Artinya:
Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, Kami angkut mereka di darat dan di laut, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.
Ayat ke-70 dari Surat Al-Isra (atau dikenal juga sebagai Surat Al-Isra' wal-Mi'raj) merupakan salah satu ayat kunci yang menegaskan status istimewa manusia di hadapan Allah SWT. Ayat ini adalah deklarasi ilahiah mengenai penghormatan (takrim) yang dianugerahkan secara eksplisit kepada seluruh Bani Adam—seluruh umat manusia.
Poin utama yang diangkat dalam ayat ini adalah tiga bentuk kemuliaan utama yang diterima manusia, yang membedakannya dari sebagian besar makhluk ciptaan Allah lainnya:
Penekanan pada frasa "dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan" menegaskan bahwa kelebihan ini bersifat substantif. Meskipun ada makhluk lain yang memiliki kekuatan fisik atau kecepatan melebihi manusia, kombinasi akal, moralitas, dan kemampuan bertindak yang dimiliki manusia adalah keunggulan komparatif yang tidak dimiliki makhluk lain.
Pemahaman mendalam mengenai Surat Al-Isra ayat 70 membawa implikasi besar terhadap cara kita memandang diri sendiri dan orang lain. Pengakuan atas kemuliaan ini seharusnya memicu rasa syukur yang besar (syukur) kepada Allah atas segala nikmat yang diberikan.
Pertama, jika manusia dimuliakan, maka setiap tindakan yang merendahkan martabat diri sendiri, seperti berbuat maksiat atau menyia-nyiakan akal, adalah bentuk penyia-nyiaan amanah kemuliaan tersebut. Kedua, penghormatan ini berlaku universal untuk semua Bani Adam, tanpa memandang ras, suku, atau status sosial. Oleh karena itu, ayat ini menjadi dasar kuat bagi etika kemanusiaan (humanitarian ethics) dalam Islam, menuntut kita untuk menghormati hak-hak dasar setiap manusia.
Ayat ini sejajar dengan ayat lain dalam Al-Qur'an yang berbicara tentang status khalifah (wakil Allah) di bumi, menunjukkan bahwa manusia adalah spesies yang istimewa, namun keistimewaan ini harus digunakan untuk kebaikan dan ketaatan kepada Pencipta. Kegagalan memanfaatkan kelebihan ini justru dapat menjatuhkan derajat manusia di bawah derajat makhluk yang lain, sebagaimana ditegaskan dalam kelanjutan ayat-ayat berikutnya dalam surat yang sama.