(Allah) berfirman, "Pergilah! Maka barangsiapa di antara mereka (manusia) yang mengikutimu, maka sesungguhnya neraka Jahannam adalah tempat pembalasan bagi mereka semua."
Ayat ke-63 dari Surah Al-Isra (atau Surah Al-Isra' wal Mi'raj) ini merupakan bagian penting dari dialog antara Allah SWT dan Iblis setelah Iblis menolak untuk bersujud kepada Nabi Adam AS. Penolakan ini berujung pada pengusiran Iblis dari rahmat Allah. Namun, sebelum diusir sepenuhnya, Iblis meminta penangguhan waktu hingga hari kiamat, dan Allah mengabulkannya dengan syarat tertentu.
Dalam ayat-ayat sebelumnya (terutama ayat 62), Iblis merasa dirinya lebih mulia daripada Adam karena penciptaannya dari api, berbeda dengan Adam yang diciptakan dari tanah. Ketika Allah menetapkan bahwa Adam dan keturunannya akan menjadi fokus penciptaan dan penghormatan-Nya, Iblis menyatakan tekadnya untuk menyesatkan sebanyak mungkin dari anak cucu Adam.
Ayat Surat Al-Isra Ayat 63 adalah respons tegas dari Allah terhadap kesombongan dan deklarasi perang Iblis tersebut. Allah tidak mencegah Iblis untuk menggoda, tetapi Allah menetapkan konsekuensi yang sangat jelas dan mengerikan bagi siapa pun yang memilih mengikuti jalan kesesatan tersebut.
Inti dari surat al isra ayat 63 terletak pada kalimat: "Maka barangsiapa di antara mereka yang mengikutimu, maka sesungguhnya neraka Jahannam adalah tempat pembalasan bagi mereka semua." Ini adalah peringatan keras bahwa kebebasan memilih yang diberikan kepada manusia (ikhtiar) memiliki pertanggungjawaban akhir yang mutlak.
Allah memberikan kebebasan bagi Iblis untuk menjalankan misinya menggoda manusia, sebagaimana dijelaskan lebih lanjut di ayat-ayat berikutnya bahwa Iblis hanya memiliki kekuasaan atas mereka yang tunduk padanya dan tidak memiliki kekuatan (otoritas) atas hamba-hamba Allah yang tulus beriman (mukhlisin).
Penegasan bahwa neraka Jahannam adalah "tempat pembalasan bagi mereka semua" menekankan bahwa keputusan untuk mengikuti godaan Iblis adalah keputusan sadar yang membawa pada kerugian abadi. Tidak ada toleransi atau keringanan hukuman bagi mereka yang sengaja memilih jalan kesesatan setelah mengetahui petunjuk kebenaran.
Ayat ini mengajarkan beberapa pelajaran penting bagi umat Islam. Pertama, ia menegaskan adanya musuh yang nyata bagi kemanusiaan—yaitu kesombongan dan tipu daya Iblis. Meskipun Iblis tidak memiliki kekuatan untuk memaksa, ia mahir dalam membuka celah-celah kelemahan manusia seperti hawa nafsu, iri hati, dan ketidakpuasan.
Kedua, ayat ini menyoroti konsep pertanggungjawaban individu. Meskipun Iblis adalah penyebab utama godaan, setiap individu bertanggung jawab penuh atas pilihannya untuk mengikuti atau menolak rayuan tersebut. Kesalahan Iblis tidak otomatis menanggung dosa manusia.
Ketiga, janji hukuman neraka bagi pengikut Iblis berfungsi sebagai motivator terbesar untuk ketakwaan. Ketika godaan dunia terasa kuat, mengingat konsekuensi akhir yang dijelaskan dalam surat al isra ayat 63 dapat menjadi rem yang menghentikan langkah menuju maksiat. Keimanan yang kuat dan berlindung kepada Allah adalah benteng terbaik melawan tipu daya setan. Dengan memahami ayat ini, seorang mukmin harus selalu waspada, memohon perlindungan, dan memohon petunjuk jalan yang lurus, menjauhi jalan yang digariskan oleh Iblis menuju Jahannam.