Surat Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam urutan Mushaf Al-Qur'an yang sarat akan hikmah dan pelajaran hidup. Salah satu ayat penting di dalamnya adalah ayat ke-55, yang sering kali menjadi bahan perenungan mendalam mengenai hakikat hubungan antara Allah SWT dengan hamba-Nya, serta peran Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa risalah.
Untuk memahami secara utuh, mari kita telaah teks ayat, terjemahannya, serta implikasi maknanya.
Penjelasan Mendalam Surat Al Isra Ayat 55
Ayat 55 Al-Isra ini mengandung dua poin utama yang saling berkaitan erat, yaitu keMahatahuan Allah yang mutlak dan penetapan keutamaan (fadl) di antara para Nabi.
1. KeMahatahuan Allah yang Mutlak
Bagian pertama ayat menegaskan otoritas dan pengetahuan Allah SWT yang meliputi segalanya: "Dan Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang ada di langit dan di bumi."
Penegasan ini berfungsi sebagai sanggahan halus terhadap keraguan atau klaim pengetahuan manusiawi. Dalam konteks ayat-ayat sebelumnya di mana Allah menjelaskan mengenai kerasulan Nabi Muhammad SAW dan tantangan yang dihadapi kaum musyrikin Mekkah, penegasan ini mengingatkan bahwa Allah adalah Sang Sumber Ilmu. Tidak ada satu pun makhluk, baik di alam semesta yang terlihat (langit) maupun yang tersembunyi (bumi), yang luput dari pengawasan dan pengetahuan-Nya.
Implikasinya sangat besar. Segala niat tersembunyi, amalan rahasia, bahkan pikiran terdalam manusia, semuanya diketahui oleh Allah. Ini menuntut seorang mukmin untuk selalu menjaga kualitas batinnya karena pertanggungjawaban tidak hanya berdasarkan perbuatan lahiriah.
2. Keutamaan di Antara Para Nabi
Poin kedua adalah pengakuan tentang diferensiasi derajat di antara para Nabi utusan Allah: "Dan sungguh Kami telah melebihkan sebagian nabi-nabi atas sebagian yang lain..."
Ayat ini secara tegas menyatakan bahwa status kenabian bukanlah sebuah kesamaan derajat yang mutlak datar. Allah memilih dan mengaruniai kelebihan tertentu kepada Nabi tertentu, sesuai dengan hikmah dan tugas risalah yang diemban. Misalnya, beberapa Nabi diberi gelar Ulul Azmi minan Rusul (Nabi yang memiliki ketabahan luar biasa) seperti Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad SAW.
Islam mengajarkan keimanan kepada seluruh Nabi dan Rasul tanpa membeda-bedakan, namun kita wajib mengakui bahwa terdapat tingkatan kemuliaan yang diberikan oleh Allah. Meskipun demikian, kelebihan ini tidak mengurangi kemuliaan Nabi yang lain; semua Nabi adalah hamba-hamba Allah yang terpilih.
3. Pemberian Kitab Zabur kepada Nabi Daud AS
Ayat ditutup dengan contoh spesifik mengenai karunia yang diberikan kepada salah satu Nabi besar: "...dan Kami berikan Zabur kepada Dawud (Daud)."
Kitab Zabur (Mazmur) adalah salah satu dari empat kitab suci utama yang diturunkan Allah, yang diberikan kepada Nabi Daud AS. Zabur dikenal berisi pujian, zikir, dan hikmah spiritual yang mendalam. Pemberian kitab ini menunjukkan bahwa setiap Nabi menerima anugerah spesifik yang sesuai dengan kapasitas umatnya dan misi kenabiannya.
Kisah Nabi Daud dan Zabur menjadi pengingat bahwa karunia Ilahi datang dalam berbagai bentuk, baik berupa wahyu berupa hukum (seperti Taurat dan Al-Qur'an) maupun wahyu berupa hikmah dan zikir (seperti Zabur).
Relevansi Kontekstual Ayat 55
Ayat 55 ini muncul dalam konteks di mana kaum musyrik sering mempertanyakan mengapa Muhammad diangkat menjadi Nabi, bukan tokoh lain yang mungkin mereka anggap lebih layak atau memiliki silsilah yang lebih 'kuat' menurut pandangan mereka. Ayat ini mematahkan logika tersebut dengan menunjukkan dua prinsip dasar:
- Pemilihan dan pengangkatan para Nabi sepenuhnya adalah hak prerogatif Allah, berdasarkan pengetahuan-Nya (ayat 55a).
- Keutamaan antar Nabi sudah ditetapkan oleh Allah (ayat 55b), dan Nabi Muhammad SAW adalah penutup para Nabi, yang membawa penyempurnaan risalah sebelumnya.
Dengan demikian, Surat Al-Isra ayat 55 menegaskan kedaulatan Allah dalam menetapkan keutamaan, baik dalam hal siapa yang Dia pilih untuk menjadi nabi, maupun apa yang Dia anugerahkan kepada mereka. Bagi seorang Muslim, ini adalah landasan keimanan untuk menerima seluruh wahyu dan menerima Nabi terakhir, Muhammad SAW, tanpa perlu mempertanyakan otoritas Sang Pemberi wahyu.
Kesimpulan dari telaah Surat Al-Isra ayat 55 adalah penguatan akidah tauhid melalui pemahaman bahwa Allah adalah Maha Mengetahui segala rahasia di langit dan bumi, serta Dia berhak penuh memberikan kelebihan dan kedudukan istimewa kepada para Nabi-Nya. Ayat ini mengajarkan kerendahan hati di hadapan ilmu Allah dan penerimaan terhadap ketetapan-Nya mengenai keutamaan para Rasul.