Surat Al-Isra, juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an. Ayat ke-79 dari surat ini memiliki makna yang sangat mendalam, khususnya berkaitan dengan perintah untuk melaksanakan salat sunah di malam hari atau salat Tahajjud. Ayat ini memberikan landasan kuat bagi umat Islam untuk menghidupkan malam dengan ibadah, sebuah praktik yang sangat dicintai oleh Allah SWT.
Ayat ini secara eksplisit memerintahkan Rasulullah SAW (dan secara umum dimaknai sebagai anjuran kuat bagi seluruh umat) untuk melaksanakan ibadah salat malam, yang kemudian dikenal luas sebagai Salat Tahajjud. Kata kunci dalam ayat ini adalah "nafilatan laka", yang berarti ibadah tambahan atau sukarela. Ini menunjukkan bahwa Tahajjud bukanlah kewajiban rutin seperti salat lima waktu, namun merupakan amalan yang sangat utama dan memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah.
Fokus utama perintah ini adalah hasil yang dijanjikan: "‘asaa ay yab’atsaka Rabbuka maqamam mahmuda", yaitu mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke Maqam Mahmud (Tempat yang Terpuji).
Maqam Mahmud adalah kedudukan tertinggi yang mulia, yang dikhususkan hanya untuk Nabi Muhammad SAW. Para ulama menafsirkan Maqam Mahmud ini sebagai:
Pengaitan antara perintah Tahajjud dengan janji Maqam Mahmud ini menegaskan bahwa konsistensi dalam ibadah sunah, terutama yang dilakukan dalam keheningan malam, adalah jalan spiritual yang mendekatkan seorang hamba kepada keridhaan dan kemuliaan Ilahi.
Salat Tahajjud dilakukan setelah tidur, saat dunia tengah terlelap. Keutamaan ibadah pada waktu ini terletak pada beberapa aspek:
Melakukan ibadah ketika tubuh lelah dan hawa nafsu tidur sedang kuat menunjukkan tingkat kesungguhan dan keikhlasan yang tinggi. Tidak ada motivasi ria' (pamer) karena sedikit orang yang menyaksikannya.
Waktu sepertiga malam terakhir dikenal sebagai waktu turunnya rahmat Allah SWT dan terkabulnya doa. Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa Allah SWT turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir dan berfirman, "Siapa yang berdoa kepada-Ku, Aku akan mengabulkan doanya? Siapa yang meminta kepada-Ku, Aku akan memberinya? Dan siapa yang memohon ampunan kepada-Ku, Aku akan mengampuninya?"
Istiqamah dalam Tahajjud melatih seseorang untuk mengendalikan diri dari kemewahan duniawi (tidur nyenyak) demi meraih keberkahan ukhrawi. Ayat 79 ini, meskipun ditujukan kepada Nabi, menjadi aspirasi bagi setiap muslim untuk mencapai derajat spiritual tertinggi melalui ketekunan.
Bagi seorang mukmin, membaca dan merenungkan surat Al-Isra ayat 79 latin ini adalah pengingat bahwa kemuliaan sejati bukan diukur dari harta atau status duniawi, melainkan dari kualitas hubungan spiritual seseorang dengan Sang Pencipta, yang paling nyata terwujud melalui shalat yang dilakukan saat mayoritas manusia sedang terbuai dalam mimpi.
Meskipun Maqam Mahmud adalah kehormatan eksklusif Nabi, umat Islam dianjurkan mengambil semangat dari ayat tersebut. Spiritualitas yang dibangun melalui Tahajjud akan memancar dalam perilaku sehari-hari, membuat seseorang lebih sabar, lebih fokus, dan lebih mampu menghadapi tantangan hidup dengan hati yang tenang karena pondasi spiritualnya telah diperkuat di malam hari.
Untuk memulai, seseorang bisa membiasakan diri bangun 15 menit lebih awal dari waktu Subuh, berwudhu, dan melaksanakan salat sunah dua rakaat, dilanjutkan dengan membaca Al-Qur'an atau berzikir. Konsistensi kecil adalah kunci untuk membuka pintu rahmat yang dijanjikan dalam ayat yang agung ini.