Salah satu ayat penting dalam Al-Qur'an yang menjelaskan batasan kekuasaan makhluk, terutama Iblis atau setan, adalah Surat Al-Isra ayat 65. Ayat ini merupakan jawaban langsung dari Allah SWT terhadap rencana licik musuh utama manusia ini. Memahami ayat ini memberikan ketenangan sekaligus mengingatkan kita akan sumber kekuatan sejati.
Ayat ini turun dalam konteks dialog antara Allah SWT dengan Iblis laknatullah, sebagaimana diceritakan dalam ayat-ayat sebelumnya di Surat Al-Isra (ayat 60-64). Iblis pernah bersumpah untuk menyesatkan seluruh keturunan Adam, kecuali hamba-hamba pilihan Allah. Allah kemudian menegaskan batasannya.
Penegasan Allah ini sangat krusial. Ia menetapkan bahwa janji Iblis untuk menguasai secara mutlak adalah klaim yang palsu di hadapan kekuasaan-Nya. Iblis tidak memiliki otoritas (سلطان - *sulthan*) yang inheren atau yang diberikan secara langsung untuk memaksa seseorang berbuat maksiat atau keluar dari jalan kebenaran. Kekuatan setan hanya bersifat sugesti, godaan, dan bujukan.
Poin utama dari Surat Al-Isra ayat 65 terletak pada kata "kecuali" (إِلَّا). Pengecualian ini adalah kunci pemahaman kita mengenai pertanggungjawaban individu. Setan hanya dapat menguasai mereka yang secara sukarela memilih untuk "mengikutinya dari golongan orang-orang yang sesat" (مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ).
Ini berarti, dalam ranah akal sehat dan kehendak bebas (ikhtiyar), manusia adalah pengambil keputusan terakhir. Godaan setan ibarat angin kencang, tetapi iman dan ketaatan adalah jangkar yang menahan kapal kehidupan kita. Jika seseorang membuka pintu hatinya lebar-lebar untuk rayuan keburukan, ia sejatinya sedang bersekutu dan menyerahkan otoritas dirinya kepada Iblis.
Bagi hamba-hamba Allah yang tulus, ayat ini menjadi sumber ketenangan yang luar biasa. Ayat ini menegaskan bahwa status "hamba Allah" (ibadillah) adalah tameng yang melindungi dari dominasi penuh setan. Perlindungan ini bersifat ilahiah, bukan karena kekuatan manusia itu sendiri, melainkan karena status kedekatan mereka dengan Sang Pencipta.
Ketika kita merasa lemah terhadap godaan, mengingat batasan kekuasaan Iblis sebagaimana digambarkan dalam Surat Al-Isra ayat 65 dapat membangkitkan semangat untuk berlindung kepada Allah. Kita tidak bertarung sendirian melawan kekuatan gaib; kita dilindungi oleh Zat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Pengikut Iblis adalah mereka yang memilih kesesatan, bukan mereka yang terpaksa tanpa pilihan.
Pemahaman mendalam tentang ayat ini mendorong kita untuk mengambil dua langkah praktis:
Inti dari Surat Al-Isra ayat 65 adalah penegasan konsep tanggung jawab moral. Allah menegaskan bahwa kesesatan yang menimpa seseorang adalah hasil dari pilihan sadarnya untuk mengikuti jalan yang disesatkan, setelah peringatan keras dari Allah dan penolakan terhadap bimbingan para nabi dan rasul. Ayat ini meneguhkan keadilan ilahi: tidak ada yang disesatkan tanpa sebab yang berasal dari diri mereka sendiri.