Surat Al-Isra dan Keutamaan Shalat Tahajud

Ilustrasi Malam dan Ibadah Gambar visual bulan sabit di langit malam, masjid dengan penerangan, dan seseorang yang sedang berdoa. Tahajud

Kedudukan Shalat Tahajud dalam Al-Qur'an

Shalat Tahajud, atau shalat malam, merupakan amalan sunnah yang sangat ditekankan dalam ajaran Islam. Meskipun secara spesifik kata "Tahajud" tidak selalu muncul di setiap ayat yang membicarakan shalat malam, landasannya sangat kuat, terutama dalam konteks perintah untuk menghidupkan malam dengan ibadah. Salah satu sumber utama yang sering dikaitkan dengan urgensi ibadah malam adalah Surat Al-Isra.

Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Isra'il, mengandung ayat yang memerintahkan Rasulullah SAW dan umatnya untuk melaksanakan ibadah pada waktu tertentu di malam hari. Ayat ini tidak hanya sekadar anjuran, melainkan sebuah ketetapan yang memiliki kedudukan tinggi dalam ibadah seorang Muslim.

Ayat Kunci dalam Surat Al-Isra Mengenai Ibadah Malam

Ayat yang paling sering dirujuk ketika membahas shalat malam adalah firman Allah SWT dalam Surat Al-Isra ayat 78:

"Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula) Qur’an subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat-malaikat)." (QS. Al-Isra: 78)

Meskipun ayat ini mencakup shalat wajib seperti Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya, dan Subuh, bagian "sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam" merujuk pada rentang waktu shalat Isya dan waktu-waktu setelahnya hingga menjelang Subuh. Secara umum, para ulama menafsirkan bahwa periode malam hari setelah shalat Isya hingga sebelum Subuh adalah waktu utama untuk melaksanakan shalat Tahajud.

Waktu Terbaik untuk Tahajud

Waktu utama shalat Tahajud adalah sepertiga malam terakhir. Para ulama sepakat bahwa periode ini adalah waktu yang paling utama karena kedekatan seorang hamba dengan Rabb-nya. Surat Al-Isra menegaskan pentingnya periode malam sebagai waktu yang istimewa. Ketika malam telah larut dan kebanyakan manusia terlelap dalam tidur, seorang mukmin yang bangkit untuk shalat menunjukkan tingkat keikhlasan dan keteguhan iman yang luar biasa.

Keutamaan ini juga dikuatkan oleh ayat lain dalam Al-Qur'an, meskipun bukan di Al-Isra, seperti dalam Surat Al-Muzzammil ayat 2-4 yang berbunyi, "Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) malam, kecuali sedikit (daripadanya), yaitu separuhnya atau kurang sedikit dari itu, atau lebih dari sepertiganya, dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan." Ayat-ayat ini bersama dengan konteks perintah ibadah malam dalam Al-Isra menegaskan struktur ibadah malam.

Manfaat Spiritual dan Keutamaan Tahajud

Mengapa shalat Tahajud begitu ditekankan? Selain menjadi bentuk ketaatan langsung kepada Allah SWT, shalat ini memiliki dampak signifikan pada kualitas spiritual seseorang. Bangun di tengah malam membutuhkan perjuangan melawan hawa nafsu untuk tetap tidur, sebuah jihadun nafs (perjuangan melawan diri sendiri) yang sangat bernilai di sisi Allah.

Surat Al-Isra mengajarkan bahwa malam adalah waktu di mana hati dan pikiran lebih jernih, bebas dari hiruk pikuk dunia siang hari. Ayat-ayat yang memerintahkan ibadah malam menyoroti ketenangan dan kontemplasi yang lebih mendalam. Shalat Tahajud adalah sarana untuk memohon ampunan, meningkatkan kedekatan, dan memohon hajat kepada Allah dengan penuh ketenangan.

Bagi Rasulullah SAW, shalat malam adalah kewajiban yang membantu beliau menanggung beban dakwah. Bagi umatnya, ini adalah kesempatan untuk mengikuti sunnah beliau dan meraih kemuliaan yang dijanjikan Allah bagi hamba-hamba-Nya yang taat di waktu sunyi.

Kesimpulan Penting

Surat Al-Isra memberikan landasan penting mengenai pentingnya menghidupkan malam dengan ibadah. Meskipun ayat 78 berbicara tentang rentang waktu shalat lima waktu, pemahaman yang berkembang dari para mufassir menempatkan ibadah di sepertiga malam terakhir (Tahajud) sebagai puncak dari amalan malam. Melaksanakan shalat Tahajud secara konsisten adalah cerminan nyata dari komitmen seorang Muslim untuk mencari keridhaan Allah, bahkan ketika mata orang lain terpejam.

🏠 Homepage