Terjemahan: "Mudah-mudahan Tuhanmu akan melimpahkan rahmat-Nya kepadamu; dan jika kamu mengulangi (pelanggaran), niscaya Kami akan mengulangi (hukuman Kami) dan Kami jadikan neraka Jahannam penjara (yang sesuai) bagi orang-orang kafir."
Surat Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an yang sarat dengan pelajaran moral dan sejarah. Ayat ke-8 secara spesifik menutup bagian pertama dari ayat-ayat yang membahas tentang konsekuensi perbuatan manusia, terutama setelah menyinggung tentang kerusakan yang dilakukan oleh Bani Israil (sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat sebelumnya). Ayat ini berdiri sebagai penyeimbang yang krusial, menawarkan harapan besar di tengah peringatan keras.
Fokus utama dari Surat Al-Isra ayat 8 adalah penegasan konsep rahmat (kasih sayang) Allah SWT yang luas, namun tetap disertai dengan prinsip keadilan dan konsekuensi yang setimpal. Frasa kunci dalam ayat ini adalah "عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يَرْحَمَكُمْ" (Mudah-mudahan Tuhanmu akan melimpahkan rahmat-Nya kepadamu). Kata 'Asa' dalam konteks Al-Qur'an seringkali bermakna kepastian atau kemungkinan besar terjadinya sesuatu yang baik, bukan keraguan. Ini adalah janji terbuka bagi siapa pun—termasuk mereka yang pernah melakukan kesalahan—asalkan ada kesungguhan untuk kembali ke jalan yang benar.
Ayat ini menjelaskan dualisme mendasar dalam interaksi antara hamba dan Tuhan. Di satu sisi, ada rahmat yang selalu tersedia, sebuah samudera pengampunan yang siap menampung hamba-hamba-Nya yang bertaubat. Namun, di sisi lain, ada peringatan tegas: "وَإِنْ عُدتُّمْ عُدْنَا" (dan jika kamu mengulangi (pelanggaran), niscaya Kami akan mengulangi (hukuman Kami)).
Peringatan ini ditujukan sebagai ujian nyata bagi keikhlasan pertobatan. Jika seseorang mengaku menyesal namun kemudian kembali melakukan maksiat atau kerusakan yang sama, maka konsekuensi dari perbuatan tersebut pasti akan kembali menimpanya. Ini menunjukkan bahwa rahmat Ilahi bukanlah lisensi untuk berbuat dosa seenaknya, melainkan sebuah fasilitas yang diberikan kepada mereka yang berusaha keras untuk beristiqamah (konsisten di jalan kebenaran). Allah Maha Pengampun, namun juga Maha Adil.
Bagian penutup ayat, "وَجَعَلْنَا جَهَنَّمَ لِلْكَافِرِينَ حَصِيرًا," menggarisbawahi konsekuensi akhir bagi mereka yang keras kepala dalam kekafiran dan penolakan terhadap ayat-ayat Allah. Kata "حصيراً" (hasira) sering diterjemahkan sebagai 'penjara' atau 'tempat tahanan yang luas'. Ini menunjukkan bahwa neraka Jahannam disiapkan sebagai tempat yang benar-benar sesuai dan memadai bagi kondisi orang-orang kafir, tempat mereka akan terkurung tanpa jalan keluar.
Penyebutan neraka ini tidak bertujuan untuk menakut-nakuti semata, melainkan untuk menegaskan keseriusan pilihan yang dihadapi manusia. Jika rahmat adalah pilihan bagi orang yang bertaubat, maka neraka adalah konsekuensi yang tidak terhindarkan bagi mereka yang memilih untuk menolak rahmat tersebut secara sadar dan terus-menerus. Ayat ini mengajarkan bahwa setiap pilihan hidup memiliki konsekuensi yang telah ditetapkan oleh hukum alam dan syariat Allah.
Dalam konteks kehidupan modern yang penuh gejolak dan godaan, Surat Al-Isra ayat 8 menawarkan tiga pelajaran fundamental. Pertama, jangan pernah putus asa dari rahmat Allah. Selama nyawa masih dikandung badan, pintu taubat selalu terbuka lebar. Kedua, kesungguhan dalam memperbaiki diri harus diiringi dengan komitmen kuat untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Taubat yang sejati adalah taubat nasuha yang mencegah kita kembali terjerumus.
Ketiga, ayat ini mengingatkan tentang pentingnya menjauhi kekufuran dan penolakan terhadap kebenaran. Keputusan untuk menerima petunjuk Allah adalah kunci untuk meraih rahmat-Nya di dunia dan keselamatan-Nya di akhirat. Ayat 8 Al-Isra adalah penegasan bahwa Allah memberikan kesempatan emas melalui kasih sayang-Nya, tetapi Dia juga menetapkan batasan yang jelas berdasarkan keadilan-Nya bagi mereka yang melampauinya tanpa penyesalan. Oleh karena itu, marilah kita senantiasa berlindung di bawah naungan rahmat-Nya dengan berusaha keras menjadi hamba yang lebih baik setiap harinya.