Pelajaran tentang Penciptaan, Keangkuhan Iblis, dan Kedudukan Manusia
Ilustrasi perbandingan antara penolakan dan penerimaan kebenaran.
Bagian dari Surat Al-Isra (atau Bani Israil) ini merupakan kelanjutan dari dialog ilahi mengenai penciptaan Adam dan kisah Iblis yang menolak bersujud kepadanya. Ayat 61 hingga 70 memuat peringatan keras dari Allah SWT kepada kaum musyrikin Mekah yang keras kepala, sekaligus memberikan pelajaran fundamental tentang kedudukan makhluk di hadapan Sang Pencipta. Fokus utama dari rentetan ayat ini adalah penegasan bahwa Iblis telah nyata menunjukkan permusuhannya, dan kesombongan itu dibalas dengan kutukan, sementara perintah Allah harus ditaati.
Ayat-ayat ini juga menyentuh aspek keyakinan dan pengakuan atas kekuasaan Allah dalam mengatur alam semesta, serta penegasan bahwa setan tidak memiliki kuasa nyata atas hamba-hamba Allah yang tulus beriman.
{61} Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam", maka mereka sujud kecuali Iblis. Dia berkata: "Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?"
[Ayat 61]: Kisah penolakan Iblis berdasarkan kesombongan superioritasnya karena diciptakan dari api, bukan tanah.
{62} Iblis berkata: "Terangkanlah kepadaku, manakah ini yang Engkau muliakan atasku? Sungguh jika Engkau tunda kedatangan hari kiamat, niscaya akan kusesatkan anak cucunya kecuali sedikit dari mereka."
[Ayat 62]: Iblis menantang dan menyatakan tekadnya untuk menyesatkan seluruh keturunan Adam (kecuali yang sedikit).
Ayat 61 dan 62 adalah inti dari konflik kosmik ini. Iblis, yang bernama asli Azazil atau Syaitan, merasa direndahkan. Ia membandingkan asal penciptaannya (api) dengan Adam (tanah), sebuah perbandingan yang dangkal dan tidak relevan di hadapan perintah Ilahi. Kesombongan ini adalah dosa pertama dan terbesar dalam sejarah penciptaan. Permintaannya untuk menunda kiamat adalah upaya untuk mendapatkan waktu yang cukup guna melaksanakan sumpah penyesatannya.
{63} Allah berfirman: "Pergilah kamu! Maka sesungguhnya bagimu (dan bagi pengikut-pengikutmu) ada tempat yang sudah ditentukan, yaitu Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang paling buruk (tempat kembali)."
[Ayat 63]: Allah menjatuhkan vonis hukuman kepada Iblis, menetapkan Jahannam sebagai tempat kembalinya ia dan para pengikutnya.
{64} (Iblis) berkata: "Berikanlah aku tangguh waktu sampai hari mereka dibangkitkan."
[Ayat 64]: Iblis kembali memohon penangguhan hingga Hari Kiamat tiba.
{65} Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk golongan yang diberi tangguh (waktu penangguhan)."
[Ayat 65]: Allah mengabulkan permohonan penangguhan tersebut, memberikan kesempatan bagi ujian iman manusia hingga akhir zaman.
Pemberian waktu ini bukan berarti Iblis menang, melainkan bagian dari strategi ujian Allah (sunnatullah). Sejak saat itu, medan pertempuran terbuka: antara bisikan jahat Iblis dan petunjuk lurus dari Allah.
{66} Iblis berkata: "Demi kehormatan Engkau, sungguh akan kusesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka."
[Ayat 66]: Iblis mengakui batasan kuasanya; ia tidak bisa menggoda hamba Allah yang murni ikhlas.
{67} Allah berfirman: "Maka kebenaran (kepada mereka) adalah Aku dan Aku yang mengatakan kebenaran."
[Ayat 67]: Allah menegaskan bahwa kebenaran hakiki hanya bersumber dari-Nya semata.
Ayat 67 ini adalah penegasan otoritas mutlak Allah sebagai sumber kebenaran. Ketika Iblis menyatakan hanya bisa menyesatkan mayoritas, Allah menegaskan bahwa jalan keselamatan (kebenaran) telah disediakan melalui wahyu-Nya.
{68} Katakanlah (Muhammad): "Serulah tuhan-tuhan yang kamu sembah selain-Nya, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menyingkirkan bahaya dari kamu dan tidak pula untuk mengubahnya."
[Ayat 68]: Tantangan kepada kaum musyrik untuk membuktikan kekuatan sesembahan selain Allah.
{69} Mereka yang mereka seru itu, justru mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, (mencari jalan) siapa di antara mereka yang lebih dekat kepada-Nya, dan mereka mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan siksa-Nya. Sesungguhnya siksa Tuhanmu itu adalah suatu hal yang harus ditakuti.
[Ayat 69]: Sesembahan tandingan itu ternyata juga berusaha mendekatkan diri kepada Allah, membuktikan bahwa mereka tidak memiliki kekuatan independen.
{70} Dan tidak ada suatu negeripun (penduduknya) melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab mereka dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Lauh Mahfuzh).
[Ayat 70]: Penegasan bahwa kehancuran atau azab bagi kaum yang ingkar telah ditetapkan dalam catatan Ilahi.
Surat Al-Isra ayat 61 hingga 70 memberikan beberapa pelajaran vital yang relevan sepanjang masa. Pertama, penolakan berbasis kesombongan adalah akar segala kemaksiatan. Iblis tersesat bukan karena kurangnya ilmu, tetapi karena keangkuhan hati yang menolak tunduk pada kebenaran yang jelas.
Kedua, ujian dan penangguhan waktu adalah bagian dari takdir Ilahi. Iblis diberi kesempatan untuk membuktikan klaimnya menyesatkan manusia, sementara manusia diberi waktu untuk membuktikan keikhlasan imannya. Ini menuntut setiap mukmin untuk senantiasa waspada terhadap godaan yang akan berlangsung hingga akhir hayat.
Ketiga, penegasan tauhid mutlak. Ayat 68-69 secara eksplisit membantah praktik syirik. Sesembahan selain Allah tidak memiliki kemampuan untuk memberikan pertolongan atau menolak bahaya. Bahkan, mereka (jika diartikan sebagai perantara yang disembah) sendiri tunduk dan mencari kedekatan kepada Allah. Manusia harus fokus beribadah dan memohon hanya kepada Zat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Terakhir, ayat 70 berfungsi sebagai peringatan keras. Kehancuran atau hukuman bagi kaum yang menolak kebenaran adalah keniscayaan yang telah tercatat. Ini mendorong umat Islam untuk segera bertaubat dan mengikuti petunjuk Nabi, sebelum datangnya azab yang pasti menanti mereka yang memilih jalan kesesatan. Ayat-ayat ini menegaskan bahwa pertarungan antara kebenaran dan kebatilan adalah nyata, dan garis batasnya ditentukan oleh pilihan ketaatan atau kesombongan.