tantangan ini adalah: Tidak ada batasan fisik, kimia, atau metafisik yang dapat menghalangi kehendak Allah. Jika Allah berkehendak, mengubah struktur atom atau materi menjadi apa pun yang Dia kehendaki, termasuk mengembalikannya menjadi bentuk kehidupan, adalah perkara yang sepele.

Penegasan tentang Penciptaan Pertama

Setelah melontarkan tantangan keras tersebut, ayat melanjutkan dengan reaksi orang-orang kafir: "Maka mereka akan bertanya, 'Siapakah yang akan menghidupkan kami kembali?'" Pertanyaan ini lahir bukan karena harapan, melainkan karena ketidakmampuan logis mereka untuk memahami proses kebangkitan dari ketiadaan atau dari kehancuran total.

Jawaban Allah sangatlah lugas dan menguatkan tauhid: "Katakanlah: 'Yang menciptakan kamu pertama kali.'" Argumentasi ini adalah argumen paling kuat dalam teologi Islam mengenai hari kiamat. Tidak perlu dalil yang rumit; cukup merujuk pada fakta penciptaan pertama kali (dari ketiadaan). Jika Dia mampu menciptakan alam semesta dan manusia dari ketiadaan, maka mengembalikan mereka setelah kematian (yang merupakan perpindahan wujud, bukan penciptaan dari nol) jauh lebih mudah.

Kedekatan Waktu Kebangkitan

Kaum musyrikin, meskipun sudah menerima jawaban logis, tetap menunjukkan sikap meremehkan dengan menggoyangkan kepala dan bertanya, "Kapan itu terjadi?" Mereka menuntut kepastian waktu, seolah-olah kepastian waktu dapat membatalkan kemungkinan terjadinya peristiwa itu sendiri.

Allah menutup dialog dalam ayat ini dengan jawaban yang mengandung peringatan keras: "Katakanlah: 'Boleh jadi waktunya sudah dekat.'" Frasa "dekat" di sini tidak merujuk pada hitungan waktu duniawi yang kita pahami, tetapi penegasan bahwa waktu tersebut pasti akan tiba, dan bagi Allah, segala sesuatu yang pasti terjadi dapat dianggap dekat. Bagi mereka yang hidup pada masa itu, dan bagi setiap generasi setelahnya, peringatan ini berfungsi sebagai pengingat konstan bahwa ajal dan kiamat selalu mengintai di depan mata.

Kesimpulan: Mengatasi Keraguan Materi

Surat Al-Isra ayat 50 adalah fondasi akidah yang menolak pandangan materialistis yang terbatas. Ayat ini mengajarkan bahwa kekuasaan Allah tidak terikat oleh sifat materi—sekeras apapun ia. Pemahaman mendalam tentang ayat ini mendorong seorang Muslim untuk tidak membatasi kebesaran Tuhan berdasarkan keterbatasan indra atau logika manusia semata, melainkan bersandar pada bukti nyata dari penciptaan awal alam semesta.

🏠 Homepage