Pelajaran dari Surat Al-Isra Ayat 97

Janji Ilahi Ilustrasi Kunci dan Tangan Melambangkan Kebaikan dan Janji Allah

Bunyi Ayat dan Terjemahannya

Surat Al-Isra (atau Bani Israil) ayat ke-97 adalah salah satu ayat kunci dalam Al-Qur'an yang menjelaskan tentang ganjaran bagi mereka yang menerima petunjuk Allah dan bagaimana balasan tersebut bersifat universal, selama petunjuk itu diikuti.

وَلَوْ نَشَاءُ لَأَذْهَبْنَا بِالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ مِنَ الْقُرْآنِ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ بِهِ عَلَيْنَا وَكِيلًا "Dan seandainya Kami kehendaki, niscaya Kami akan menghilangkan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Al-Qur'an), dan kamu tidak akan mendapatkan pelindung bagi dirimu terhadap Kami untuk (mengembalikan) wahyu itu."

Ayat ini seringkali dibahas bersamaan dengan ayat-ayat sebelumnya (ayat 95 dan 96) yang membahas tentang mengapa Allah mengutus para rasul dengan mukjizat yang beragam, termasuk mengapa Al-Qur'an tidak datang dalam bentuk visual atau benda yang lebih nyata bagi orang-orang kafir Mekah.

Konteks Penegasan Kekuasaan Mutlak Allah

Ayat 97 berfungsi sebagai penegasan mutlak atas kekuasaan Allah SWT. Allah menjelaskan bahwa Dia tidak hanya memiliki otoritas untuk menurunkan wahyu yang agung seperti Al-Qur'an, tetapi Dia juga memiliki kuasa penuh untuk mencabutnya kapan saja Dia berkehendak. Frasa "niscaya Kami akan menghilangkan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu" menunjukkan bahwa keberadaan Al-Qur'an di tengah umat manusia adalah murni anugerah dan kehendak Ilahi, bukan sesuatu yang wajib atau otomatis.

Poin penting yang ditekankan adalah: jika Allah menarik kembali wahyu-Nya, tidak ada satu pun pihak—termasuk Nabi Muhammad SAW sendiri—yang mampu memohon atau menjadi penjamin (wakil) untuk mengembalikannya. Ini menegaskan bahwa hubungan antara Allah dan wahyu-Nya adalah hubungan langsung, yang tidak dapat diganggu gugat oleh campur tangan makhluk mana pun.

Makna Perlindungan dan Tanggung Jawab Penerima Wahyu

Meskipun ayat ini mengandung unsur ancaman (bahwa wahyu bisa dicabut), konteks ayat-ayat sebelumnya menunjukkan bahwa ancaman ini ditujukan kepada mereka yang menolak kebenaran. Bagi orang yang beriman, ayat ini justru menjadi pengingat tentang betapa berharganya Al-Qur'an.

Jika Allah menghendaki kemudahan bagi hamba-Nya, Dia akan menjaga wahyu-Nya tetap ada dan mudah diakses. Namun, dengan adanya potensi pencabutan tersebut, muncul tanggung jawab besar pada umat Nabi Muhammad SAW untuk:

  1. **Mempertahankan Keaslian:** Menjaga kemurnian ajaran Al-Qur'an dari penyelewengan atau perubahan.
  2. **Mengamalkan:** Tidak menyia-nyiakan anugerah wahyu tersebut dengan mengabaikan perintah dan larangannya.
  3. **Menyebarkan:** Memastikan pesan tersebut terus tersampaikan kepada generasi selanjutnya.

Ketidakmampuan siapa pun untuk menjadi "pelindung" atau "wakil" bagi wahyu tersebut juga menyoroti bahwa urusan hidayah dan kitab suci adalah murni urusan antara Pencipta dan ciptaan-Nya. Manusia tidak bisa memaksakan kehendak kepada Allah mengenai ketetapan-Nya terhadap kitab-Nya.

Perbedaan dengan Ayat Tentang Keimanan

Seringkali, Surat Al-Isra ayat 97 disandingkan dengan ayat 98: "Kecuali karena rahmat Tuhanmu..." (yang menyatakan bahwa rahmat Allah membuat wahyu tetap ada). Namun, dalam konteks ayat 97 itu sendiri, fokusnya adalah pada penekanan otoritas absolut. Pesan ini mengajarkan kerendahan hati; betapa rapuhnya status Al-Qur'an di muka bumi jika bukan karena pemeliharaan khusus dari Allah.

Bagi seorang Muslim, kesadaran bahwa Al-Qur'an adalah titipan yang sewaktu-waktu bisa "ditarik" seharusnya memacu semangat untuk lebih intens dalam mempelajari, menghafal, dan mengamalkan ajarannya. Ini adalah bentuk syukur tertinggi atas karunia petunjuk yang tidak diberikan kepada semua umat manusia di masa lalu, di mana banyak nabi harus berjuang keras membuktikan kebenaran wahyu mereka.

Intinya, Surat Al-Isra ayat 97 adalah sebuah kalimat penutup yang kuat mengenai kedaulatan Allah atas firman-Nya, sekaligus menjadi motivasi bagi umat Islam untuk menghargai dan menjaga Al-Qur'an sebagai mukjizat terbesar hingga akhir zaman.

🏠 Homepage