Menggali Hikmah: Surat Al-Isra Ayat 59

QS

Ilustrasi Penyingkapan Kebenaran

Dalam lembaran-lembaran suci Al-Qur'an, setiap ayat membawa petunjuk dan pelajaran mendalam bagi umat manusia. Salah satu ayat yang sering menjadi perbincangan dalam konteks mukjizat dan kebijaksanaan ilahi adalah Surat Al-Isra ayat 59. Ayat ini, yang terletak dalam bab tentang Perjalanan Malam (Isra'), memberikan batasan yang jelas mengenai pengutusan para rasul dan tuntutan kaum musyrikin pada masa kenabian.

Teks dan Terjemahan Surat Al-Isra Ayat 59

Untuk memahami konteksnya, mari kita simak terlebih dahulu teks asli ayat tersebut, diikuti dengan terjemahannya:

وَإِذَا مَسَّ النَّاسَ ضُرٌّ دَعَوْا رَبَّهُم مُّصْلِحِينَ إِلَيْهِ وَيَذْرُونَ مَا كَانُوا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ ۚ قُلْ أَفَرَأَيْتَ إِنْ أَتَاكَ عَذَابُهُ أَوْ أَتَتْكَ السَّاعَةُ أَغَيْرَ اللَّهِ تَدْعُونَ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
"Dan apabila manusia ditimpa bahaya (kesulitan), dia menyeru Tuhannya dalam keadaan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan melimpahkan nikmat kepadanya, dia lupa (sejenak) akan (kesulitan) yang pernah ia serukan kepada-Nya dahulu. Sesungguhnya manusia sangat ingkar (tidak berterima kasih)."

***Catatan: Terjemahan di atas adalah terjemahan umum dari ayat 59. Namun, beberapa penafsir juga sering membahas ayat 59 dalam konteks permintaan kaum kafir terhadap mukjizat yang mustahil. Penting untuk diperhatikan bahwa ayat Al-Isra ayat 58/59 seringkali berpasangan dalam narasi tentang bagaimana Allah menunda azab atas permintaan kaum musyrik. Berikut adalah ayat sebelumnya (ayat 58) untuk konteks yang lebih utuh (Meskipun fokus utama adalah ayat 59, penafsiran seringkali terkait):*

*(Ayat 58: Dan tidak ada suatu negeri pun melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab dia dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Lauh Mahfuzh).)*

Inti Pembahasan dalam Surat Al-Isra Ayat 59

Meskipun ayat 59 secara harfiah berbicara tentang reaksi manusia saat ditimpa musibah, dalam konteks Sirah Nabawiyah dan tafsir para ulama, ayat ini erat kaitannya dengan dialog antara Rasulullah SAW dengan kaum Quraisy yang menuntut mukjizat yang spesifik dan menantang.

1. Sifat Dasar Manusia yang Lupa

Ayat ini menyoroti sifat fitrah manusia. Ketika berada dalam kesulitan besar—seperti wabah, kelaparan, atau ketakutan—manusia cenderung segera memalingkan hatinya kepada Allah SWT. Mereka berteriak memohon pertolongan, meninggalkan segala sesembahan selain-Nya. Ini menunjukkan bahwa kesadaran akan keesaan Tuhan itu tertanam dalam sanubari, muncul kuat ketika bahaya mengintai.

2. Ingkar Ketika Nikmat Datang

Namun, ironisnya, begitu bahaya itu diangkat dan Allah SWT melimpahkan rahmat dan kemudahan, manusia seringkali melupakan doa yang dipanjatkannya tadi. Mereka kembali kepada kesibukan duniawi dan terkadang bahkan kembali menyekutukan Allah (syirik) atau melupakan hakikat pergantungan sejati. Inilah yang digambarkan sebagai sifat "ingkar" (kufur nikmat).

3. Konteks Permintaan Mukjizat

Dalam riwayat tafsir, ketika kaum Quraisy di Mekkah merasa terancam oleh dakwah Nabi Muhammad SAW, mereka menuntut mukjizat yang sejelas dan semudah yang mereka inginkan, seolah-olah mereka adalah pengatur alam. Mereka menanyakan, "Mengapa Muhammad tidak diberi mukjizat seperti yang dimiliki nabi-nabi sebelumnya?"

Ayat yang sejalan atau berdekatan dengan ayat 59 memberikan jawaban ilahi: bahwa mukjizat telah diberikan (seperti Isra' Mi'raj), namun tantangan utama bukanlah soal melihat mukjizat, melainkan maukah mereka beriman setelah melihatnya? Jika mereka tetap menolak, maka azab yang telah dijanjikan Allah (seperti yang disebutkan di ayat sebelumnya) akan segera datang.

Hikmah yang Dapat Dipetik

Pelajaran dari Surat Al-Isra ayat 59 ini sangat relevan hingga kini. Pertama, kita diingatkan untuk selalu menjaga konsistensi keimanan, baik dalam kondisi lapang maupun sempit. Keimanan yang sejati adalah keimanan yang tidak bergantung pada kemudahan duniawi.

Kedua, ayat ini mengajak kita untuk selalu bersyukur. Syukur yang sejati bukan hanya diucapkan di lisan, melainkan diwujudkan dalam tindakan, yaitu dengan tetap taat dan tidak kembali kepada kemaksiatan setelah Allah mengangkat kesulitan.

Ketiga, ayat ini menguatkan bahwa Allah Maha Mengetahui isi hati manusia. Walaupun manusia mudah berpaling, Dia tetap membuka pintu taubat. Penundaan azab bukanlah berarti Allah tidak peduli, melainkan sebagai kesempatan bagi manusia untuk menyadari kealpaannya dan kembali kepada jalan yang lurus sebelum datangnya Hari Perhitungan.

Dengan merenungkan ayat ini, seorang mukmin diingatkan untuk menjadi hamba yang tidak mudah goyah oleh ujian, dan selalu menjadikan Allah sebagai sandaran utama, bukan hanya saat genting, tetapi setiap saat dalam kehidupan.

🏠 Homepage