*Ilustrasi abstrak mengenai pencarian mendekati kehendak Ilahi
Surat Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Al-Isra' wal-Mi'raj, adalah salah satu surat penting dalam Al-Qur'an yang sarat makna spiritual dan hukum. Di dalamnya, terdapat ayat-ayat yang secara spesifik membimbing umat manusia tentang bagaimana cara mendekatkan diri kepada Allah SWT, terutama dalam kondisi spiritual tertentu.
Salah satu ayat yang sering menjadi sorotan dalam konteks ini adalah **Surat Al-Isra ayat 57**. Ayat ini memberikan petunjuk eksplisit tentang tindakan dan orientasi batin yang harus dimiliki seorang hamba ketika ia mendambakan kedekatan dengan Penciptanya.
Terjemahan: Dan janganlah engkau berdoa (memohon pertolongan) kepada selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberikan manfaat kepadamu dan tidak pula dapat memberikan mudharat kepadamu. Apabila engkau melakukannya, maka sesungguhnya engkau dengan demikian termasuk orang-orang yang zalim.
Ayat ini, meskipun singkat, mengandung landasan tauhid yang sangat fundamental. Ayat ini datang setelah serangkaian ayat yang membicarakan tentang keesaan Allah dan bagaimana orang musyrik terkadang menyekutukan-Nya meskipun mereka mengakui bahwa Allah adalah Pencipta yang Maha Kuasa.
Pesan utama dari Surat Al-Isra ayat 57 adalah larangan tegas untuk berdo’a atau memohon pertolongan kepada selain Allah SWT. Kata "berdoa" dalam konteks ini mencakup seluruh bentuk permohonan, penyembahan, pengharapan, dan pengagungan yang seharusnya hanya ditujukan kepada Allah.
Mengapa larangan ini sangat ditekankan? Karena ayat tersebut menjelaskan karakteristik objek permohonan selain Allah, yaitu:
Dengan demikian, memohon kepada selain-Nya adalah tindakan yang tidak logis, sia-sia, dan kontradiktif dengan kenyataan kekuasaan mutlak Allah SWT.
Ayat ini menutup dengan peringatan keras: "Apabila engkau melakukannya, maka sesungguhnya engkau dengan demikian termasuk orang-orang yang zalim."
Dalam terminologi Al-Qur'an, kata "zalim" (ظَّالِمِينَ) tidak hanya berarti pelaku kejahatan sosial, tetapi secara fundamental berarti meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya (al-wad‘u as-syai’i fī ghairi mawdi‘ih).
Menyekutukan Allah (syirik) adalah bentuk kezaliman terbesar karena ia menempatkan ketaatan, harapan, dan permohonan di tempat yang salah, yaitu pada makhluk yang tidak memiliki kuasa, alih-alih kepada Al-Khaliq (Sang Pencipta) yang Maha Kuasa. Inilah mengapa syirik dianggap sebagai dosa yang tidak terampuni jika pelakunya meninggal dalam keadaan tersebut.
Bagaimana ayat ini mendorong kita mencari kedekatan dengan Allah? Dengan menyingkirkan segala bentuk ketergantungan palsu, kita memusatkan seluruh harapan dan doa hanya kepada Sumber segala kekuatan.
Ketika seorang hamba telah membersihkan hatinya dari ketergantungan kepada selain Allah, maka ruang hatinya menjadi lapang untuk menerima rahmat dan bimbingan Ilahi. Jalan spiritual yang lurus terbentang ketika:
Maka, mencari kedekatan (qurb) dengan Allah SWT bukan hanya melalui ritual ibadah, tetapi juga melalui pemurnian akidah, seperti yang ditegaskan dalam Surat Al-Isra ayat 57 ini. Ia menuntut kejujuran total dalam orientasi ibadah kita.
Ayat ini menjadi pengingat abadi bahwa kunci keselamatan dan keberuntungan dunia akhirat adalah konsistensi dalam mengesakan Allah dalam segala bentuk permohonan dan penyembahan.