Ilustrasi perdebatan dan hasutan.
Surat Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Al-Isra' wal-Mi'raj, merupakan surat ke-17 dalam Al-Qur'an yang kaya akan pelajaran penting mengenai keimanan, kenabian, dan ujian hidup. Salah satu ayat yang sangat krusial dalam memahami dinamika pertentangan antara kebenaran dan kebatilan, khususnya mengenai kisah penciptaan manusia dan penolakan Iblis, adalah ayat ke-62.
Terjemahan: (Iblis) berkata, "Terangkanlah kepadaku, inilah orang yang Engkau muliakan atasku. Jika Engkau beri tangguh kepadaku sampai hari Kiamat, niscaya akan aku sesatkan keturunannya kecuali sedikit."
Ayat ini merupakan inti dari dialog antara Allah SWT dengan Iblis setelah penciptaan Nabi Adam AS. Ketika Allah memerintahkan para malaikat dan Iblis untuk bersujud kepada Adam sebagai bentuk penghormatan atas kemuliaan ilmu yang diajarkan kepada Adam, Iblis menolak dengan sombong. Penolakan ini didasari oleh keangkuhan dan anggapan superioritasnya karena diciptakan dari api, sementara Adam diciptakan dari tanah.
Ayat 62 menangkap momen ketika Iblis (setelah diusir dari rahmat Allah) mengajukan "permohonan" atau lebih tepatnya tantangan kepada Tuhan. Ia menunjuk kepada Adam dan keturunannya, mengakui bahwa Allah telah memuliakannya ("inilah orang yang Engkau muliakan atasku"), namun permintaannya adalah penangguhan hukuman hingga Hari Kiamat.
Permintaan Iblis untuk ditangguhkan hingga Hari Kiamat menunjukkan dua hal utama. Pertama, pengakuan akan kekuasaan absolut Allah yang mampu memberikan waktu penangguhan tersebut. Kedua, Iblis menyadari bahwa batasan waktunya adalah kehidupan duniawi yang fana ini.
Janji Iblis adalah janji yang sangat serius dan penuh kebencian: "niscaya akan aku sesatkan keturunannya kecuali sedikit." Ini adalah inti dari misi utama iblis—menggoda dan menyesatkan umat manusia. Kata "ahtanikanna" (أَحْتَنِكَنَّ) yang diterjemahkan sebagai "aku sesatkan" memiliki makna yang mendalam, sering diartikan sebagai menaklukkan atau menguasai sesuatu dari bagian lehernya (seperti mengendalikan hewan tunggangan). Artinya, Iblis berjanji akan mengambil kendali penuh atas akal, hati, dan tindakan manusia.
Namun, ada pengecualian penting: "kecuali sedikit." Pengecualian ini menunjukkan bahwa meskipun dominasi Iblis sangat luas, ia tidak bisa menjangkau dan menguasai hati hamba-hamba Allah yang benar-benar ikhlas dan teguh dalam keimanannya (Al-Mukhlashin).
Ayat ini berfungsi sebagai pengingat permanen bagi umat manusia mengenai realitas spiritual yang kita hadapi. Kehidupan dunia adalah medan pertempuran abadi antara dua kekuatan: godaan Iblis dan petunjuk Ilahi.
Memahami Surat Al-Isra ayat 62 berarti kita harus proaktif dalam menjaga iman. Tindakan nyata dari pemahaman ayat ini meliputi:
Tantangan yang dilemparkan oleh Iblis kepada Allah adalah tantangan yang juga ditujukan kepada setiap individu yang beriman. Oleh karena itu, keteguhan hati menjadi kunci utama untuk memastikan bahwa kita termasuk dalam golongan "sedikit" yang diselamatkan dari jerat penyesatan abadi tersebut.