Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an. Ayat ke-60 dari surat ini memegang peranan penting dalam narasi kenabian dan penegasan kuasa Allah SWT. Ayat ini sering kali dikutip dalam konteks diskusi mengenai kenabian Muhammad SAW dan bagaimana Allah SWT melindungi dan menegaskan wahyu-Nya melalui peristiwa-peristiwa besar yang terjadi di sekitar Nabi.
"Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman kepadamu, 'Sesungguhnya Tuhanmu Maha Meliputi (mengawasi) semua manusia.' Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia, dan (demikian pula) pohon yang dikutuk dalam Al-Qur'an. Kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah mereka melampaui batas (durhaka)." (QS. Al-Isra: 60)
Ayat 60 ini merupakan penegasan dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW mengenai cakupan kekuasaan-Nya dan sifat dari beberapa peristiwa yang dialami oleh Nabi. Terdapat tiga poin utama yang dapat ditarik dari ayat ini: pengawasan Allah yang menyeluruh, fungsi mimpi kenabian, dan peringatan tentang pohon yang dikutuk.
Kalimat pertama, "Sesungguhnya Tuhanmu Maha Meliputi (mengawasi) semua manusia," adalah penegasan mutlak akan ilmu dan kuasa Allah. Tidak ada satu pun tindakan, niat, atau bisikan hati manusia yang tersembunyi dari-Nya. Dalam konteks dakwah Nabi Muhammad SAW yang sering menghadapi penolakan dan permusuhan dari kaum Quraisy, pengingat ini memberikan ketenangan bahwa beliau tidak sendirian, dan bahwa musuh-musuhnya berada dalam pengawasan ketat Ilahi. Ini adalah jaminan perlindungan dan keadilan yang akan datang.
Ayat ini menjelaskan bahwa mimpi yang diperlihatkan kepada Nabi Muhammad SAW—terutama yang berkaitan dengan peristiwa besar atau visi masa depan—dijadikan sebagai ujian. Ujian ini tidak ditujukan kepada Nabi, melainkan kepada umat manusia, khususnya mereka yang mendengar atau menyaksikan visi tersebut.
Fakta bahwa wahyu seringkali berupa hal yang abstrak atau menuntut pengorbanan (seperti hijrah atau penolakan terhadap tradisi lama) memang menguji keimanan seseorang.
Rujukan kepada "pohon yang dikutuk dalam Al-Qur'an" secara umum dipahami oleh para mufassir merujuk pada pohon Zaqqum (QS. Ad-Dukhan: 43-46), yaitu pohon yang tumbuh di dasar Neraka Jahannam, yang buahnya menjadi makanan bagi penghuninya yang durhaka.
Penyebutan pohon Zaqqum dalam konteks ini berfungsi sebagai peringatan keras. Jika mimpi kenabian menjadi ujian bagi orang beriman dan alat pembuktian bagi orang kafir, maka deskripsi neraka (diwakili oleh pohon Zaqqum) adalah alat untuk menakut-nakuti.
Bagian akhir ayat menyatakan: "Kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah mereka melampaui batas (durhaka)." Ini menggambarkan ironi dari peringatan keras Allah. Bagi orang yang hatinya sudah tertutup oleh kesombongan dan penolakan, semakin keras peringatan tentang azab, semakin besar pula penolakan dan pembangkangan mereka. Mereka merasa terancam, namun alih-alih kembali, mereka malah semakin menjauhkan diri dan melampaui batas-batas yang ditetapkan Allah. Fenomena ini menunjukkan bahwa hidayah dan ancaman hanya berfungsi bagi mereka yang memiliki ruang penerimaan dalam hati.
Secara keseluruhan, Surat Al-Isra ayat 60 adalah ayat penegasan otoritas Ilahi. Ia mengingatkan Nabi dan umatnya bahwa setiap peristiwa telah terukur dalam rencana Allah, bahwa kebenaran akan diuji, dan bahwa keangkuhan akan membawa manusia semakin jauh ke dalam kesesatan meskipun telah diperingatkan dengan bukti-bukti nyata.