Memahami Surat Al-Isra Ayat 53: Pentingnya Sikap Terbaik

Hikmah Kebaikan Mengalahkan Keburukan

Ilustrasi simbol kedamaian dan kebijaksanaan.

Surat Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Al-Isra wal Mi'raj, adalah salah satu surat penting dalam Al-Qur'an yang mengandung banyak pelajaran moral dan spiritual. Di antara ayat-ayatnya yang kaya makna, terdapat ayat 53 yang memberikan pedoman fundamental tentang bagaimana seorang Muslim seharusnya bersikap dalam berinteraksi, terutama ketika berhadapan dengan perbedaan pandangan atau perilaku yang kurang baik dari orang lain.

Surat Al-Isra Ayat 53 berbunyi:

"Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, agar mereka mengucapkan perkataan yang paling baik. Sesungguhnya syaitan (syaitan) itu membisikkan (perpecahan) di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia." (QS. Al-Isra: 53)

Ayat ini memberikan perintah langsung dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan pesan kepada hamba-hamba-Nya, yaitu perintah untuk senantiasa mengucapkan "perkataan yang paling baik" (qaulan sadīdan atau ahsan, tergantung interpretasi tafsir yang merujuk pada kebaikan ucapan).

Pentingnya Ucapan yang Baik (Qaulan Ma'ruf)

Perintah untuk mengucapkan perkataan yang paling baik bukan sekadar basa-basi sosial, melainkan sebuah prinsip etika yang sangat tinggi dalam Islam. Ucapan adalah cerminan hati dan iman seseorang. Ketika kita berbicara dengan cara yang baik, santun, dan penuh kebijaksanaan, kita sedang menegakkan salah satu pilar akhlak Islam.

Mengucapkan perkataan yang baik berarti menghindari fitnah, ghibah (bergosip), caci maki, umpatan, dan segala bentuk ucapan yang menyakitkan hati. Dalam konteks sosial yang majemuk, kemampuan untuk berbicara dengan santun, bahkan ketika sedang dalam ketidaksepakatan, menjadi ujian keimanan yang nyata. Ayat ini menekankan bahwa kebaikan ucapan harus menjadi standar utama dalam komunikasi sehari-hari.

Ancaman Bisikan Syaitan

Bagian kedua ayat ini menjelaskan alasan mengapa kita harus berhati-hati dengan ucapan kita: "Sesungguhnya syaitan (syaitan) itu membisikkan (perpecahan) di antara mereka." Ini adalah pengingat bahwa di balik setiap pertengkaran, permusuhan, atau ucapan kasar, seringkali ada intervensi halus dari iblis.

Syaitan bekerja dengan memanipulasi emosi dan mendorong manusia untuk mengeluarkan kata-kata yang destruktif. Kata-kata buruk seringkali menjadi pintu masuk bagi permusuhan yang lebih besar, memecah belah persaudaraan, dan menciptakan kebencian yang tidak perlu di antara sesama manusia. Jika umat manusia terpancing untuk saling mencela, maka tujuan syaitan untuk menciptakan permusuhan akan tercapai.

Syaitan sebagai Musuh Nyata

Ayat ini ditutup dengan penegasan yang kuat: "Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia." Ini bukan sekadar peringatan metafisik, tetapi juga peringatan praktis. Syaitan adalah musuh yang secara aktif mencari celah untuk menjerumuskan kita, dan salah satu celah termudah adalah melalui lidah dan lisan kita.

Dengan menyadari bahwa syaitan adalah musuh yang nyata, seorang mukmin dituntut untuk selalu waspada. Waspada bukan hanya dari godaan maksiat besar, tetapi juga dari godaan kecil seperti dorongan untuk membalas makian dengan makian, atau membantah dengan nada yang merendahkan. Setiap kali kita memilih kata-kata yang lembut dan konstruktif, kita secara efektif menutup pintu bagi bisikan syaitan.

Aplikasi dalam Kehidupan Modern

Di era digital saat ini, di mana komunikasi instan dan media sosial memungkinkan penyebaran kata-kata dengan kecepatan luar biasa, relevansi Al-Isra ayat 53 menjadi semakin mendesak. Hoaks, ujaran kebencian, dan komentar sarkastik seringkali menyebar luas karena manusia lupa akan perintah untuk mengucapkan perkataan yang paling baik.

Menerapkan ayat ini berarti melakukan audit diri (muhasabah) sebelum mengetik atau berbicara. Apakah kata-kata yang akan saya ucapkan ini mengandung kebaikan? Apakah ini akan mendatangkan manfaat atau justru merusak hubungan? Jika kita mampu menjadikan prinsip "perkataan terbaik" sebagai filter utama dalam komunikasi, kita tidak hanya akan mendapatkan pahala, tetapi juga menciptakan lingkungan sosial yang lebih damai dan harmonis.

Kesimpulannya, Surat Al-Isra ayat 53 adalah kompas moral tentang kekuatan kata-kata. Dengan mengedepankan ucapan yang baik, kita membangun benteng pertahanan terhadap upaya pemecah belah yang dihembuskan oleh musuh sejati manusia, yaitu syaitan.

🏠 Homepage